Khutbah Jumat: Tiga Tangga Ibadah

57
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Wakil Ketua Umum MUI Kota Depok

Terinspirasi apa yang diungkap Abu Bakar al-Shiddiq, seperti dikutip Syaikh Nawawi Banten dalam Nashaihul Ibad, ada tiga tangga ibadah. Pertama, kelompok orang yang beribadah kepada Allah SWT atas dasar takut terhadap neraka. Kedua, kelompok orang yang beribadah kepada Allah SWT atas dasar harap akan surga. Ketiga, kelompok orang yang beribadah kepada Allah SWT atas dasar cinta. Ketiga tangga ibadah ini berlaku secara hirarkis.

Untuk tangga pertama, yakni kelompok orang yang beribadah kepada Allah SWT atas dasar takut terhadap neraka mendapat legitimasi dalam al-Qur’an. Misalnya, “…Maka takutlah terhadap neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir” (QS. al-Baqarah/2: 24). Begitu juga, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. al-Tahrim/66: 6).

Menurut pengarang Tafsir Jalalain api neraka itu sangat panas dan tambah menyala dengan bahan bakar manusia dan batu. Api neraka bukan seperti api dunia yang hanya dapat dinyalakan dengan kayu bakar. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya neraka Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman” (QS. al-Furqan/25: 66). “Neraka (telah) dipersiapkan bagi orang-orang kafir” (QS. Ali Imran/3: 133).

Tentang panasnya api neraka, Nabi SAW bersabda, “Api neraka telah dipanaskan selama seribu tahun sampai ia memerah, kemudian dipanaskan lagi selama seribu tahun hingga memutih, kemudian dipanaskan lagi seribu tahun hingga menghitam seperti malam yang gelap gulita.” (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah). Jadi wajar saja jika ada sekelompok orang yang beribadah kepada Allah SWT atas dasar takut terhadap neraka.

Terkait tangga kedua, yakni kelompok orang yang beribadah kepada Allah SWT atas dasar harap akan surga, juga mendapat legitimasi dalam al-Qur’an. Misalnya, “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu …” (QS. al-Baqarah/2: 25).

Tentu tangga kedua ini sudah lebih baik. Sudah bergeser dari beribadah kepada Allah SWT atas dasar takut api neraka kepada berharap akan surga. Jika ibadah pada tangga pertama berparadigma budak yang bekerja atas dasar takut kepada majikan, maka ibadah pada tangga kedua berparadigma pedagang yang ingin selalu untung. Inilah doa Nabi Ibrahim, “…Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga …”(QS. al-Syu’araa/26: 85).

Tangga ketiga adalah kelompok orang yang beribadah kepada Allah SWT yang bukan karena takut akan neraka atau berharap surga. Mereka beribadah atas dasar cinta kepada Allah SWT. Inilah tangga tertinggi. Ada bocoran dari Allah SWT untuk bisa sampai pada tangga tertinggi ini. Yakni,

“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu” (QS. Ali Imran/3: 31).

Jadi, untuk bisa mendaki tangga tertinggi dalam ibadah adalah mengikuti sunnah-sunnah Nabi SAW. Terakhir, berikut adalah doa yang diajarkan Nabi SAW agar senantiasa dicintai oleh Allah SWT dan makhluk-Nya. “Ya Allah, aku memohon cinta-Mu dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu dan cinta kepada perbuatan yang akan mendekatkan aku kepada cinta-Mu” (HR. Tirmidzi).***

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here