Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Diperiksa Kejaksaan, Statusnya Terperiksa

19
Gandara saat mendatangi Kejaksaan Negeri Kota Depok

Kota Kembang | jurnaldepok.id
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Depok, R Gandara Budiana kemarin memenuhi panggilan Kejaksaan Negeri Depok, Selasa(15/6). Berdasarkan pantauan di Kejaksaan Negeri Kota Depok, Gandara tiba pukul 09.00 WIB seorang diri.

Gandara mendatangi Kejaksaan Negeri Kota Depok untuk memberikan keterangan terkait dugaan korupsi yang terjadi di dinasnya. Saat ditanya oleh sejumlah wartawan, Gandara tidak memberikan komentar.

Ia memilih bergegas masuk ke ruuang penyidik Seksi Tindak Pidana Khusus (Tipidsus) Kejari Depok. Setelah beberapa jam kemudian, sekira pukul 12:17 WIB, Gandara keluar dari gedung tersebut. Namun sayangnya ia pun enggan berkomentar banyak ketika sejumlah jurnalis melontarkan pertanyaan.

“Mau Sholat dulu,” ujarnya.

Sementara itu Kasie Intel Kejari Depok, Herlangga Wisnu Murdianto mengatakan Kejari Depok khususnya tim jaksa penyelidik dari seksi tindak pidana khusus melakukan pemanggilan terhadap tujuh orang yang akan diperiksa dalam tahap penyelidikan kasus dugaan tipikor di DPKP Kota Depok.

“Salah satunya yang ikut dipanggil adalah kepala dinas, atas nama inisial GB,” jelas Herlangga.

Pemanggilan itu, kata dia, terkait dengan laporan yang diterima pihaknya dari masyarakat beberapa waktu lalu. Terkait statusnya, kata Herlangga, GB masih berstatus orang yang datang untuk memberikan keterangan dan belum saksi karena masih terperiksa.

“Hingga kini total orang yang dipanggil sudah 50 orang. Masih dalam penyeldiikan sehingga status orang yang akan memberikan keterangan adalah orang yang statusnya masih terperiksa. Hingga hari kemarin sesuai rekap hampir 50 orang,”katanya.

Kasus ini kata Herlangga masih dalam tahap penyelidikan.

“Jadi tim jaksa penyelidik kami masih mencari dan menemukan ada atau tidaknya peristiwa pidana dalam kasus tersebut. Surat perintah yang diterbitkan oleh kepala kejari untuk penyelidikan jangka waktu 30 hari,” jelasnya.

Namun apabila dalam 30 hari tersebut belum selesai atau dari tim jaksa penyelidik belum menemukan kesimpulan, maka sprin tersebut dapat diperpanjang.

“Saat ini sudah berjalan kurang lebih 23 hari,” ungkapnya.

Herlangga menegaskan dalam mendalami kasus ini pihaknya tidak menemukan kendala yang berarti. Pihaknya tetap bersikap profesional dan independen dalam menangani perkara.

“Kesulitannya adalah waktu. Yang pertama adalah itu kemudian orang yang diperiksa ya bisa dikatakan banyak, seperti kemarin di intelijen saja 30 hari itu kita memeriksa hampir sekitar 60 orang. Sedangkan, intensitas pekerjaan kan tidak hanya laporan itu, jadi kita harus mengatur waktu supaya waktu yang kita miliki tepat guna untuk menemukan peristiwa pidana tersebut,” ungkapnya.

Sebelumnya puluhan orang sudah diminta keterangan oleh Seksi Intelejen. Kemudian setelah kasusnya dilimpahkan ke Seksi Pidana Khusus maka pemeriksaan dimulai dari awal lagi.

“Jadi setelah dilimpahkan mulai dari nol lagi. Jadi Seksi Pidana Khusus akan menginventaris orang-orang yang telah dipanggil di Intelijen, mana yang dianggap perlu untuk memberikan keterangan, itulah yang dipanggil,” pungkasnya. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here