Dampak Covid-19 Telah Mengubah Praktik Bisnis Prostitusi

238
ilustrasi

Margonda | jurnaldepok.id
Pandemi Covid-19 yang berlangsung sudah hampir setahun menyebabkan banyak perubahan di semua lini kehidupan, salah satunya praktik prostitusi.

Psikolog Universitas Pancasila (UP), Aully Grashinta kepada wartawan mengatakan, praktik prostitusi sebenarnya sudah terjadi sejak lama bahkan sejak zaman dahulu.

“Hanya saja polanya yang berubah mengikuti perkembangan zaman. Dunia prostitusi pun mengambil peran dalam perkembangan teknologi dengan adanya prostitusi online,” ujarnya, kemarin.

Shinta menuturkan, prostitusi online juga bukan hal baru karena sudah terjadi jauh sebelum pandemi Covid-19.

“Sebenarnya online booking sudah lama ada, hanya sekarang memang semakin marak karena pandemi. Kemudahan teknologi semakin mendorong kemudahan transaksi dibidang prostitusi,” paparnya.

Seolah tak ingin ketinggalan, kata dia, para penjajaknya pun ikut bertransformasi mengikuti perkembangan dunia digital. Tak sedikit para penjajak yang mengembangkan cara mereka menjual jasanya pada pengguna.

“Cara pesan melalui open booking pun menjadi salah satu cara yang cukup banyak diminati. Faktornya karena memang adanya kebutuhan antara penjajak dan pengguna. Artinya, si penjajak memerlukan imbalan dari jasanya,” jelasnya.

Sedangkan, kata dia, pengguna memerlukan jasa pelayanan wanita yang diincarnya.

“Ya open booking karena memang ada kebutuhan. Sepanjang ada supply dan ada demand maka ‘pasar’ akan selalu ada,”katanya.

Dengan kemajuan digital dan situasi pandemi, baik penjajak maupun pengguna akhirnya sama-sama bertransformasi. Jualan online pun dianggap sebagai hal yang sangat memungkinkan di masa pandemi dan penerapan PSBB.

“Sebenernya bukan barang baru untuk transaksi online di prostitusi. Tapi dengan adanya pandemi dan PSBB seperti ini ya ‘jualan’ online menjadi satu pilihan yang sangat mungkin,” ungkapnya.

Dalam situasi ini, Shinta mengingatkan pentingnya tim pemantau siber. Karena saat ini mereka tidak lagi turun ke jalan, melainkan ‘berselancar’ di dunia digital.

“Peran patroli siber memang jadi penting. Aturan mengenai pelanggar di dunia digital sebenarnya sudah ada,” jelasnya.

Hanya saja, kata dia, yang disayangkan adalah implementasi dari aturan tersebut yang masih dianggap lemah.

“Sebenarnya sudah ada UU yang mengatur, hanya memang implementasinya yang selalu lemah. Lebih lagi saat ini masyarakat juga sudah jauh lebih kritis dan melek digital. Sehingga mereka bisa mencari segala informasi apapun termasuk penegakan hukum pelanggar aturan digital,” terangnya.

Hanya saja, sambungnya, yang dilihat masyarakat masih banyak pelanggar yang tidak dikenakan sanksi sehingga tidak heran praktik prostitusi online masih tumbuh subur saat ini.

“Masyarakat juga sering melihat bahwa peran penerapan UU ITE terkait prostitusi juga lebih banyak yang tidak kena sanksi,” pungkasnya. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here