Merasa Kurang Terkenal & Ingin Ditokohkan, Motif Ustad AI Nekat Beli ‘Babi Ngepet’

1176
AI, pelaku penyebar hoax Babi Ngepet saat diamankan di Polres Metro Depok

Margonda | jurnaldepok.id
Aparat Kepolisian Polsek Sawangan dan Polres Metro Depok menetapkan satu warga di Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan, menjadi tersangka kasus dugaan Babi Ngepet.

Kapolres Metro Depok, Kombes Pol Imran Edwin Siregar, Kamis (29/4) kepada wartawan mengatakan, satu orang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus berita bohong terkait Babi Ngepet yang viral di kawasan Bedahan Sawangan.

“Yang diamankan AI, tersangka melakukan hal tersebut dengan motif ingin menjadi lebih terkenal, ditokohkan, popuper di kampungnya,” ujar Imran, kemarin.

Dikarenakan, sambungnya, selama ini sebagai tokoh masyarakat ternyata dia tidak terlalu terkenal di kampungnya.

“Tujuannya supaya lebih terkenal di kampungnya. Karena ini (tersangka) merupakan salah satu tokoh lah. Tapi tokoh juga tidak terlalu terkenal supaya dia dianggap saja. Tokoh masyarakat lah,” paparnyanya.

Karena ingin terkenal, kata dia, maka AI bersama rekan-rekannya merencanakan menyebar berita bohong itu sejak Bulan Maret 2021 lalu.

“Dia bekerjasama dengan teman-temannya berjumlah delapan orang. AI bersama delapan temannya akhirnya membuat skenario atau cerita seolah melihat tiga orang turun dari motor dan salah satunya berjubah. Tim mereka yang berjumlah delapan orang tadi, seolah-olah mengarang cerita ada tiga orang,” ungkapnya.

Dikatakan Imran, satu orang turun tanpa menapakkan kaki kemudian keduanya pergi naik motor tiba-tiba satu setengah jam berubah jadi Babi padahal itu tidak benar.

“Dari pengakuan AI kepada anggota kami cerita tersebut sudah dikarang bersama timnya hingga membuat warga setempat percaya akan adanya Babi Ngepet. Tiga orang tersebut seolah-olah membawa babi ngepet, akan tetapi Babi tersebut dibeli secara online seharga Rp 900 ribu ditambah ongkos kirim Rp 200ribu. Dia patungan dengan temannya,” jelasnya.

Ditegaskan Imran, otak dari berita bohong ini adalah AI. Dia bekerjasama dengan delapan orang temannya.

“Masing-masing orang memiliki peranan. Ada yang menangkap sampai mengaku telanjang untuk menangkapnya, padahal tidak telanjang, yang membunuh babinya, menguburkan, perannya sudah ada. Hanya buka baju aja. Kalau di cerita video yang viral kan mereka telanjang bulat,” terangnya.

Dari kasus itu Polisi mensita belasan telepon genggam, gambar atau video dan Babi tersebut. Atas kasus ini AI pun mendekam di sel. Dia dijerat pasal 14 ayat 1 atau 2 UU Nomor 1 tahun 1946 ancaman hukuman 10 tahun.

Imran mengimbau kepada masyarakat Kota Depok untuk tetap tenang dan menjaga kondusif lingkungannya apalagi saat ini bulan Ramadan. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here