Hari Pertama Pembelajaran Jarak Jauh, Orang Tua Siswa Merasa Kerepotan

287
ilustrasi

Margonda | jurnaldepok.id
Hari pertama Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dirasa merepotkan bagi orang tua siswa.

Shinta, salah satu orang tua murid kepada wartawan mengatakan, persiapan sudah dilakukan sejak semalam mulai dari menyiapkan gadget dan perlengkapan lain seperti buku serta alat tulis.

Hal ini bukan kondisi yang biasa karena para siswa harus belajar dari rumah. Karena biasanya, para siswa menjalani hari pertama sekolah dengan tatap muka secara langsung, namun berbeda dengan kali ini. Mereka harus terbiasa dengan metode PJJ.

Yang menjadi kendala adalah orang tua dengan lebih dari satu anak dan harus melakukan PJJ secara bersamaan.

“Anak aku dua. Yang satu TK, yang satu kelas 3. Nah dua-duanya masih harus didampingi, jadi aku repot bolak-balik dari yang TK terus yang SD,” ujarnya, Senin (13/7).

Dia merasa kerepotan dengan PJJ yang dilakukan secara bersamaan dengan tingkatan kelas berbeda.

Terlebih, kata dia, anaknya yang masih TK belum bisa menguasai teknologi dengan baik.

“Yang anak TK masih belum bisa urus Zoom sendiri. Untuk ‘mute’ aja belum bisa. Jadi saya harus mondar-mandir,”katanya.

Kerepotan serupa dialami Zahra, wali murid lainnya. Dia pun memiliki dua anak. Namun yang bersekolah baru satu saja. Kendala yang dialami karena anaknya yang kecil sakit dan harus berobat ke dokter. Namun di saat bersamaan, dia juga harus mendampingi anaknya yang besar untuk PJJ.

“Anakku yang bayi lagi sakit dan mau berobat, tapi bingung karena khawatir juga harus nemenin kakaknya yang PJJ,” tandasnya.

Diakui dia, bahwa kondisi seperti ini sangat merepotkan dirinya. Biasanya, kata dia, jika anak yang besar pergi ke sekolah, dia bisa melakukan aktivitas lainnya.

“Karena ini belajar di rumah, jadi ya orang tua yang menjadi guru dan mengawasi. Jadi kegiatan lain tertunda bahkan jadi banyak yang terpaksa dibatalin,” jelasnya.

Tina, salah satu orang tua siswa mengatakan, selama pandemi ia tidak keberatan dengan pembelajaran sistem daring yang dianjurkan pemerintah.

“Kalau masih pandemi seperti saat sekarang ini sistem daring atau pembajaran online tidak apa-apa. Hanya, jika boleh ada keringanan pembayaran SPP karena selama satu semester KBM berjalanan PJJ sampai akhir tahun,” pungkasnya. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here