Program Pemberdayaan Desa Mitra, PNJ Gelar Pelatihan Pembuatan Hand Sanitizer

57
Program Pemberdayaan Desa Mitra yang dilakukan PNJ terhadap pelaku UMKM di wilayah Bojongsari

Bojongsari | jurnaldepok.id
Program Pemberdayaan Desa Mitra merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang merupkan salah satu program tahunan dari Unit Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (UP2M) Politeknik Negeri Jakarta (PNJ).

Program ini bertujuan untuk memecahkan masalah yang timbul pada masyarakat seacara komprehensif, bermakna, tuntas, dan berkelanjutan (sustainable) dengan sasaran kelompok masyarakat yang bergerak dalam bidang usaha, sekolah, institusi pemerintah atau swasta atau masyarakat umum lainnya.

Dalam rangka pelaksanaan program pemberdayaan desa mitra, Politeknik Negeri Jakarta melakukan kerjasama dengan Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) tingkat Kecamataan Bojongsari, Depok dan telah menggandeng beberapa Usaha Mikro dan Kecil atau biasa disingkat UMK di wilayah Desa Duren Mekar, Kecamatan Bojongsari, yang terdampak Covid 19.

Pada Minggu 16 Agustus 2020 selama satu hari telah dilakukan pelatihan pembuatan Hand Sanizer yang dilaksanakan di RT 09/RW 05, Kelurahan Duren Mekar, Bojongsari. Semua peserta pelatihan tetap mengukuti protokoler Covid 19 dengan mengenakan masker, jaga jarak dan cuci tangan dengan sabun pada air yang mengalir.

Sebelum acara dimulai terlebih dahulu dilakukan penanda tanganan berita acara penyerahan bantuan blender sebanyak 13 (tiga belas) unit dan bahan baku untuk membuat Hand Sanitizer. Penyerahan dilakukan oleh Ir. Sutanto,MT selaku ketua pelaksana program kepada Eis Rahmawati selaku Ketua IWAPI cabang Kecamatan Bojongsari.

“Pemberian bantuan blender dan bahan baku Hand Sanitizer tersebut dimaksudkan untuk membantu para peserta dalam memahami langkah – langkah yang harus dilalui pada saat dilakukan pelatihan praktek pembuatan Hand sanitizer,” ujar Sutanto kepada jurnaldepok.id, kemarin.

Selain itu, sambungnya, pemberian bantuan tersebut juga dimaksudkan untuk mendorong kemandirian para anggota UMK untuk dapat menciptakan usaha baru yang terkait dengan pembuatan Hand Sanitizer sebagai salah satu solusi dalam menghadapi keterpurukan ekonomi keluarga akibat dampak dari pandemi Covbid 19.

Pelatihan tersebut diikuti sebanyak 10 orang dari anggota UMK di wilayah RW 05, Duren Mekar, Bojongsari. Selain itu pelatihan juga dihadiri oleh Ketua IWAPI Bojongsari dan tiga orang mahasiswa salah satunya dari Prodi Telekomunikasi, Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Jakarta.

“Para anggota UMK yang terlibat dalam pelatihan ini pada umumnya sudah mempunyai bidang usaha rumah tangga, namun akibat pandemi Covid 19 sebagian besar mengalami hambatan usaha. Bidang usaha UMK antara lain masakan rumahan, kuliner, minuman herbal, bakso, asesoris, refleksi, katering dan tahu bakso,” paparnya.

Sebelum dilakukan pelatihan praktek pembuatan Hand Sanitizer, terlebih dahulu disampaikan paparan yang berkaitan dengan teori dan prosedur pembuatan Hand Sanitizer.

Sutanto dalam pemaparannya menjelaskan, bahwa bahan baku penunjang untuk membuat Hand Sanitizer sudah banyak tersedia disekitar rumah.

Bahan-bahan tersebut antara lain buah jeruk atau daunnya, batang serai atau daunnya, jahe, daun sirih, daun pandan dan lidah buaya.

“Bahan herbal tersebut dapat dikombinasikan dengan bahan kimia dengan perbandingan tertentu. Untuk aroma dapat menggunakan cairan hasil ekstraksi batang serai, daun sirih atau daun jeruk. Sedangkan untuk pelembab dapat ditambahkan ekstrak daun lidah buaya,” katanya.

Dikatakannya, ada tiga formulasi yang dipraktekan pada pelatihan ini dengan harapan setiap peserta mudah dalam memahami langkah pembuatan hand sanitizer dan memiliki banyak pilihan produk sesuai dengan permintaan konsumen.

Produk yang dihasilkan juga ada dua pilihan yaitu bentuk cairan yang mudah disemprotkan dan cairan yang agak kental atau lebih dikenal sebagi gel.

“Formulasi pertama terdiri atas campuran alkohol 70% sebanyak 1000 cc, gliserin 10 cc, pewangi 2 – 5 tetes. Semua bahan dimasukkan dalam satu wadah, kemudian diaduk secara perlahan-lahan sekitar satu menit sehingga konsentrasi merata. Hand Sanitizer sudah siap dikemas dalam botol 100 cc atau 500 cc,” jelasnya.

Formulasi kedua, lanjutnya, terdiri atas campuran alkohol 70% sebanyak 1000 cc, ekstrak daun lidah buaya 10 cc, pewangi 2-5 tetes. Semua bahan dimasukkan dalam satu wadah, kemudian diaduk secara perlahan-lahan sekitar satu menit sehingga konsentrasi merata. Hand Sanitizer sudah siap dikemas dalam botol 100 cc atao 500 cc.

Sementara formulasi ketiga terdiri atas campuran alkohol 70% sebanyak 1000 cc, ekstrak daun lidah buaya 10 cc, ekstrak daun jeruk atau daun serai 2-5 tetes. Semua bahan dimasukkan dalam satu wadah, kemudian diaduk secara perlahan-lahan sekitar satu menit sehingga konsentrasi merata. Hand Sanitizer sudah siap dikemas dalam botol 100 cc atau 500 cc.

Eis Rahmawati, Ketua IWAPI Cabang Kecamatan Bojongsari dalam sambutannya mengatakan setelah selesainya acara pelatihan diharapkan para peserta untuk dapat menindak lanjuti atau meneruskan hasil pelatihan tersebut dalam bentuk usaha sampingan yang terkait dengan pembuatan Hand Sanitizer.

“Atau minimum untuk memnuhi kebutuhan keluarga sendiri yang saat ini masih dalam suasana pandemi Covid 19 dan belum tahu kapan selesinya pandemi ini,” tandasnya.

Namun demikian, kata dia, usaha yang selama ini telah digeluti tetap ditekuni sebagai usaha pokok untuk menopang ekonomi keluarga.
“Tetap menjaga kebersamaan dan menjaga persaudaraan serta untuk saling tukar informasi yang terkait dengan perkembangan usaha masing-masing,” pungkasnya. n Rahmat Tarmuji

.

.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here