Kalah Terus di Pilkada Depok, Kader PDIP Murka Minta Sukur Nababan Diberikan Sanksi

538
Totok Towel saat diwawancarai awak media

Pancoran Mas | Jurnal Depok
Kader PDI Perjuangan Kota Depok murka lantaran tiga kali pilkada di Kota Depok tak berhasil memenangkan pertarungan politik lima tahunan.

“Selama tiga kali pilkada Depok, PDIP sebagai partai besar bahkan di periode lalu menjadi pemenang pemilu tapi gagal memenangi pilkada. Ini menjadi pukulan keras bagi DPP dan Ketua Umum PDIP, Hj Megawati Soekarnoputri dan menjadi pukulan keras juga bagi kader PDIP Depok. lagi-lagi kalah, lagi-lagi kalah,” ujar Totok Sarjono, Keder PDI Perjuangan Kota Depok, Minggu (13/12).

Pria yang akrab disapa Towel itu mengungkapkan, kekalahan PDIP di tiga kali Pilkada Depok karena adanya pemaksaan kehendak dan mencalonkan figure yang tidak didasari parameter fakta dan data yang jelas.

“Dari segi kepartaian, tiga kali pilkada PDIP Depok tidak mencalonkan seseorang yang berbau kader apalagi benar-benar kader, itu tidak pernah dilakukan dan menjadi parameter bahwa kader partai menjadi penting untuk dicalonkan. Ada yang bilang katanya kader PDIP enggak ada yang siap dicalonkan, itu salah besar. Padahal banyak kaum Marhaenis dan kader partai yang layak,” paparnya.

Hal itu terjadi, sambungnya, karena terjadi pengkotak-kotakkan siapa yang pantas dicalonkan dan siapa yang tidak dicalonkan.

Alasan selanjutnya, kata dia, PDIP selalu mencalonkan figure yang tidak jelas dari personalisasi, elektabilitas, popularitas dan hasil surveinya.

“Sebagai partai modern seharusnya menggunakan data statistik di lapangan untuk dijadikan paremeter sebelum orang tersebut dicalonkan, kalau surveinya memble kenapa dicalonkan,” terangnya.

Towel yang merupakan mantan Sekretaris DPC PDI Perjuangan periode 2015-2020 menjelaskan, setiap momen pilkada selalu menghasilkan konflik internal. Dengan begitu, setiap pilkada selalu ada dua kubu yang bersebrangan dengan keputusan partai.

Soliditas, lanjutnya, merupakan hal yang utama dalam meraih kemenangan. Namun ketika soliditas itu tidak ada maka semakin berat untuk meraih kemenangan.

“PDIP Kota Depok kami nilai gagal memperjuangkan politik strategis dan ideologis partai. Mencalonkan Afifah Alia adalah kesalahan besar. Afifah adalah bukan kader ideologis PDIP tapi orang yang diperjuangkan. Selain tidak mengambil calon dari kader, juga tidak memperhatikan fakta bahwa elektabilitas dan popularitas tidak memenuhi syarat,” tegasnya.

Sementara, kata Towel, masih banyak calon yang mendaftar di PDIP yang memiliki elektabilitas dan popularitas lebih baik. Dari itu ia menyampaikan kepada DPP PDIP khususnya ketua umum untuk memberikan punishment.

“Terutama kepada Sukur Nababan selaku penanggung jawab di Jawa Barat khususnya Kota Depok. Beliau harus bertanggungjawab atas tiga kekalahan di pilkada Depok. Saatnya Ibu Mega menjatuhkan punishment. Itu menjadi harapan kami dan teman-teman kaum Marhaenis dan kaum-kaum yang selama ini tidak tersentuh. Semua merasa sakit seperti yang dirasa DPP saat ini. Saatnya DPP PDIP mempertimbangkan kembali kepemimpinan DPC PDIP Kota Depok,” ungkapnya.

Terakhir, Towel mengucapkan selamat kepada pasangan Mohammad Idris-Imam Budi Hartono yang telah memenangkan Pilkada Kota Depok pada 9 Desember kemarin.

Sebelumnya, pada Juli lalu DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan akhirnya memberikan tiket kepada Hj Afifah Alia untuk maju menjadi Wakil Wali Kota Depok di Pilkada Depok Desember mendatang.

“Sudah diputuskan di dalam rapat pleno minggu lalu. Langsung yang ketuk palu Ibu Megawati selaku Ketua Umum PDI Perjuangan,” ujar Hendrik Tangke Allo, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Depok, Jumat (8/5).

Dengan begitu, sambungnya, duet Hj Afifah Alia dan politisi Partai Gerindra, Pradi Supriatna akan terwujud dalam pilkada nanti.

“Dalam rapat pleno itu langsung diputuskan duet Pradi dan Afifah yang fix diusung oleh PDI Perjuangan. Jika jadwal pilkada belum bisa dilaksanakan karena situasi pandemi Covid 19, maka tentunya kami tetap menunggu keputusan pemerintah bersama dengan KPU terkait dengan jadwal tersebut,” pungkasnya. n Rahmat Tarmuji

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here