Hasil Ukur Tanah Tidak Sesuai, Warga Meruyung Protes Petugas Ukur PTSL

241
ilustrasi

Limo | jurnaldepok.id
Sejumlah pemilik tanah peserta program Pendaftaran Tanah Sertifikat Lengkap (PTSL) diwilayah Rw 01, Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo mengeluhkan kinerja petugas ukur tanah yang ditunjuk oleh Badan Pertanahan Negara (BPN), pasalnya hampir 70 persen hasil ukur tanah tidak sesuai dengan luas tanah.

Kepada Jurnal Depok, Ketua Rw 01, Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo, Abdul Gani mengatakan permasalahan salah hasil ukur menjadi kendala dalam proses pembuatan Sertifikat program PTSL yang pengajuan sudah dilakukan dan diproses sejak setahun yang lalu.

“Jumlah warga yang mengajukan pembuatan Sertifikat PTSL diwilayah Rw 01, Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo hampir 200 mencapai 200 orang atau bidang lahan, dan dari jumlah tersebut lebih dari seratus bidang salah ukur sehingga harus dilakukan pengukuran ulang,” tegas Gani kepada Jurnal Depok, kemarin.

Dikatakan Gani, kesalahan hasil pengukuran dari petugas ukur PTSL dampaknya jelas merugikan warga peserta program PTSL pasalnya kesalahan hasil ukur mengurangi luas tanah sesungguhnya.

“Hasil ukur tanah nya enggak valid, banyak yang luasnya kurang dan tidak sesuai dengan luas tanah sesungguhnya,” ujar Gani.

Terkait hal ini, Gani meminta kepada pihak Badan Pertanahan Negara (BPN) untuk segera melakukan ukur ulang untuk memperlancar proses pembuatan Sertifikat PTSL.

“Kami minta masalah ini cepat ditanggapi dan ditindak lanjuti agar warga segera memperoleh sertifikat yang sudah lama didambakan,” tegas Abdul Gani.

Tak hanya di wilayah Kelurahan Meruyung, hal serupa juga terjadi dalam proses pembuatan sertifikat tanah program PTSL di wilayah Kelurahan Limo, Kecamatan Limo.

Menurut Bobi Khaerudin salah satu pegawai Kantor Kelurahan Limo, permasalahan salah ukur biasa terjadi dalam proses pembuatan sertifikat secara massal namun kata dia jika hal itu langsung dibenahi, maka tidak akan membutuhkan waktu terlalu lama.

“Biasa namanya projek yang jumlahnya sangat banyak, sehingga terkadang wajar bila ada kesalahan ukur, dan sebaiknya langsung di urus pengajuan pengukuran ulang,” tutup Bobi. n Asti Ediawan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here