Khutbah Jumat: Surga untuk Pemimpin Jujur

112
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Wakil Ketua Umum MUI Kota Depok

Nabi SAW bersabda, “Seseorang yang ditugaskan oleh Allah untuk memimpin rakyat, kalau dia tidak memimpin rakyat itu dengan jujur, niscaya dia tidak memperoleh bau surga” (HR.Bukhari). Pemimpin yang bakal masuk surga adalah yang jujur. Tidak hanya untuk dirinya, namun ia juga dapat mengajak dan memimpin rakyatnya untuk masuk surga bersama.

Karena itu, pemimpin haruslah seorang yang jujur. Karena seperti sabda Nabi SAW, “… Jujur adalah ketenangan dan bohong adalah keraguan” (HR. Tirmidzi). Selain jujur, seorang pemimpin haruslah juga seorang yang ahli. Nabi SAW bersabda, “Apabila perkara (urusan) diserahkan kepada selain ahlinya, maka nantikanlah kiamat/kehancuran“ (HR. Bukhari).

Satu ciri khas orang beriman adalah jujur (tidak pernah berbohong). Dalam hadits Imam Tirmidzi, diceritakan tentang seorang sahabat yang bertanya kepada Nabi SAW dengan tiga pertanyaan. Pertama, “Wahai Rasulullah, apakah orang beriman itu bisa mencuri?” Nabi SAW menjawab, “Bisa. Orang beriman bisa mencuri”.

Kedua, sahabat itu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, apakah orang beriman itu bisa berzina?” Nabi SAW juga membenarkan. Orang beriman mungkin bisa khilaf dan tersungkar buat zina. Ketiga, “Wahai Rasulullah, apakah orang beriman itu bisa berbohong?”tanya sahabat itu lagi. Kali ini jawaban Nabi SAW berbeda,“Tidak!”, seru Nabi SAW.

Namun bisa saja seorang yang jujur dianggap pembohong dan begitu juga sebaliknya. Persis seperti sebuah nubuwah Nabi SAW dalam hadits Imam Ibnu Majah, “Akan datang menimpa manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya, di masa itu para pembohog dibenarkan sedangkan orang-orang jujur didustakan”.

“Di masa itu para pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang terpercaya justru dianggap pengkhianat. Pada masa itu muncul Ruwaibidhah. Ditanyakan kepada Nabi SAW, ‘Apa itu Ruwaibidah?’ Nabi menjawab, ‘Seorang yang bodoh (yang dipercaya berbicara) tentang urusan publik”.

Maka dalam sebuah negara berlaku jujur adalah keniscayaan. Bukan hanya pemimimpinnya, tapi rakyat di seantero negeri. Nabi SAW berpesan, “Tetaplah berlaku jujur. Karena sungguh kejujuran membawa kepada kebaikan. Sungguh, kebaikan membawa ke surga. Orang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang yang selalu jujur.

“Jauhilah kedustaan. Karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan.Sedangkan kemaksiatan itu sendiri membawa ke neraka. Orang yang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta” (HR. Bukhari- Muslim). Jadi jujur membawa kebaikan, tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat.

Terakhir, untuk para pemimpin hendaklah memperhatikan doa Nabi SAW yang bersumber dari ’Aisyah berikut ini, “Ya Allah, siapa saja yang menjadi penguasa umatku, lalu ia menyulitkan mereka, maka timpahkanlah kesulitan kepadanya. Dan siapa saja yang menjadi penguasa umatku, lalu ia menyayangi mereka, maka sayangilah dia” (HR. Muslim).***

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here