Khutbah Jumat: Induk Kejahatan

71
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Wakil Ketua Umum MUI Kota Depok

Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani dalam Tanqihul Qaul al-Hatsits, mengutip perkataan Ibn Mas’ud. Yakni, “Apabila kalian telah menguburkan mayat peminum arak (minuman keras), maka galilah kuburannya. Lalu jika kalian tidak menemukan wajah (mayat itu) dalam keadaan berpaling dari kiblat, maka kalian boleh membunuhku”.

Jalaluddin al-Suyuthi dalam karyanya Lubab al-Hadits mengutip sabda Nabi SAW, “Arak adalah induk kejahatan, maka siapa saja yang meminumnya, maka tidak akan diterima salatnya selama empat puluh hari”. Nabi SAW juga menegaskan, “Arak adalah penggabung dosa”.

Nabi SAW bersabda, “Tidak akan berkumpul arak dan keimanan di hati seseorang selamanya”. Nabi SAW tegaskan, “Peminum arak itu terlaknat”. Nabi SAW juga katakan, “Peminum arak itu sama seperti penyembah berhala, dan peminum arak itu sama seperti penyembah Lata dan Uzza”.

Menurut Syaikh Nawawi, Nabi SAW mengkhususkan salat disebutkan dalam haditsnya, karena salat adalah di antara ibadah badan yang paling utama. Dan disebutkan kata “empat puluh” karena arak dapat mengendap di dalam anggota tubuh peminumnya selama empat puluh hari. Inilah yang menjadi alasan logis adanya pelarangan meminum arak.

Dalam Tanqihul Qaul al-Hatsits, Syaikh Nawawi menuliskan sabda Nabi SAW, “Apabila seorang hamba meminum minuman keras sebanyak empat kali, maka Allah murka kepadanya. Selain itu, namanya telah ditulis di penjara neraka. Allah tidak menerima puasa, salat, dan sedekahnya, kecuali ia bertobat”.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here