Khutbah Idul Adha 1441 H: Pesan Spiritual dan Sosial Idul Kurban

283
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Wakil Ketua Umum MUI Kota Depok

Kita meyakini kehadiran Idul Adha tahun ini terjadi bukan semata berdasarkan rotasi, yakni perputaran bulan dan matahari. Tapi sungguh kita mohon kepada Allah SWT, Idul Adha menjadi penanda perginya Covid-19 dari muka bumi. Badai yang meluluhlantakkan hampir semua sendi kehidupan kita, mudah-mudahan segera sirna.

Setelah diumumkan oleh pemerintah kita bahwa Covid-19 telah menulari dua warga Depok Jawa Barat pada 2 Maret 2020 silam, sontak kabar ini menjadi berita utama di media massa, baik cetak maupun elektronik. Tak ayal pemberitaan tersebut membuat kita semua panik. Karena jenis virus ini sangat berbahaya dan telah merenggut ribuan jiwa di Wuhan China.

Kita berharap Idul Adha tahun ini akan memberikan sumbangan yang berarti untuk mengurangi penderitaan masyarakat. Kita ingin lepas dari ketergantungan ekonomi, serangan limbah budaya dan berita bohong yang memenuhi media sosial kita yang beberapa bulan lalu menunggang momentum polarisasi politik. Kini kita masih harus menghadapi maraknya prostitusi, narkoba dan operasi tangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi yang melibatkan oknum pejabat negara kita yang serakah. Padahal realitas mereka sudah kaya tak kekurangan makan, pangan maupun papan. Semoga ke depan pemerintah kita berhasil menangani soal risywah yang haram ini.

Sementara itu pada akar rumput, banyak saudara-saudara kita terseok-seok dan tertatih-tatih demi sekadar untuk bertahan hidup. Mereka terpaksa antri berlama-lama mendapatkan sembako murah di tengah mahalnya tarif dasar listrik. Kendati, pada saat yang sama, kita juga menyaksikan di balik prahara ekonomi, budaya, dan politik banyak saudara kita yang malah ternyata tersenyum dengan bibir merekah, karena sukses menangguk keuntungan berlipat-lipat karena melakukan aksi monopoli, monopsoni, kartel, dan tender hanya sandiwara saja.

Sebagai anak bangsa kita merasa pilu dan malu menyaksikan semua ini. Harus ada solusi untuk keluar dari jeratan mengkhawatirkan ini. Tentu kita menaruh harapan kepada kepemimpinan baru di negeri ini baik, legislatif, eksekutif, dan yudikatif dari level terendah hingga tertinggi. Semoga para pemimpin kita dapat bekerja dengan baik untuk membawa negeri ini menjadi negeri yang ”baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur”. Aamin

Pada Idul Adha tahun ini kita harus meyakini bahwa para pejabat, baik legislatif, eksekutif, dan yudikatif akan terus berjuang sekuat tenaga untuk membuat kita bahagia. Karena memang tidak mudah untuk membangun negara bangsa sebesar Indonesia dengan ribuan pulau yang bermil-mil jauhnya. Kalau selama ini kita sudah merasa sama-sama bekerja untuk negara kita, maka mari kita bekerjsaama. Saling-topang, saling-dukung dalam membangun. Kita harus bersedia merubah paradigma dari membangun daerah kepada daerah membangun yang meniscayakan keterlibatan rakyat secara semesta.

Idul Adha disebut juga Idul Kurban. Disebut demikian karena umat Islam pada saat itu, bagi yang mampu, memotong hewan ternak berupa sapi atau kambing dan sejenisnya sebagai lambang ketakwaan dan kepatuhan terhadap perintah Allah. Dalam tatapan lensa sejarah masa lalu, penyembelihan hewan berasal dari syari’at Nabi Ibrahim yang kemudian dilestarikan oleh Nabi Muhammad dan terus dipertahankan hingga kini. Ibadah ini berlangsung ba’da shalat Idul Adha dan hari-hari tasyrik, yakni pada tanggal 11,12 dan 13 Dzulhijjah (sampai matahari terbenam). Di luar waktu tersebut, tidaklah dikatakan sebagai kurban, tapi sebuah perbuatan amal baik biasa.

Sebagai sebuah refleksi historis, Idul Adha atau yang biasa disebut sebagai Hari Raya Kurban merupakan simbol ketaatan, pengorbanan, dan cinta. Nabi Ibrahim yang hidup di tengah masyarakat bercorak pastoralis (kelompok masyarakat peternak), melambangkan sosok ayah yang demokratis. Kendati Allah yang memberi perintah untuk mengorbankan Nabi Ismail, Nabi Ibrahim tetap mempunyai pertimbangan kemanusiaan. Dalam bahasa puitis al-Qur’an dialog Nabi Ibrahim itu berbunyi, “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu”? (QS. al-Shaffat/37: 102).

Sebagai seorang anak, Nabi Ismail adalah representasi anak yang penuh bakti, baik kepada orangtua apalagi kepada Allah. Di usia muda, Nabi Ismail sudah memiliki keinsyafan spiritual sebagai manusia pada yang Maha Absolut. Nabi Ismail dengan penuh kerendahan hati dan percaya diri meminta agar Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan. Nabi Ismail mengatakan, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. al-Shaffat/37: 102).

Dengan demikian ibadah Kurban bisa dimaknai sebagai pemberian sesuatu yang paling dicintai untuk dipersembahkan kepada Yang Maujud, Allah. Dalam konteks sosio-historis Nabi Ibrahim, Nabi Ism’ail, dan Siti Hajar terbukti telah mampu meniadakan rasa cinta dunia untuk menggapai cinta akhirat. Mereka rela mengorbankan sang anak, Nabi Isma’il, karena perintah Allah yang mereka yakini ada dan hadir di tengah mereka. Keyakinan akan Ke-Maha-Hadiran-Nya secara profan inilah yang dikatakan oleh filosof Jerman Max Scheler, sebagai dasar aktifitas ruhaniah manusia. Jadi ibadah Kurban sedianya menjadi media efektif untuk melatih diri agar selalu erat dan dekat kepada Allah.

Masalahnya kini, apakah rangkaian Idul Kurban termasuk penyembelihan hewan ternak telah benar-benar menimbulkan kesadaran spiritual atau batiniah umat ataukah sekedar mode, ikut-ikutan, dan sesuatu yang terjadi berulang-ulang saja? Kalaulah jawabannya adalah yang kedua, berarti kita patut untuk menata kembali pemahaman kita mengenai hakikat kurban. Secara tak sadar, kita saat ini telah terjebak dalam gerak tubuh dan lambang keagamaan yang justru akan menempatkan kita pada ruang gelap-hitam. Sehingga pesan spiritual ibadah kurban tidak mampu dilihat, baru sekedar dikira dan diraba.

Misalnya, titah Allah tentang nash ibadah kurban dalam surat al-Kautsar/108 ayat 1-2 yang maknanya “Sesungguhnya, telah kami tebarkan nikmat yang banyak kepadamu. Maka, dirikanlah shalat dan berkurbanlah”.

Ayat di atas, tentunya terbuka untuk ditafsirkan sesuai dengan konteks sosial budaya kemasyarakatan tertentu sebagai upaya menyelami makna terdalam al-Qur’an. Sehingga kurban, saat ini, bisa jadi amat berbeda dengan apa yang keluarga Nabi Ibrahim laksanakan sebagai kelompok masyarakat pastoralis (kelompok masyarakat peternak) saat itu. Mereka menilai daging (hewan ternak) merupakan hewan berharga sehingga patut dikurbankan sebagai bukti ketaatan kepada Allah.

Dalam kaitan di atas, kiranya perlu disimak Kalam Mulia Allah yang menegaskan: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan kamulah yang dapat mencapainya”. (QS. al-Hajj/22:37). Maksudnya, mesti dipahami bahwa kurban memiliki segi spiritual yang dapat dikembangkan dan diolah, sehingga pemahaman terhadapnya bukanlah sekedar terhadap hal-hal yang bersifat ragawi atau bendawi saja. Hakikat kurban terdalam bukanlah terletak pada rangkaian ibadah mulai dari shalat Ied sampai penyembelihan hewan kurban dan gema takbir yang mengiringinya.

Karena itu, kebersihan jiwa, keikhlasan beramal, sesungguhnya untuk mendapat ridha Tuhan dalam ibadah kurban, kiranya, menjadi prasyarat tersirat yang jika tidak dimiliki akan membuat perbuatan tersebut sia-sia. Atau pengorbanan tersebut akhirnya sekedar menjadi lipstik belaka. Kesalehan yang diraihpun hanyalah kesalehan sosial atau kesalehan simbolik an sich.

Dari segi sosial dan kemanusiaan, peristiwa kurban memiliki makna yang amat penting. Selain akan mengubur semangat individualistis dan tradisi memamerkan kekayaan yang kian tumbuh subur saat ini, secara nyata masyarakat miskin dan tidak mampu akan merasa “tergembirakan” hatinya dengan menerima hewan kurban.

Tentunya, peristiwa ini akan dapat menumbuhkan solidaritas kemanusiaan di antara sesama secara berkelanjutan. Dalam kehidupan nyata di negeri kita saat ini, misalnya memberikan bantuan sembako, bantuan dana untuk program pengembangan usaha menengah, kecil dan koperasi, dan pasar murah di halaman berbagai kantor dan pelataran masjid. Aktivitas ini, belakangan digerakan oleh berbagai kelompok elit kekuasaan, pengusaha, dan aktivis keagamaan.

Kita berharap semua yang telah mereka lakukan dalam pandangan Tuhan dinilai sebagai kebajikan. Seperti firman-Nya, “Kamu sekalian tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu mendermakan sebagian dari (harta) yang kamu cintai” (QS. Ali Imran/3:93).

Memang, dalam kehidupan aktual, indikasi keimanan dan ketakwaan dapat berbentuk kepedulian sosial, penghargaan terhadap kemanusiaan manusia, memperjuangkan terciptanya demokrasi ekonomi-politik serta yang lainnya. Dengan kata lain, Idul Kurban harus mampu menggugah solidaritas kemanusiaan, tidak saja di antara kaum mislimin, tetapi melewati batas-batas agama, suku, bangsa, ras, dan status sosial. Kesimpulannya, dapat dipahami bahwa penyembelihan kurban hanyalah jalan (thariqah) dan bukan jaminan (borg) untuk mendapatkan kualitas keimanan dan ketakwaan. Jerih payah seseorang akan dibalas setimpal dengan apa yang terdetak di hatinya. Keringat tak akan berkhianat.

Misalnya, seperti diisyaratkan Allah “Barang siapa mengejar kemegahan dunia dan kemasyhuran, kami beri ganjaran atas perbuatannya dan mereka tidak diragukan di dalamnya. Tetapi di akhirat, bagian mereka tinggallah api neraka. Tidak berguna hasil pekerjaannya di dunia. Dan, sia-sialah amalnya”. (QS. Huud/11:15-16).
Dari kerangka ini, bisa dipahami bahwa Idul Adha merupakan motivator bagi kekuatan transformatif untuk perubahan kehidupan sosial yang lebih adil, sejahtera, dan penuh cinta. Allah memberi titah, “Sesungguhnya, telah Kami tebarkan nikmat yang banyak kepadamu. Maka, dirikanlah shalat dan berkurbanlah” (QS. al-Kautsar/108:1-2). Bagi kita, perintah berkurban dalam ayat di atas mencapai momentumnya saat ini. Dan secara teologis, ayat ini meniscayakan adanya pembelaan, keberpihakan, pengorbanan, dan cinta setiap Muslim untuk bangsa kita.

Sedangkan perilaku oral-spiritual belaka bukanlah kebaktian dan cinta yang sesungguhnya. Hal ini ditegaskan dalam al-Qur’an, “Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada suatu kebaktian yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai” (QS. Alu Imran/3: 92). Cinta dalam konteks keindonesiaan saat ini bisa dimaknai, meminjam terminologi Erich Fromm, sebagai sebuah tindakan yang aktif, bukan perasaan yang pasif. Sifat cinta itu memberi bukan menerima. Ia lahir dari sebuah keputusan yang bersendikan akal bukan khayal. Singkat kata Idul Adha adalah kembali berkarya nyata untuk membantu sesama.

Perintah untuk berkurban yang merupakan sunnah muakkadah (sunah yang sangat penting), selain memperteguh kesalehan individual, juga menebar menjadi kesalehan sosial. Penekanan ibadah Kurban terletak pada pembuktian secara empiris pembelaan kaum Muslim kepada mereka yang miskin, lemah, tertindas, dan mereka yang saat ini tengah berduka karena musibah yang melanda. Dalam ibadah Kurban pesan yang semestinya menjelma adalah kontekstualisasi kesadaran ketuhanan (God-consciousness) terhadap kondisi sosial-kemasyarakatan yang kini sedang perih-merintih.

Jadi, tujuan tertinggi ibadah Kurban tidak hanya menggantung di langit, tapi juga berakar dengan kokoh di bumi. Bahkan Kurban, bukanlah semata persembahan (offerings) seperti dalam agama di luar Islam. Sekali lagi Allah tidak makan daging. Darah dan daging itu hanyalah sarana untuk mendekatkan mereka yang kaya kepada orang-orang miskin. Allah katakan, “Tidak sampai kepada Allah daging dan darahnya. Tetapi yang sampai kepada-Nya hanyalah ketakwaanmu” (QS. al-Hajj/22: 37). Predikat takwa baru didapat, bila kita tidak hanya mendekat kepada Tuhan, tetapi juga merapat kepada manusia. Kurban (Qurbaan), sesuai makna generiknya “mendekatkan”; ia mendekatkan manusia kepada Allah dan manusia sekaligus.

Semangat ajaran Kurban sedianya menjadi kritik dan koreksi terhadap model keberagamaan kita selama ini. Hendaknya semarak kehidupan spiritual-keagamaan yang menghentak dan diperagakan secara massif di muka publik turut meningkatkan solidaritas pada ranah kehidupan sosial-kemanusiaan. Kebaktian kepada Tuhan tidak ditandai oleh kian banyaknya orang berhaji, tumbuhnya pendidikan Islam, semaraknya dakwah, menjamurnya tempat ibadah, ramainya perayaan-perayaan keislaman, termasuk kian “hijaunya” wajah parlemen dan layar kaca. Segala macam ritual dalam Islam meliputi gerak fisik, batin, dan karya nyata yang fungsional bagi penyelesaian berbagai problem kemanusiaan, sosial, dan budaya. Ibadah Kurban sejatinya dimaknai semangat seperti ini. Inilah pesan kontekstual Kurban sebagaimana diseru al-Qur’an, “…lalu makanlah sebagian dari dagingnya dan beri makanlah (dengan bagian yang lainnya) orang fakir dan sengsara” (QS. al-Hajj/22: 28).

Perintah penyembelihan, bila dibaca secara “teologis-radikal” sebenarnya mengisyaratkan agar manusia “menyembelih” perbuatan jahat dan tabiat buruknya. Dalam konteks berbangsa dan bernegara saat ini, kontekstualisasi ibadah Kurban terletak pada kesediaan untuk “menyembelih” nafsu angkara-murka, kemudian bergerak mengoreksi ranah kehidupan sosial, ekonomi, panggung politik, lembaga pengadilan dan aparat keamanan, serta mereka yang memanggul amanah rakyat di lembaga legislatif dan eksekutif. Idul Kurban, dengan demikian, merupakan prosesi “penyembelihan” potensi sebagai pembohong, pengkhianat, penipu, perampok, curang, dusta, sumpah palsu, manipulasi, dan memperjual-belikan hukum.

Dengan ber-Idul Adha sedianya kita juga “menyembelih” budaya korupsi dan kesemerautan birokrasi dari tingkat terendah hingga yang memuncaki negeri ini. Bukan lagi rahasia, semua hajat kita baru akan lancar jika disertakan di dalamnya (di bawah tangan) uang “imbalan”. Dan biasanya akan pendek umur pekerjaan atau posisi seorang pejabat yang berani bersikap adil, jujur, amanah, tegas, dan profesional. Di pompa bensin, pertokoan, atau ketika kita belanja lalu meminta daftar harga, penjaga toko langsung saja menawarkan kita, bon-nya mau ditulis berapa. Menyedihkan, bila kita harus membenarkan orang yang mengatakan bahwa kebenaran menjadi barang langka dan hanya ditemui di dalam kitab suci.

Betapa indahnya bila momentum keagamaan seperti Idul Kurban membuahkan kejujuran, menyingkirkan ketamakan, dan mengedepankan keadilan untuk semua. Kecurigaan anak bangsa kepada penegak hukum seperti jaksa, pengacara, polisi, dan hakim seketika sirna. Termasuk kepada para pemimpin di tingkat legislatif dan eksekutif, dan yudikatif mereka tak lagi menuai kritik dan goresan tinta hitam. Mereka dipercaya sepenuhnya akan menjalankan roda pemerintahan secara adil, mengangkat pejabat sesuai bidang keahliannya, bukan karena kedekatan, kekerabatan, satu kelompok, partai atau golongan. Bila saja, kontekstualisasi Idul Adha tahun ini menyentuh para pemimpin kita, maka dapat dipastikan akan berbuah pembelaan kepada mereka yang berduka dan sengsara. Mari bersama kita bangun bangsa dan negara ini dengan cinta, berkorban, dan berkurban!*

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here