Meski Tak Terbukti, Namun Isu Wahabi Digoreng Lagi Jelang Pilkada

144
Calon Wali Kota Depok, Mohammad Idris saat menyapa warga Pengasinan

Cipayung | jurnaldepok.id
Isu lima tahunan jelang pilkada terkait aliran wahabi mulai digoreng lagi untuk menyerang lawan politik. Entah siapa yang memulainya, namun hal itu dibantah langsung oleh salah seorang pendukung calon wali kota Depok, Mohammad Idris yakni, KH Syahroni.

“Kami melihat dari mata kepala kami sendiri, banyak orang bilang wahabi itu anti maulid tapi Kiai Idris malah menggelar program sejuta maulid. Kedua, ada yang bilang wahabi itu anti ziarah kubur, namun Kiai Idris ziarah kubur. Yang ketiga, ada juga yang mengatakan Kiai Idris amaliahnya tidak qunut, tapi beliau melakukan qunut,” ujar Syahroni kepada Jurnal Depok, Selasa (3/11).

Jika, sambungnya, Kiai Idris dikatakan wahabi dimana letak wahabinya?.

“Kami menilainya objektif tidak memandang karena saat ini beliau sedang mencalonkan diri, namun kami melihat secara riil. Sampai saat ini tuduhan-tuduhan itu tak terbukti, ini kan persaingan politik, apapun bisa dilakukan untuk menjatuhkan lawan politiknya,” paparnya yang juga Pimpinan Pondok Pesantren Syaid Yusuf, Rangkapan Jaya Baru, Pancoran Mas.

Sementara itu calon wali kota Depok, Mohammad Idris turut menyikapi isu wahabi yang seolah ditujukan kepada dirinya.

“Terlepas dari prespektif politik, namun saya melihatnya dari prespektif agama, bahwa yang melontarkan ini biasanya ustad yang sering ngaji dan berilmu, kalau orang berilmu menyampaikan ilmunya salah, ini bahaya. Bukan sekedar tuduhan kepentingan politik, namun bisa jadi fitnah, ini yang merusak nilai dan prinsip-prinsip agama dalam berpolitik,” ungkapnya.

Namun begitu, dirinya tidak merasa khawatir isu tersebut akan menjatuhkan dirinya dan pasangannya dalam pilkada nanti.

“Isu ini kan klasik, sejak jaman awal 2005 juga sudah ada isu lawan wahabi, tapi itu kan enggak terbukti. Cobalah, para ustad yang menjadi teladan di masyarakat tampilkan politik dan cara-cara yang santun, bukan sekadar santun tapi juga mengikuti etika agama, ini kan fitnah, fitnah besar ini,” jelasnya.

Idris juga meminta bukti tudahan wahabi yang ditujukan kepada dirinya.

“Buktinya apa?. Harus tahu dulu makna dan esensi wahabi itu apa, kalau wahabi yang dipersoalkan hanya maulid atau tidak, atau qunut tidak qunut, ini kan masalah khilafiah yang di Indonesia dari dulu sudah ada antara Al Irsyad, Persis, Muhammadiyah maupun NU. Namun sekarang sudah berkurang dari sisi kesadaran para ulama-ulamanya, kalau ulamanya sudah bagus jangan sampai yang dibawahnya ini mengacaukan lagi suasana ukhuwah yang sudah terjalin di tingkat ulama (elite asatid,red),” ungkapnya.

Dijelaskannya, jika wahabi ditujukan kepada tokoh pergerakan yang dinamakan Muhammad bin Abdul Wahab.

“Dimana, yang mendirikan dan melakukan adalah Muhammad, Abdul Wahab itu bapaknya. Dari sini saja sudah salah kaprah menyebutnya, harusnya bukan wahabi, harusnya muhamadi. Ini kan menuduh bapaknya Muhammad yang bernama Abdul Wahab jelas enggak benar, padahal mereka sendiri tidak tahu sejarahnya Abdul Wahab seperti apa,” jelasnya.

Yang dikenal pada saat itu, sambunya, adalah gerakannya melawan masyarakat yang telah mendewakan seperti kuburan, pepohonan dan tempat-tempat keramat yang menurut mereka hal ini tidak bisa ditolerir.

“Tawasul itu beda lagi permasalahannya dengan ta’abud, ini yang harus dipahami. Terkait Ahlusunnah Waljamaah, ini siapa?, kalau istilah Aswaja adalah NU, tapi kalau Ahlusunnah Waljamaah nya tidak bisa diklaim untuk NU. Muhammadiyah juga Ahlusunnah Waljamaah, begitu juga Persis, Al Irsyad atau Mathla’ul Anwar mereka juga Ahlusunnah Waljamaah, jika dalam konteks hadist mereka itu masuk kesana,” pungkasnya. n Rahmat Tarmuji

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here