Khutbah Jumat: Memperteguh Iman Kepada Allah (1)

162
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Dosen Pascasarjana KPI FIDKOM
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Syaikh Nawawi Banten menulis dalam bukunya Syarah Qathrul Ghaits bahwa beriman kepada Allah SWT itu ada tiga bagian. Pertama, iman taqlidi. Kedua, iman hakiki. Ketiga, iman istidlali. Iman taklidi adalah meyakini Allah Maha Esa karena mengikuti perkataan ulama tanpa memiliki argumentasi sendiri. Namun begitu sah keimanannya.

Iman hakiki adalah mengikat hati bahwa Allah Maha Esa (tanpa bisa dipengaruhi oleh apapun). Iman istidlali adalah beriman dengan cara mencari bukti mengenai yang dibuat akan adanya yang membuat. Karena adanya buatan menunjukkan adanya yang membuat (yakni Allah SWT). Keimanan seorang muslim harus beranjak dari taklidi hingga istidlali.

Mengenai Allah Maha Esa, maksudnya, seperti diungkap Syaikh Nawawi Banten, Allah SWT itu tunggal dengan sifat-sifatnya dan tidak ada yang menyekutui-Nya. Dalam kitabnya Nurudz Dzalam, Syaikh Nawawi Banten menyebut bahwa sifat yang wajib bagi Allah SWT ada dua puluh. Begitu juga bagi Syaikh Muhammad al-Fudhali dalam Kifayatul ‘Awam.

Menurut Syaikh al-Fasani dalam al-Majalisus Saniyah, beriman dengan ke-Maha-Esa-an Allah SWT harus dipahami bahwa Allah SWT bersendirian di dalam kerajaan-Nya, termasuk pengaturan kerajaan tersebut. Allah SWT itu Maha Esa dalam Zat-Nya dan Maha Esa dalam sifat-sifat-Nya. Maha Esa dalam perbuatan-Nya, dan Maha Esa dalam segala perkataan-Nya.

Dalam Bahzatul Wasail, Syaikh Nawawi Banten menulis ulang cerita Imam al-Ghazali tentang cara mengenal Allah SWT yang didapatnya dari keterangan seorang pemuda ketika beliau bertanya kepada pemuda itu, “Bagaimana caramu mengenal-Nya? Pertama, jawab pemuda itu, Aku meng-Esa-kan-Nya dan tidak mendefinisikan-Nya.

Kedua, Aku menyembah Allah SWT dan aku tidak pernah untuk menggambar bentuk hakikat Zat-Nya. Ketiga, apa saja yang terlintas dalam benakku atau pemahamanku yang mencoba untuk menjelaskan hakikat Zat-Nya, maka dengan sesungguhnya aku meyakini bahwa Allah SWT berbeda dengan semua yang aku pikirkan atau aku angankan.

Kesimpulannya, seperti diungkap Syaikh Nawawi Banten dalam Qaimuth Tughyan, salah satu cabang iman itu adalah beriman kepada Allah Maha Esa, tidak ada sekutu bagi Allah SWT. Tidak pula ada yang menyerupai-Nya. Tidak ada bandingan bagi-Nya. Allah SWT itu kekal, tidak ada permulaan bagi wujud-Nya dan tidak ada akhir bagi keabadian-Nya.

Selanjutnya, Allah Maha Hidup. Artinya, tulis Syaikh Nawawi dalam Syarah Qathrul Ghaits, hidupnya Allah SWT itu terdahulu (qadim). Allah SWT tegak dengan Zat-nya. Dalam kitabnya yang lain, yakni Syarah Tijan al-Dharari, Syaikh Nawawi Banten menulis tidak boleh meyakini Allah SWT punya ruh. Allah SWT Maha Hidup dengan Zat-Nya, tanpa ruh.

Artinya, Allah SWT tidak terkena hukum mati. Berbeda dengan hidup semua makhluk. Kalau Allah SWT hidup dengan ruh, artinya Allah SWT terkena hukum mati, dan hal ini mustahil bagi Allah SWT. Ruh itu sendiri, menurut Syaikh Nawawi Banten dalam Fathul Majid, adalah suatu jisim yang lembut yang bercampur dengan badan.

Berikutnya, Allah Maha Mengetahui dengan ilmu yang qadim yang berdiri tegak dengan Zat-Nya. Pengetahuan Allah SWT meliputi semua perkara yang wajib dan yang jaiz, dan yang mustahil. Bagi Syaikh Nawawi Banten dalam Syarah Tijan al-Dharari, yang dimaksud wajib adalah sesuatu yang tidak mungkin ketiadaannya seperti Zat Allah SWT.*

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here