Wali Kota Berduka, Miliki Kenangan Manis Bersama Almarhum KH Burhanuddin

100
Wali Kota Depok saat memimpin doa di makam KH Burhanuddin Marzuki

Cipayung | jurnaldepok.id
Wali Kota Depok, Mohammad Idris berduka atas berpulangnya ke rahmatullah KH Burhanuddin Marzuki, Pengasuh Pondok Pesantren Qotrun Nada, Cipayung, Depok.

“Innalillahi Wainnailahi Rojiun, atas nama pribadi dan pemerintah kota kami berduka. Sebenarnya almarhum ini kalau dari urutan Ayahanda KH Marzuki kenalan baik dengan Bapak saya dulu, teman bermain. Jadi enggak asing, almarhum bagian dari keluarga kami juga,” ujar Idris seusai bertaziah, Selasa (15/6).

Ia menambahkan, almarhum merupakan sosok yang konsisten baik dalam mengasuh pondok pesantren maupun sebagai mubaligh di tengah masyarakat.

“Almarhum juga sebagai seorang aktivis di Jakarta dan mengurus ponpes juga, sehingga memang itulah duka kami, dan kesalahan kami kurang perhatian terhadap fisik beliau. Karena beliau mengutamakan dakwah, duka kami yang mendalam dari sisi itu,” paparnya.

Idris juga menilai, almarhum memiliki santri yang banyak dan jaringan yang kuat baik di dalam maupun di luar negeri. Bahkan, kata dia, KH Syukron Ma’mun juga sudah mengarahkan kepada almarhum untuk mengembangkan Pesantren Qotrun Nada agar kedepan bisa go public.

“Ini salah satu yang diwacanakan menjadi pondok pesantren terbesar di Kota Depok. Mudah-mudahan dengan karya-karya dan ilmu yang disampaikan almarhum baik ke santri maupun masyarakat menjadi bagian amal jariah yang tidak terputus,” ungkapnya.

Lebih lanjut Idris mengenal KH Burhanuddin sebagai sosok yang tidak banyak bicara. Namun, ketika sudah diajak berdialog terlebih menyangkut tema keislaman yang menurut almarhum kurang pas, maka ia tak segan untuk mengkritik dan memberikan pandangannya.

“Yang paling sering masalah fiqih dan permasalahan peradaban yang mungkin banyak orang tidak mengetahuinya. Jadi saya kenal almarhum sebelum banyak santrinya, ia sebagai seorang aktivis dan sempat bertemu di Jakarta,” katanya.

Idris juga mengenang beberapa momen bersama almarhum pada saat mengaji fiqih setiap malam Rabu kala itu.

“Yang paling terkesan ketika saya dipanggil malam hari bersama KH Syarif Zainal untuk buka-bukan pemikiran keislaman dan tantangan Islam di masa mendatang. Ternyata wawasan almarhum luar biasa terkait itu,” pungkasnya. n Rahmat Tarmuji

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here