Relawan Paslon Meninggal Dunia Saat Ubek Empang, Kelurga Telah Mengikhlaskan

241
Suasana kediaman almarhum Muslim di wilayah Gandul

Cinere | jurnaldepok.id
Maysaroh, istri dari anggota Relawan Senyap, Muslim korban meninggal dunia dalam kegiatan Ngubek Empang di kawasan Kelurahan Duren Mekar, Kecamatan Bojongsari, Minggu (8/11) mengaku telah mengikhlaskan kematian suaminya, dan dia menganggap peristiwa yang merenggut nyawa suaminya sebagai musibah dan takdir yang telah ditetapkan Allah SWT.

Dikisahkan Maysaroh, pada Minggu pagi dirinya bersama suami dan anggota keluarga lainnya bertolak kekawasan lokasi pemancingan di perbatasan wilayah Kelurahan Pengasinan dan Kelurahan Duren Mekar, dan sesampainya dilokasi sebagian warga yang ikut langsung mancing diempang yang sudah disediakan oleh panitia dan setelah itu dilakukan aksi ngubek empang.

“Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 10.30, tadinya saya tidak tahu kalau suami saya turun keempang ikut ngubek empang karena sebelumnya saya melihat dia masih dipinggir empang, tapi selang beberapa lama tiba-tiba bapak naik dari empang dan mengeluh nyesek,” ujar Maysaroh kepada Jurnal Depok, Senin (9/11).

Dikatakannya, tiga hari sebelumnya, suami nya memang masih dalam kondisi kurang sehat.

“Kalau saya tahu, saya enggak akan kasih dia turun ke empang karena masih kurang sehat, tapi mungkin ini sudah takdir, kami semua sekeluarga ikhlas,” kata Maysaroh.

Dia menambahkan, keputusan suaminya untuk menjadi anggota relawan Senyap salah satu relawan pendukung paslon nomor urut 01 pada perhelatan Pilkada Depok 2020 direstui oleh semua anggota keluarga, dan dalam aktivitas mancing bersama tersebut, Muslim yang pernah menjabat sebagai Ketua Rt 09/02 Kelurahan Gandul selama lima periode menjadi panitia pada kegiatan yang diselenggarakan oleh Relawan Senyap.

“Saya tidak menyesalkan takdir, dan saya berharap paslon yang didukung suami saya bisa menang dalam pilkada nanti sehingga perjuangan suami saya tidak sia-sia,” imbuhnya.

Sementara Ketua Relawan Senyap Gandul Utara, Wahyudin membenarkan kejadian yang menimpa salah satu anggotanya relawan saat dilaksanakan kegiata mancing bersama di kawasan Kelurahan Duren Mekar, Kecamatan Bojongsari, Minggu (8/11).

“Ya memang betul beliau adalah anggota Relawan Senyap, dan perlu diluruskan pada saat itu kami melakukan kegiatan berlibur bersama bukan kampanye, karena lokasinya bukan di wilayah kami, hanya saja memang para peserta banyak yang pakai kaos dukungan paslo dan bawa bendera, itu sempat dipermasalahkan oleh Panwascam Bojongsari dan kamipun mencopot kaos dan atribut lainnya saat itu,” papar Codon, sapaan akrab Wahyudin.

Dia berharap kejadian musibah yang menimpa salah satu angota tim relawan Senyap tidak dipolitisir dan tidak dibesar-besarkan, terlebih semua anggota keluarga sudah menerima dengan ikhlas musibah tersebut.
“Awalnya kami hanya mengundang 30 orang untuk ikut kegiatan mancing bersama, tapi banyak anggota yang bawa keluarga sehingga jumlahnya mencapai lebih dari 50 orang, kami hanya berlibur menghilangkan penat saja dan tidak ada niat untuk berkampanye, tapi memang para anggota kami pakai kaos timses dan bawa bendera,” lanjut Codon.

Ditegaskan Codon, peristiwa meninggalnya Muslim tidak akan menyurutkan para anggota tim Relawan Senyap untuk melanjutkan perjuangan memenangkan paslon nomor urut 01 Pradi-Afifah pada ajang pilkada nanti.

Malah sebaliknya, kata dia, musibah ini akan menjadi pemicu semangat bagi Relawan Senyap untuk terus melakukan upaya guna menghantarkan paslon Wali Kota Wakil Wali Kota Pradi-Afifah menjadi Wali Kota dan Wakil Wali Kota masa bakti 2021 – 2026.

“Kami tidak kendor, malah kami semakin semangat melanjutkan perjuangan teman kami yang sudah dipanggil Allah, semoga beliau mendapat tempat terbaik disisi Allah SWT,” pungkas Wahyudin. n Asti Ediawan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here