Khutbah Jumat: Memperteguh Iman Kepada Allah (2)

43
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Dosen Pascasarjana KPI FIDKOM
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Syaikh Nawawi Banten menulis dalam bukunya Syarah Qathrul Ghaits bahwa beriman kepada Allah SWT itu ada tiga bagian. Pertama, iman taqlidi. Kedua, iman hakiki. Ketiga, iman istidlali. Iman taklidi adalah meyakini Allah Maha Esa karena mengikuti perkataan ulama tanpa memiliki argumentasi sendiri. Namun begitu sah keimanannya. Seperti sebagaimana telah diuraikan di minggu lalu.

Sedangkan perkara yang jaiz adalah sesuatu yang mungkin terjadi atau tidak terjadi. Misalnya Allah SWT menyiksa orang yang taat beribadah yang tidak berbuat dosa sama sekali kepada-Nya. Sedangkan mustahil adalah perkara yang tidak mungkin wujudnya seperti syirik (menyekutui/menyerupai/menyamai) kepada Allah SWT.

Dalam pandangan Syaikh al-Sanusi dalam Syarah Ummul Barahin yang sangat terkenal, wajib adalah sesuatu yang tidak tergambarkan ketidakadaannya di dalam akal. Lalu jaiz adalah sesuatu yang bisa terjadi wujud dan ketiadakadaannya di dalam akal. Sedangkan mustahil adalah sesuatu yang tidak tergambarkan wujudnya di dalam akal.

Kesimpulannya, tulis Syaikh Nawawi Banten dalam Syarah Tijan al-Dharari, pengetahuan Allah SWT meliputi semua yang berjalan di dasar bumi, pun yang bergerak di tujuh petala langit. Tak luput dari pengetahuan-Nya benda sebesar atom baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. Termasuk semua langkah makhluk hidup seperti semut.

Beriman kepada Allah SWT mewajibkan juga meyakini bahwa Allah Maha Berkuasa dengan kekuasaan yang qadim yang berdiri tegak dengan Zat-Nya dan tanpa perantara. Menurut Syaikh Nawawi Banten dalam Syarah Qathrul Ghaits, di dalam kekuasaan Allah SWT tidak terdapat satu kelemahan sama sekali, tidak seperti kekuasaan manusia.

Terkait dengan hal ini, Allah SWT berfirman, “Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. al-Baqarah/2: 284). Makna Allah Maha Berkuasa dalam ayat ini adalah Allah SWT berkuasa melakukan perhitungan amal dan memberikan balasan.

Cara beriman kepada Allah SWT yang berikutnya adalah meyakini bahwa Allah Berkehendak dengan kehendak yang qadim. bagi Syaikh Muhammad al-Fudhali dalam Kifayatul ‘Awam, Allah Maha Berkehendak berdiri tegak dengan Zat-Nya dalam keadaan tidak maujud dan tidak ma’dum dan Allah SWT dinamakan dengan Hal Maknawiyah.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki” (QS. Hud/11: 107). Bagi Syaikh Bawawi Banten dalam Syarah Tijan al-Dharari, seandainya Allah SWT bukan Zat Yang Berkehendak, maka pasti realitas ini tidak ada. Tentu hal ini adalah mustahil. Sebab nyatanya, realitas dapat dirasakan keberadaannya.

Selanjutnya, cara beriman kepada Allah SWT adalah meyakini bahwa Allah Maha Mendengar. Sifat Allah Maha Mendengar ini juga bisa berarti mengabulkan, atau merespons secara akurat tentang sesuatu yang tampak, tidak kasat mata, kasar dan halus, jauh atau dekat, terang-gelap dan bahkan terdengar atau tidak terdengar.

Maksudnya, Allah SWT mendengar secara pasti setiap bunyi, tanpa alat, setiap suara yang sangat halus sekalipun. Di ujung benua terjauh, di tengah hiruk-pikuk dan pekaknya dunia suara, Allah SWTmenangkap suara gesekan pohon di rimba, tetesan air, desah napas angin, ombak, dan turun-naik semua makhluk-Nya secara pasti dan terukur.

Allah SWT berfirman, “Di sanalah Zakariya berdoa kepada Tuhannya seraya berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar Doa” (QS. Ali Imran/3: 38). Begitu juga, “Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa” (QS. Ibrahim/14: 39).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here