Khutbah Jumat: Memilih Ilmu

71
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Wakil Ketua Umum MUI Kota Depok

Diceritakan kembali oleh Syaikh Muhammad Ibn Abi Bakar al-Usfuri dalam karyanya Mawaidz al-Usfuriyah tentang sepuluh pemuka Khawarij. Satu waktu mereka berunding untuk menjajagi kedalaman ilmu yang dimiliki oleh Ali Ibn Abi Thalib. Pasalnya mereka merasa iri dan dengki dengan sabda Nabi SAW, yang dikutip Syaikh Muhammad, yakni “Aku adalah gudang ilmu, sedangkan Ali adalah kuncinya”. Hadits ini ditulis oleh al-Thabrani dan al-Hakim dalam kitab hadits mereka masing-masing.

Para pemuka Khawarij sepakat, “Kita tanyakan satu masalah saja kepada Ali. Kita lihat bagaimana cara Ali menjawabnya. Kalau satu masalah ini dapat dijawab dengan jawaban yang berbeda, maka dapat dibenarkan bahwa dia sungguh sebagai seorang yang hebat ilmunya, seperti yang dikatakan Nabi SAW”. Sepuluh pemuka Khawarij itu menyetujui untuk bertanya kepada Ali satu pertanyaan, “Hai Ali, lebih utama mana ilmu ataukah harta?”.Kemudian mereka mendatangi Ali dan bertanya secara bergantian.

Pemuka Khawarij pertama bertanya, “Lebih utama mana ilmu ataukah harta?” Ali menjawab, “Ilmu lebih utama dari harta. Karena ilmu adalah warisan para nabi, sedangkan harta adalah warisan Qarun dan Fir’aun”. Penanya kedua, “Lebih utama mana ilmu ataukah harta?” Dijawab oleh Ali, “Ilmu lebih utama dari harta. Sebab ilmu dapat menjagamu, sedangkan harta, kamulah yang menjaganya”. Pertanyaan berikutnya masih sama. Lalu Ali bilang, “Ilmu lebih utama dari harta. Sebab orang kaya harta banyak musuhnya, sedangkan orang kaya ilmu banyak sahabatnya”.

Pemuka Khawarij keempat bertanya, “Lebih utama mana ilmu ataukah harta?” Ali menjawab, “Ilmu lebih utama dari harta. Karena harta kalau dibelanjakan berkurang, sedangkan ilmu kalau diberikan bertambah”. Lalu penanya kelima, “Lebih utama mana ilmu ataukah harta?” Dijawab Ali, “Ilmu lebih utama dari harta. Sebab orang yang banyak harta dipanggil dengan sebutan bakhil, sedangkan orang yang banyak ilmu digelari dengan orang yang agung”. Penanya keenam masih bertanya dengan pertanyaan yang sama. Lalu Ali jawab, “Ilmu lebih utama dari harta. Sebab harta perlu dijaga dari pencuri, sedangkan ilmu tidak perlu”.

Pemuka Khawarij ketujuh bertanya, “Lebih utama mana ilmu ataukah harta?” Ali menjawab, “Ilmu lebih utama dari harta. Sebab pada hari kiamat orang yang banyak harta akan dihisab, sedangkan orang yang banyak ilmu mendapat syafa’at”. Disusul penanya kedelapan, “Lebih utama mana ilmu ataukah harta?” Ali menjawab, “Ilmu lebih utama dari harta. Sebab harta akan rusak dimakan waktu, sedangkan ilmu tidak akan rusak dan tidak akan habis sepanjang masa”.

Penanya kesembilan, “Lebih utama mana ilmu ataukah harta?” Ali Menjawab, “Ilmu lebih utama dari harta. Sebab harta dapat menggelapkan hati, sedangkan ilmu justru meneranginya”. Pertanyaan terakhir dari pemuka Khawarij kesepuluh, “Hai Ali, lebih utama mana ilmu ataukah harta?” Lalu Ali menjawab pertanyaan tersebut, “Ilmu lebih utama dari harta. Sebab orang yang banyak harta sering mengaku sebagai tuhan, sedangkan orang yang banyak ilmu kian mempertegas dirinya sebagai seorang hamba yang harus terus-menerus beribadah kepada-Nya”.

Usai menjawab sepuluh pertanyaan pemuka Khawarij dengan sepuluh jawaban yang berberbeda-beda, kemudian Ali berkata, “Jika saja mereka bertanya lagi dengan satu pertanyaan yang sama, maka aku akan tetap menjawabnya dengan jawaban yang berbeda-beda sepanjang aku masih hidup”. Mendengar hal itu akhirnya, para pemuka Khawarij bertekuk lutut di hadapan Ali Ibn Abi Thalib yang mendalam ilmunya, seperti yang disabdakan Nabi SAW, “Aku adalah gudang ilmu, sedangkan Ali adalah kuncinya”.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here