Khutbah Jumat: Empat Kemuliaan Umat Nabi Muhammad SAW

138
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Wakil Ketua Umum MUI Kota Depok

Dalam Kitab Nashaihul Ibad, Syaikh Nawawi Banten menulis ihwal empat kemuliaan umat Nabi Muhammad SAW yang membuat heran Nabi Adam. Namun keempat kemuliaan ini tidak Allah SWT berikan kepada Nabi Adam.

Kemuliaan pertama, lanjut Nabi Adam, “Tobatku baru diterima oleh Allah SWT di Mekah, sedangkan tobat umat Nabi Muhammad SAW diterima di mana saja oleh Allah SWT”.

Bayangkan kalau orang Indonesia dan bangsa-bangsa lain di dunia, baru diterima tobatnya di Mekah.

Tak hanya itu, Nabi Adam perlu menunggu 40 tahun agar tobatnya diterima sambil terus berdoa, “Rabbana, sungguh kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan menyayangi kami, sungguh kami termasuk orang-orang yang merugi” (QS. al-A’raf/7: 23).

Kedua, yang membuat Nabi Adam heran, “Aku berpakaian ketika berbuat dosa, lalu Allah SWT jadikan aku telanjang, sedangkan umat Nabi Muhammad SAW berbuat dosa dalam keadaan telanjang, namun Allah SWT memberi mereka pakaian”.

Faktanya, tidak ada seorangpun umat Nabi Muhammad SAW yang sesudah berbuat dosa seketika dicopot pakaiannya. Berbeda dengan Nabi Adam yang harus menutupi tubuhnya dengan daun tin sesaat sebelum jatuh dari surga ke alam dunia. Dalam sejarah, berpakaian adalah peradaban pertama dan tertua umat manusia.

Ketiga, yang membuat Nabi Adam heran, “Ketika aku berbuat dosa, Allah SWT memisahkan aku dengan istriku. Sementara umat Nabi Muhammad SAW berbuat dosa, namun Allah SAW tidak memisahkan mereka dengan istri-istri mereka”.

Tak terbayangkan betapa repotnya manakala seorang suami yang berbuat dosa kepada Allah SWT, serta-merta akan kehilangan istri. Begitu juga sebaliknya. Untunglah, umat Nabi Muhammad SAW dimuliakan oleh Allah SWT.

Keempat, yang membuat Nabi Adam heran, “Aku berbuat dosa di dalam surga, lalu Allah SWT mengeluarkanku dari surga. Sedangkan umat Nabi Muhammad SAW berbuat dosa di luar surga, namun Allah SWT akan memasukkan mereka ke surga, asal saja mereka bertobat”.

Dalam historiografi al-Qur’an didapat informasi kalau Nabi Adam jatuh dari surga di India, sedangkan Siti Hawa di Saudi Arabia. Mereka terpisah selamat 40 tahun dan baru dipertemukan Allah SWT di Jabal Rahmah.

Secara historis, inilah alasan yang membuat jamaah haji dan umrah yang masih lajang berbondong-bondong berdoa di Jabal Rahmah. Kendati terkait hal ini, tidak ada dalil nornatif yang otoritatif yang menjadi dasar pijakannya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here