Khutbah Jumat: Kontekstualisasi Makna Kurban

120
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Dosen Pascasarjana KPI FIDKOM
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dalam konteks historis Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Siti Hajar terbukti telah mampu meniadakan rasa cinta dunia untuk menggapai cinta akhirat. Mereka rela mengorbankan sang anak, yakni Nabi Ismail, karena perintah Allah yang mereka yakini ada dan hadir di tengah mereka. Keyakinan akan Ke-Maha-Hadiran-Nya secara profan inilah yang dikatakan oleh filosof Jerman Max Scheler, sebagai dasar aktifitas ruhaniah manusia. Jadi kurban sedianya menjadi media efektif untuk melatih diri agar selalu erat dan dekat kepada Allah.

Masalahnya kini, apakah rangkaian Idul Adha termasuk penyembelihan hewan ternak telah benar-benar menimbulkan kesadaran spiritual atau batiniah umat ataukah sekedar mode, ikut-ikutan, dan sesuatu yang terjadi berulang-ulang saja?

Kalaulah jawabannya adalah yang kedua, berarti kita patut untuk menata kembali pemahaman kita mengenai hakikat kurban. Secara tak sadar, kita saat ini telah terjebak dalam gerak tubuh dan lambang keagamaan yang justru akan menempatkan kita pada ruang gelap-suram. Sehingga pesan spiritual ibadah kurban tidak mampu dilihat, baru sekadar dikira dan diraba.

Misalnya, titah Allah tentang nash kurban dalam surat al-Kautsar/108 ayat 1-2 yang maknanya “Sesungguhnya, telah kami tebarkan nikmat yang banyak kepadamu. Maka, dirikanlah shalat dan berkurbanlah”.

Ayat di atas, tentunya terbuka untuk ditafsirkan sesuai dengan konteks sosial budaya kemasyarakatan tertentu sebagai upaya menyelami makna terdalam al-Qur’an. Sehingga kurban, saat ini, bisa jadi amat berbeda dengan apa yang keluarga Nabi Ibrahim laksanakan sebagai kelompok masyarakat pastoralis (kelompok masyarakat peternak) saat itu. Mereka menilai daging (hewan ternak) merupakan hewan berharga sehingga patut dikurbankan sebagai bukti ketaatan kepada Allah.

Artinya, perintah penyembelihan, bila dibaca secara “teologis-radikal” sebenarnya mengisyaratkan agar manusia “menyembelih” perbuatan jahat dan tabiat buruknya. Dalam konteks berbangsa dan bernegara saat ini, kontekstualisasi kurban terletak pada kesediaan untuk “menyembelih” nafsu angkara-murka, kemudian bergerak mengoreksi ranah kehidupan sosial, ekonomi, panggung politik, lembaga pengadilan dan aparat keamanan, serta mereka yang memanggul amanah rakyat di lembaga legislatif dan eksekutif.

Jadi kurban merupakan prosesi “penyembelihan” potensi sebagai pembohong, pengkhianat, penipu, perampok, curang, dusta, sumpah palsu, manipulasi, dan memperjual-belikan hukum.
Dalam kaitan di atas, kiranya perlu disimak firman Allah yang menegaskan, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan kamulah yang dapat mencapainya” (QS. al-Hajj/22:37).

Maksudnya, mesti dipahami bahwa kurban memiliki segi spiritual yang dapat dikembangkan dan diolah, sehingga pemahaman terhadapnya bukanlah sekadar terhadap hal-hal yang bersifat ragawi atau bendawi saja. Hakikat kurban terdalam bukanlah terletak pada rangkaian ibadah mulai dari shalat Idu Adha sampai penyembelihan hewan kurban dan gema takbir yang mengiringinya.

Karena itu, kebersihan jiwa, keikhlasan beramal, sesungguhnya untuk mendapat ridha Tuhan dalam ibadah kurban, kiranya, menjadi prasyarat tersirat yang jika tidak dimiliki akan membuat perbuatan tersebut sia-sia. Atau pengorbanan tersebut akhirnya sekadar menjadi lipstik belaka. Kesalehan yang diraihpun hanyalah kesalehan simbolik semata.

Dari segi sosial dan kemanusiaan, peristiwa kurban memiliki makna yang amat penting. Selain akan mengubur semangat individualistis dan tradisi memamerkan kekayaan yang kian tumbuh subur saat ini, secara nyata masyarakat miskin dan tidak mampu akan merasa “tergembirakan” hatinya dengan menerima hewan kurban.

Tentunya, peristiwa ini akan dapat menumbuhkan solidaritas kemanusiaan di antara sesama secara berkelanjutan. Dalam kehidupan nyata di negeri kita saat ini, misalnya memberikan bantuan sembako, bantuan dana untuk program pengembangan usaha menengah, kecil dan koperasi, dan pasar murah.

Jadi, tujuan tertinggi kurban tidak hanya menggantung di langit, tapi juga berakar dengan kokoh di bumi.|*

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here