Kedelai Mahal, Produsen Terpaksa Menaikkan Harga Tahu 20%

95
Produsen Tahu di wilayah Limo saat memproduksi barang dagangannya

Limo | jurnaldepok.id
Sejumlah pedagang makanan berbahan dasar tahu mengeluhkan lonjakan harga tahu pada beberapa hari terakhir sebagai dampak dari naiknya harga Kacang Kedelai sebagai bahan baku pembuatan tahu.

Asep salah satu pedagang gorengan mengaku bingung dengan kenaikan harga tahu, pasalnya kata dia jika dirinya ikut menaikan harga jual tahu goreng, dia khawatir dagangan tidak laku.

“Saya lagi bingung apa mau naikin harga jual satuan tahu atau mengurangi ukuran potongan tahu, tapi kalau bisa tolong harga tahu bisa normal lagi,” pinta Asep.

Disisi lain, Produsen Tahu AS, Pujiono yang berlokasi di Jalan Raya Cemara Rw 10, Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo, mengaku terpaksa menaikkan harga jual tahu sebesar 10 hingga 20 persen dari harga semula seiring melonjaknya harga kacang kedelai sebagai bahan baku pembuatan tahu.

Kepada Jurnal Depok, pengelola pabrik tahu AS, Pujiono mengatakan sempat mogok produksi selama 3 hari mengikuti kebijakan para produsen tahu lainnya yang juga melakukan mogok produksi sebagai bentuk protes terhadap melonjaknya harga kedelai yang mencapai 30 persen dari harga normal.

“Sebelumnya harga kacang kedelai berkisar antara Rp 7.000 hingga Rp 7.500 / kilogram , dan sekarang harga per kilogram kacang kedelai mencapai Rp 9.500 / kilogram, ini tentu sangat menyulitkan kami untuk mengatur biaya produksi,” ujar Puji kepada Jurnal Depok, Senin (4/1).

Dikatakan Puji, dalam sehari pabrik Tahu AS mampu menghabiskan bahan baku kedelai sebanyak 2 ton dan hasil produksi dijual kesejumlah pasar tradisional di wilayah Kota Depok dan DKI Jakarta.

“Omzet produksi kami sebanyak 2 ton kedelai dalam sehari, dan kami memperkerjakan 30 karyawan dalam proses produksi,” imbuhnya.

Dia menambahkan, pihaknya menerapkan kebijakan menaikan harga jual tahu secara bervariasi disesuaikan dengan jenis konsumen yang biasa membeli tahu AS.

“Kenaikan tidak sama, ada yang sepuluh persen dan ada yang dua puluh persen, tergantung jenis konsumennya, bahkan kami tidak menaikan harga jual ketengan di pabrik untuk para penjual keliling, namun kami mengurangi sedikit ukuran tahu guna mengimbangi biaya produksi,” ujarnya.

Meski mengaku sangat keberatan dengan kenaikan harga bahan baku, namun Puji mengatakan omzet penjualan relatif masih stabil dan tidak terlalu anjolok.

“Kami sudah punya langganan tetap dipasar pasar tradisional, dan para pedagang keliling yang membeli secara langsung di pabrik juga banyak, namun meski begitu kami tetap berharap kepada Pemerintah untuk melakukan intervensi guna menurunkan kembali harga kacang kedelai sebagai bahan baku pembuatan Tahu. Omzet kami tidak terlalu menurun drastis tapi kami tetap meminta pemerintah untuk mensetabilkan harga bahan pokok tahu agar konsumen tidak mengurangi jumlah pesanan kepada para pedagang yang pastinya akan berdampak terhadap stabilitas produksi,” pungkas Pujiono. n Asti Ediawan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here