Setiap Sore Cuaca Tak Bersahabat, Pedagang Takjil Ngeluh Merugi

529
ilustrasi

Cinere | jurnaldepok.id
Sejumlah pedagang takjil diwilayah Kecamatan Limo dan Kecamatan Cinere mengaku tidak mendapatkan keuntungan bahkan merugi akibat cuaca kurang bersahabat pada sore hari menjelang saat berbuka puasa dua hari silam.

“Kami mulai memajang dagangan mulai pukul tiga sore, tapi baru saja buka, langsung diguyur hujan deras hingga magrib sehingga dagangan kami tak ada yang beli,” kata Ayu salah satu pedagang takjil jenis kolak dan es buah di kawasan Cinere.

Keluhan senada juga dilontarkan oleh Gozali pedagang es buah yang setiap tahun mangkal diseputar jalan Sengon Rw 08, Kelurahan Cinere, Kecamatan Cinere.

Dikatakan Gozali, jam ramai jualan es buah pada bulan puasa berkisar dari pukul 4.00 wib hingga mendekati waktu magrib, dan secara kebetulan lanjut dia pada dua hari pertama puasa tiap sore selalu hujan.

“Terus terang dua hari kemarin saya tidak dapat untung karena dagangan saya hanya laku sedikit, itupun tertolong dari para langganan yang sudah biasa membeli es buah setiap bulan puasa,” kata Gozali.

Dia menambahkan, saat cuaca cerah, keuntungan dari hasil penjualan es buah lumayan besar bahkan bisa mencapai lebih dari Rp 500 ribu setiap hari namun pada musim penghujan terlebih hujannya turun disore hari maka omzet para pedagang es buah anjlok,” paparnya.

Kondisi serupa dirasakan oleh Kartini pedagang takjil jenis gorengan yang mangkal didekat Masjid Al Mutmainnah, Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo.

Dikatakan Tini, pada bulan puasa tahun silam, setiap hari dirinya mampu memperoleh keuntungan mulai dari Rp 400 ribu hingga 750 ribu sehari, namun dalam dua hari puasa tahun ini, dirinya justeru mengaku rugi lantaran sepinya pembeli.

“Dua hari kemarin dagangan saya hanya laku sedikit banget karena pembeli sepi, mudah mudahan mulai hari ini setiap sore cerah sehingga dagangan kami laku terjual,” tukas Tini.

Sepinya pembeli takjil pada dua hari puasa tahun ini juga dikeluhkan oleh Suparno pedagang gorengan yang biasa mangkal di perempatan Mampang.

“Wah kalau cuaca seperti ini terus, saya pasti rugi terus karena bahan dagangan sudah terlanjur ditepungin dan siap digoreng, kalau tidak digoreng akan basi dan kalau digoreng enggak ada yang beli, jadi serba salah,” keluh Parno. n Asti Ediawan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here