Awas! Marak Aksi Baiat untuk Memilih Pasangan Calon Wali-Wakil Wali Kota

490
H Rahmat Mulyadi

Sawangan | jurnaldepok.id
Aksi baiat atau pengambilan sumpah untuk memilih pasangan calon wali-wakil wali kota Depok yang dilakukan oleh salah seorang Anggota DPRD Depok menjadi sorotan alim ulama di kota yang berjuluk religius ini.

Mereka menilai, aksi tersebut sesungguhnya tidak patut dilakukan hanya untuk menyalurkan syahwat politik jelang pilkada.

“Sumpah atau biat sudah ada pada zaman Nabi Muhammad SAW. Tapi baiat tersebut adalah perjanjian yang sifatnya untuk perjuangan agama Islam, melalui seorang pemimpin yang mulia Baginda Rasullah SAW. Pemimpin yang kita baiat rosul yang memang untuk memperjuangkan tegaknya agama Islam dan umat Islam (universal). Tidak ada golongan,” ujar H Rahmat Mulyadi, ulama asal Sawangan kepada Jurnal Depok, Kamis (19/11).

Masalahnya, kata dia, jika baiat pemimpin di zaman sekarang apakah untuk memperjuangkan agama dan umat Islam?

“Jawabannya tentu tidak. Baiat pemimpin zaman sekarang sifatnya untuk perjuangan golongan atau partainya bukan untuk agama, apalagi hanya untuk kepentingan pilkada,” tegasnya.

Hal itu, sambungnya, tidak sah karena sifat perjuangannya untuk golongan atau partai.

“Hukum asalnya boleh bersumpah, tapi jika ingkar maka wajib bayar kafarat. Tapi ingat, sumpah jangan dibuat main-main,” ungkapnya.

Dari itu, ia mengajak kepada para politisi yang nyata-nyata berpendidikan untuk melakukan kampanye sewajarnya saja tanpa harus membaiat sekelompok masyarakat.

“Ya secara elegan saja kampanye nya, fair dan sehat. Kalau dengan sumpah seakan-akan orang tersebut dipaksakan untuk memilih seseorang dan yang mengucap sumpah pun dipastikan terpaksa. Jangan main-main dengan sumpah,” terangnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, seharusnya seorang anggota dewan itu menjadi contoh bagi masyarakat. Dimana, aturan kampanye sudah diatur dengan jelas bahwa fasilitas umum dan sarana ibadah tidak boleh digunakan untuk ajang kampanye paslon.

“Ini saja aturan sudah dilabrak, mau dijadikan apa masyarakat Depok jika saat ini kita sudah ditunjukan dan diajarkan dengan contoh yang kurang baik. Ini namanya ajang pembodohan bagi masyarakat, mereka yang buat aturan malah mereka juga yang melanggar aturan. Kami rasa yang melakukan itu bukan orang bodoh, dia itu orang pinter dan paham akan aturan main. Kami menduga orang ini sengaja ingin membuat kegaduhan di Pilkada Depok,” pungkasnya. n Rahmat Tarmuji

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here