Siap-siap Motor Knalpot Bising Dirazia Polisi

527
Aparat kepolisian saat menjaring pemotor yang menggunakan knalpot bising

Margonda | jurnaldepok.id
Polisi Lalu Lintas Polres Metro Depok menggelar operasi knalpot bising atau racing di tiga titik jalan utama, di antaranya Margonda, Juanda, dan Jalan Layang Universitas Indonesia (UI).

Kanit Turjawali Polres Metro Depok, AKP Firdaus, pada wartawan, di Jalan Layang UI, Beji mengatakan hingga siang kemarin total sudah ada tiga kendaraan roda dua yang terjaring di titik Jalan Layang UI.

“Sudah ada tiga (kendaraan yang terjaring) disini. Sementara operasi masih berjalan, nanti kami sampaikan datanya,” katanya.

Selain tindakan tilang, Firdaus juga mengatakan bahwa pihaknya menyita kendaraan para pelanggar.

“Jadi prosesnya kami berhentikan, dan kami periksa apakah knalpotnya ini bising ya (non standar), dan kami tilang,” ujarnya.

Setelah itu diamankan motornya, para pelanggar bisa mengambil motornya setelah membayar denda, kemudian datang ke Polres sambil membawa knalpot standarnya agar segera bisa dipasang.

Dia mengatakan, penindakan knalpot brong (racing) sejauh ini memang hanya terfokus pada sepeda motor, namun bukan berarti para pemilik mobil dengan knalpot brong bisa begitu saja lolos karena saat ini penindakan masih terbatas berdasarkan pengamatan petugas di lapangan.

“Dasar hukum penindakan knalpot brong (racing) diatur dalam Pasal 106 ayat 3 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan,” paparnya.

Dia menambahkan, untuk mematuhi ketentuan tentang persyaratan teknis dan layak jalan sesuai dalam Pasal 48 yang berbunyi setiap kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan harus memenuhi persyaratan teknis dan layak jalan.

Pada ayat 3 huruf b, persyaratan layak jalan ditentukan oleh kinerja minimal kendaraan bermotor yang diukur sekurang-kurangnya masalah kebisingan suara.

Lalu kemudian pada Pasal 285 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 yaitu Setiap orang yang mengemudikan sepeda motor di jalan yang tidak memenuhi persyaratan teknis dan layak jalan yang meliputi kaca spion, klakson, lampu utama, lampu rem, lampu penunjuk arah, alat pemantul cahaya, alat pengukur kecepatan, knalpot, dan kedalaman alur ban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (3) juncto Pasal 48 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).

Sementara itu, salah seorang pengendara motor yang memakai knalpot bising Mosen, mengaku bahwa dirinya sudah mengetahui soal larangan knalpot bising tersebut dari pihak kepolisian.

Akan tetapi, dirinya belum memiliki waktu luang hingga tak sempat mengganti knalpot bisingnya dengan yang standar.

“Tahu tapi belum sempat ganti,”akunya.

Perjalanan dirinya menuju tempat kerja menjadi tertunda akibat ulahnya sendiri.

“Ini mau kerja, jadi ketahan dulu disini. Nanti saya segera ganti sih (knalpot),” pungkasnya. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here