Khutbah Jumat: Pohon Ibadah

58
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Wakil Ketua Umum MUI Kota Depok

Menurut Syaikh Nawawi Banten dalam Sullamul Munajat, ada di antara ulama yang menyerupakan ibadah layaknya sebuah pohon yang dinanti buahnya. Dalam s emua ibadah ada syaratnya. Lalu harus dilaksanakan sejumlah rukun dan sunnah.

Sedang pada sebatang pohon terdapat akar, pangkal cabang, cabang, ranting, dan buah.
Pelaksanaan syarat ibadah disamakan dengan akar yang bersifat fundamental. Akar ini satu-satunya bagian pohon yang ada di luar pohon itu sendiri, yakni di dalam tanah. Berbeda dengan rukun, syarat suatu ibadah memang berada di luar ibadah itu sendiri. Keberadaannya mendukung pelaksanaan rukun. Begitu pula akar menopang tegaknya sebatang pohon.

Sedangkan pelaksanaan rukun itu sendiri diibaratkan laksana pangkal cabang dimana cabang, ranting, dan buah disanggahnya. Dalam ibadah apa saja, jika salah satu rukun tertinggal maka batal. Seseorang harus mengulangi kembali dari rukun pertama. Bukan memulai dari rukun yang batal itu.

Selanjutnya sunnah ab’adh tak ubahnya cabang utama dan sunnah haiaat disamakan dengan ranting. Hanya saja, nampaknya kedua macam sunnah ini hanya berlaku dalam shalat. Itu pun terbatas batas madzhab Imam Syafi’i. Pada sunnah ab’adh bacaan dan gerakan yang tertinggal secara tidak sengaja bisa ditutupi dengan sujud sahwi. Namun tidak demikian pada bacaan dan gerakan dalam sunnah haiaat.

Terakhir, dari sebatang pohon yang diharapkan adalah buahnya. Buah ibadah hanya didapat untuk orang yang ikhlas mengerjakannya. Menurut Syaikh Nawawi Banten, ibadah kendati terpenuhi syarat dan rukunnya tetapi tidak ada keikhlasan maka tidak ada pahala. Ikhlas dalam konteks ini artinya murni, suci, dan bersih yang didedikasikan hanya untuk Allah SWT semata. Bukan untuk yang lain.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here