Gara-gara Ucapannya Terkait Kasus Babi Ngepet, Wati Akhirnya Diusir Warga

188
Terlihat kosong rumah kontrakan Wati yang berada di Desa Ragajaya

Bojonggede | jurnaldepok.id
Wati, seorang wanita yang menuduh tetangganya sebagai Babi Ngepet akhirnya diusir oleh warga di RW 10 Kampung Baru, Desa Ragajaya, Kecamatan Bojonggede.

Ketua RW setempat, Syarif Nurzaman mengatakan ucapan Wati membuat warganya kesal. Warga merasa tidak terima dengan ucapan Wati itu.

“Benar diusir enggak ada hal-hal yang direkayasa, memang saya melihat dengan mata kepala saya sendiri. Warga sebelum kerumahnya Bu Wati,” ujarnya, kemarin.

Dia mengatakan, warga mengusir Wati karena sudah merusak nama baik kampung. Bahkan Wati juga dianggap tidak menyesali perbuatannya.

“Jadi berdasarkan ketidakpuasan warga Kampung Baru yang merasa tidak puas dengan klarifikasi Ibu Wati, dengan ekspresi Ibu Wati yang kesannya tidak berdosa, tidak bersalah. Nah itu malah memancing warga lebih gregetan lah gitu,”katanya.

Mulanya, kata dia, warga yang hendak mengusir Wati secara langsung dengan datang ke rumahnya. Namun Syarif melarang karena khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan.

“Saya tanya apa yang mau dilakukan, mereka bilang ada yang mau lapor ada yang mau geruduk, akhirnya saya lerai. Kata saya jangan, lebih baik cari solusi terbaik, warga akhirnya minta Bu Wati diusir dari kampung sini,” paparnya.

Kemudian dirinya yang mendatangi rumah Wati. Dia menjelaskan maksud kedatangannya pada Wati, namun reaksi Wati tidak terima saat itu.

“Dia (Wati) tidak terima, dia mencak-mencak, ngamuk-ngamuk dan bahkan dia mencoba bunuh diri. Namun setelah diajak bicara pelan-pelan akhirnya Wati pun menerimanya. Dia pun akhirnya pergi dari rumah kontrakannya. Kini rumah tersebut sudah kosong,” ungkapnya.

Sebelumnya Wati sempat menjadi perbincangan di media sosial lantaran menuduh tetangganya adalah sosok Babi Ngepet hingga dia datang ke Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan.

Di Bedahan, Wati mengatakan tetangganya ada yang tidak pernah keluar rumah namun kaya. Ucapan Wati itu terlontar begitu saja tanpa bukti yang kuat.

Ketika diketahui bahwa Babi tersebut adalah seekor Babi hutan benaran, Wati pun menjadi buah bibir. Pasalnya apa yang telah diucapkannya tidak terbukti. Bahkan warga sekitar tempat tinggal Wati merasa kesal dan mengusirnya dari rumah kontrakan.

Sementara itu AI yang ditetapkan sebagi penyebar berita hoax atau bohong Babi Ngepet di Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan dijerat pasal 14 ayat 1 atau 2 UU Nomor 1 tahun 1946 dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara.

Kapolres Metro Depok, Komisaris Besar Polisi Imran Edwin Siregar kepada wartawan mengatakan Satuan Reskrim Polres Metro Depok bersama Unit Reskrim Polsek Sawangan akhirnya berhasil menangkap pelaku yang membuat berita hoax Babi Ngepet.

Dari hasil penyelidikan anggotanya di lapangan, AI warga Bedahan ditetapkan sebagai tersangka berita bohong atau hoax tentang Babi Ngepet.

“Kami sampaikan bahwa semuanya yang sudah viral tiga hari sebelumnya adalah hoax, itu berita bohong. Sebenernya yang kejadian itu tidak seperti apa yang diberitakan tiga hari yang lalu,” pungkasnya. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here