Aneh! Penetapan Pemenang Pilkada Depok Ditunda, Ada Apakah?

222
dok

Margonda | jurnaldepok.id
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Depok menunda kegiatan rapat pleno terbuka penetapan pasangan calon terpilih Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Depok Tahun 2020.

Ketua KPU Kota Depok, Nana Sobarna mengatakan, sebelumnya diagendakan pada, Kamis (20/1) KPU akan melakukan penetapan pemenang Pilkada Depok yakni pasangan nomor urut dua, Mohammad Idris dan Imam Budi Hartono.

Rapat pleno yang dipusatkan di salah satu Hotel di Jalan Margonda, Kecamatan Beji, itupun akhirnya ditunda karen beberapa alasan.

Hal itu lantaran belum adanya informasi mengenai penyampaian surat resmi dari Mahkamah Konstitusi (MK) perihal pemberitahuan permohonan yang teregistrasi dalam buku Registrasi Perkara Konstitusi (BRPK) yang ditujukan kepada KPU RI.

“Dengan ini kami dengan KPU Kota Depok meralat surat KPU Kota Depok Nomor 7/PP.07.3/3276/KPU-Kot/I/2020. Agenda penetapan pasangan berubah menjadi kegiatan rapat persiapan pleno terbuka penetapan pasangan calon terpilih Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Depok Tahun 2020,” ujarnya, Rabu (20/1).

Peserta rapat pleno, kata dia, wajib mematuhi protokol kesehatan pencegahan dan penyebaran Covid-19 minimal dengan menggunakan masker yang menutupi hidung, mulut hingga dagu.

Ketika ditanya kapan rapat pleno dilanjutkan, Nana mengatakan mungkin ditunda satu atau dua hari menunggu surat tersebut.

“Keputusan penggeseran penetapan diambil di menit-menit terakhir dengan pertimbangan yang matang. Sebab hingga saat ini, KPU belum menerima Buku Register Perkara Konstitusi (BRPK) dari Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai prasyaratan agar kegiatan penetapan paslon terpilih dapat dimulai,” katanya.

Dikatakannya, ada mekanisme internal yang harus dilaksanakan oleh KPU, yaitu mengeluarkan semacam surat perintah kepada KPU Provinsi maupun Kabupaten/Kota agar melaksanakan pleno penetapan.

“Nah, ini yang belum kami terima. Sebab MK juga belum membalas surat KPU RI terkait BRPK. Sementara kegiatan ini sudah dipersiapkan jauh hari sebelumnya. Tempat pelaksanaan kegiatan sudah ditandatangani kontraknya, undangan sudah disebar, kebutuhan lain-lain sudah dipersiapkan secara matang. Ini menunjukkan kesiapan KPU Kota Depok untuk menyelenggarakan tahapan penetapan paslon terpilih,” kilahnya.

Dijelaskannya, penentuan tanggal pelaksanaannya sudah disesuaikan berdasarkan pada tahapan Perselisihan Hasil Pemilihan (PHP) Kepala Daerah di MK dan kebijakan pilkada yang diatur oleh KPU RI.

“Itulah sebabnya saat itu kita putuskan penetapan di tanggal 20 Januari, bahkan sudah dikoordinasikan dengan pimpinan kami di KPU Jabar,” tegasnya.

Agar seluruh persiapan dapat dioptimalkan untuk kepentingan pelaksanaan pilkada, KPU Kota Depok akhirnya mengganti kegiatan penetapan paslon terpilih dengan melaksanakan evaluasi pilkada bersama seluruh stakeholder Kota Depok, sembari menunggu surat perintah penetapan paslon terpilih dari KPU RI.

Nana, menyampaikan rekapitulasi suara tingkat kota telah menyatakan pasangan Idris-Imam unggul atas rivalnya, Pradi Supriatna-Afifah Alia.

“Hasilnya Idris-Imam mengungguli Pradi-Afifah pada Pilkada Kota Depok. Pasangan Idris-Imam berhasil mendapatkan 415.657 suara atau sekitar 55,54%,” jelasnya.

Sementara Pradi-Afifah mendapatkan 332.689 suara atau sekitar 44,46%. Untuk surat suara yang sah terhitung sebanyak 748.346, serta suara tidak sah sebanyak 29.391 suara.

“Total keseluruhan mencapai 777.737 surat suara. Tingkat partisipasi pemilih di Pilwalkot Depok juga cukup tinggi, yakni 62,79%, dimana angka ini tertinggi selama 4 kali penyelenggaraan pilkada di Depok,” pungkasnya. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here