Khutbah Jumat: Tiga Tanda Ulama Akhirat

156
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Wakil Ketua Umum MUI Kota Depok

Syaikh Nawawi Banten dalam Qami’ al-Tughyan menuliskan ada tiga tanda ulama akhirat. Pertama, ulama akhirat tidak pernah menuntut harta dunia dari ilmu yang dimilikinya. Untuk itu, Nabi SAW mengajarkan satu doa, “Ya Allah jangan jadikan dunia ini sebagai cita-cita terbesar kami dan tujuan tertinggi ilmu kami” (HR. Tirmidzi).

Indikasi ulama yang tidak mencari harta dunia, menurut Syaikh Nawawi Banten, ada lima. Pertama, perkataannya seirama dengan perbuatannya. Selain itu, ia adalah orang pertama yang menjalankan perintah Allah SWT. Termasuk, ia orang pertama yang meninggalkan yang dilarang Allah dan rasul-Nya.

Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (QS. al-Shaff/61: 2-3). Orang seperti ini Allah sindir dengan firman-Nya, “Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. al-Baqarah/2: 44).

Indikasi kedua, ulama yang tidak mencari harta dunia adalah yang menjauhi ilmu yang mengundang kontroversi. Ilmunya baginya adalah fasilitas untuk mencintai ketaatan. Baik ketaatan kepada Nabi SAW maupun kepada Allah SWT. Dalam al-Qur’an surah al-Nisaa/4 ayat 80, Allah berfirman, “Barangsiapa yang mentaati rasul, sungguh ia telah mentaati Allah”.

Nabi SAW bersabda, “Setiap umatku akan masuk surga kecuali yang tidak mau?” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah siapakah yang tidak mau?” Nabi SAW menjawab, “Barangsiapa yang taat kepadaku maka ia masuk surga dan barangsiapa yang tidak taat padaku maka dialah yang tidak mau (masuk surga).” (HR. Bukhari).

Indikasi ketiga, ulama yang tidak mencari harta dunia adalah yang tidak bergaya hidup mewah dan megah. Seperti makanan, tempat tinggal lengkap dengan furnitur dan asesoris baik interior maupun eksterior. Allah berfirman, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur” (QS. al-Takatsur/102: 1-2).

Keempat, indikasi ulama yang tidak mencari harta dunia adalah yang tidak bergaul dengan penguasa. Kecuali untuk memberi nasihat, menolak kezaliman, dan memberi pertolongan dalam rangka menggapai ridha Allah. Bukan karena mengharap hadiah dari sang raja. Memang, ulama itu sebaiknya didatangi bukan mendatangi (penguasa).

Terakhir, indikasi ulama yang tidak mencari harta dunia adalah ulama yang tidak tergesa-gesa memberi keputusan hukum. Ia merasa bukan sebagai orang pantas memberi fatwa. Bahkan ia mempersilakan untuk mencari seorang yang lebih ahli ketimbang dirinya. Ia berusaha menghindari diri dari melakukan ijtihad untuk suatu masalah yang belum jelas.

Kedua, tanda ulama akhirat adalah selalu mendedikaskan ilmunya untuk memperoleh kebahagiaan akhirat . Ia selalu melatih hatinya agar bisa menguasainya. Ketiga, baik perkataan maupun perbuatannya didasarkan ilmu yang bersumber dari ajaran agama yang dibawa oleh Nabi SAW. Ia tidak pernah membuat penalaran spekulatif yang hanya bertumpu pada akal.***

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here