Koalisi Gemuk Dinilai Tak Jaminan Memenangkan Pertarungan Pilkada Depok

235
Bernhard

Margonda | jurnaldepok.id
Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum dan Politik Kota Depok, Bernhard mengungkapkan, koalisi gemuk di pemilihan kepala daerah tak menjamin pasangan calon yang diusungnya dapat memenangkan pilkada.

Hal itu diungkapkan Bernhard menyikapi bergabungnya beberapa partai politik seperti PKB, Golkar dan PSI ke Koalisi PDIP dan Partai Gerindra untuk mengusung bakal calon wali-wakil wali kota Depok, Pradi Supriatna-Afifah Alia dalam pilkada mendatang.

“Pradi-Afifah yang memperoleh dukungan kursi di parlemen 29 kursi bukanlah merupakan indikator politik bahwa paslon wali -wakil walikota dalam kontestasi politik Pilkada Depok tahun 2020 akan menjadi pemenang,” ujar Bernhard kepada Jurnal Depok, Senin (31/8).

Bahwa, sambungnya, yang menentukan faktor pemenang adalah elektoral vote pada saat pemilihan umum kepala daerah Depok 9 Desember mendatang.

“Jadi bukan ditentukan banyaknya kursi di parlemen. Menurut saya, salah satu variabel untuk menjadi pemenang dalam kontestasi Pilkada Depok adalah sampai sejauh mana para partai politik mengkonsolidasikan sumber daya politik dan jaringan kader partai nya,” paparnya.

Dikatakannya, perhelatan pilkada berbeda jauh dengan pemilihan legislatif. Bahwa peran parpol tidak menjadi variabel penentu kemenangan seorang calon legislative, tetapi peran figur caleg nya itu sendiri menjadi penentu.

“Bagaimana dia mengkonsolidasi para pemilihnya dengan pendekatan emosional dan pemberian materi,” katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan, secara riil relawan yang diorganisir partai seperti PKS lebih militan.

“Ini juga menjadi faktor pemenang. Relawan yang merupakan jaringan kader PKS lebih solid, belum lagi jaringan para relawan yang berasal dari tokoh-tokoh agama yang di organisir petahana ini semakin mumpuni,” pungkasnya. n Rahmat Tarmuji

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here