Aktivitas di Sekolah Lumpuh, Tukang Cilor Menjerit

270
Salah satu tukang Cilor yang biasa mangkal di sekolah kini harus berkeliling

Limo | jurnaldepok.id
Sejumlah pedagang makanan dan minuman ringan yang biasa mangkal diseputar sekolah mengaku sangat terpukul dengan kebijakan libur panjang sekolah pada masa Pandemi yang diganti dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Pasalnya, selama ini para pedagang cenderung mengandalkan para siswa sekolah sebagai konsumen ketimbang pembeli dari masyarakat umum.

Ujang Sopyan, pedagang Cilok Goreng (Cilor) yang mangkal didepan SDN Krukut 01 mengaku kehilangan omzet hingga lebih dari 60 persen sejak sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) diterapkan.

“Kami para pedagang lebih banyak mengandalkan pembeli dari kalangan anak sekolah, makanya begitu diberlakukan kebijakan PJJ, penghasilan kami turun drastis bahkan lebih dari 60 persen,” ujar Ujang kepada Jurnal Depok, kemarin.

Dikatakan Ujang, biasanya dirinya bisa menghabiskan sebanyak 100 tusuk Cilor sehari, namun sejak anak sekolah diliburkan, dagangannya hanya laku 35 hingga 40 tusuk.

“Beruntung kami mangkal diluar sekolah dan posisinya dipinggir jalan, sehingga masih ada pembeli dari masyarakat umum, meskipun enggak banyak,” imbuhnya.

Keluhan yang sama dilontarkan oleh Juhri pedagang Cireng didepan Gedung SDN Limo 02 dan SDN Limo 03.

“Kalau sekolah enggak libur, saya bisa menjual 400 butir cireng, dan keuntungannya bisa mencapai Rp 160 ribu, tapi dengan diliburkannya anak sekolah, paling banyak saya menjual 150 butir cireng dengan keuntungan sekitar Rp 65 hingga 70 ribu rupiah,” papar Juhri.

Meski kondisi berjualan diareal sekolah sedang sepi, namun Juhri mengaku masih bersyukur lantaran masih ada pembeli dari masyarakat umum yang membuatnya masih bertahan melaksanakan aktivitas berjualan Cireng didepan SDN Limo 02 dan SDN Limo 03.

“Mau gimana lagi, kami harus sabar, sambil menunggu kondisi kembali normal dan anak sekolah kembali masuk sekolah,” imbuhnya.

Terpisah, Kepala SDN Krukut 01, Saroji mengatakan sudah menutup Kantin Sekolah sejak Pandemi Korona merebak.

“Sudah sejak bulan Maret, Kantin kami tutup, memang kasian juga dengan pedagang di Kantin yang tidak memiliki kesempatan untuk berjualan, tapi mau gimana lagi ini sudah menjadi konsekwensi karena kondisi,” kata Saroji, kepada Jurnal Depok.
Terkait penyelenggaraan kegiatan bepajar mengajar (KBM), Saroji memastikan hingga saat ini pihaknya masih menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) sesuai ketentuan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah dalam hal ini Satgas Percepatan Penanganan Covid 19.

“Kami tetap menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), tapi memang terkadang ada kendala dan saat itu kami menerapkan sistem Home Visit artinya Guru datang kerumah siswa tentunya tetap menerapkan protokol kesehatan,” tutup Saroji. n Asti Ediawan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here