Aduh…Ratusan Undangan Sudah Disebar, Hajatan Dilarang Lagi

583
Sebuah undangan yang telah disebar oleh warga Parung Bingung

Margonda | jurnaldepok.id
Pemerintah Kota Depok kembali melarang kegiatan resepsi (hajatan) pernikahan/khitanan bagi masyarakat Kota Depok. Hal itu dilakukan karena terjadi peningkatan kasus Covid-19 di Kota Depok.

Dimana penambahan kasus harian pada tanggal 20 Juni 2021 sebanyak 653 kasus, sehingga total kasus aktif saat ini berjumlah 4.241 kasus atau 7,75%. Positivity rate mencapai 38,29% dan tingkat keterisian rumah sakit untuk ruang ICU mencapai 96,36% dan ruang isolasi mencapai 86,37%.

“Dengan kondisi tersebut, Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kota Depok mengambil langkah
Kebijakan Pengetatan PPKM di Kota Depok yang dimuat dalam Keputusan Wali Kota Depok nomor 443/249/Kpts//Dinkes/Huk/2021 antara lain resepsi pernikahan/khitanan, hanya diperkenankan untuk akad nikah dihadiri keluarga inti maksimal 30 orang dan untuk khitanan 20 orang,” ujar Mohammad Idris, Wali Kota Depok melalui Juru Bicara Satgas Covid-19 Kota Depok, Dadang Wihana, Senin (21/6).

Tak hanya itu, kegiatan di fasilitas umum dan ruang pertemuan (gedung pemerintah, swasta dan masyarakat), seluruhnya ditutup. Kegiatan-kegiatan lainnya yang mengumpulkan massa dan kegiatan kerumunan, sementara dihentikan.

Untuk kegiatan rapat, pertemuan, bimtek, workshop dan sejenisnya dilaksanakan secara daring termasuk kegiatan seni, budaya komunitas dan pertemuan-pertemuan dilaksanakan secara daring.

“Kegiatan olah raga hanya dilakukan yang bersifat mandiri. Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara daring. Penerimaan kunjungan kerja dan perjalanan dinas ke luar Depok untuk sementara dihentikan. Untuk tamu keluarga dari luar Depok maksimal 5 orang,” ungkapnya.

Sementara, sambungnya, sektor esensial beroperasi 100% dengan pengaturan protokol kesehatan secara ketat serta Bekerja dari Rumah atau WFH 75% dan WFO 25%, WFH bukan liburan.

“Pusat perbelanjaan/mall/supermarket/midi market/minimarket, beroperasi sampai dengan pukul
19.00 WIB, dengan kapasitas 30%. Pasar Rakyat/Pasar Tradisional beroperasi dari pukul 03.00 WIB sampai dengan pukul 18.00 WIB, dengan kapasitas 30%,” paparnya.

Untuk restoran/kafe/warung makan/pedagang kaki lima dan sejenisnya, hanya boleh take away atau dibawa pulang, tidak diperbolehkan makan dan minum di tempat.

“Taman/tempat wisata/wahana keluarga/tempat permainan anak/kolam renang/wahana ketangkasan/bioskop dan sejenisnya untuk sementara ditutup.,” jelasnya.

Sementara untuk kegiatan keagamaan, tempat ibadah hanya untuk ibadah wajib dengan kapasitas maksimal 30%.

“Untuk penguburan jenazah/ takziyah/tahlilan diikuti oleh keluarga maksimal 15 orang. Pengajian rutin, subuh keliling dan ibadah bersama di luar tempat ibadah untuk sementara ditiadakan. aktivitas warga dibatasi sampai dengan pukul 21.00 WIB,” tukasnya.

Selain itu pihaknya juga mengatur transportasi umum, maksimal 50% dengan waktu operasional dibatasi sampai pukul 22.00 WIB

“Pemberlakuan kebijakan pengetatan PPKM ini disesuaikan dengan periode PPKM Mikro saat ini,
yaitu sampai dengan tanggal 28 Juni 2021 dan akan dievaluasi kembali secara dinamis untuk
kebijakan selanjutnya,” terangnya.

Sementara itu warga Parung Bingung, Pancoran Mas, Rihadi BS yang telah menyebar ratusan undangan untuk acara pernikahan putrinya saat ini merasa galau.

“Yang namanya mau hajatan pasti kan sudah direncanakan jauh-jauh hari, bukan satu atau dua minggu. Saya merencanakan ini sejak enam bulan lalu, karena menyangkut perlengkapan. Undangan sudah disebar kurang lebih 750 undangan,” ungkapnya.

Namun begitu, pria yang akrab disapa Oting akan tetap menggelar resepsi pernikahan putri pertamanya yang akan dilangsungkan, Sabtu (26/6).

“Tetap berjalan, undangan sudah terlanjur disebar. Kami akan mematuhi protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah,” pungkasnya. n Rahmat Tarmuji

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here