Tagihan Melonjak, Lebih dari 2.000 Pelanggan Komplain ke Kantor PLN

363
Perwakilan PLN saat memberikan penjelasan kepada awak media

Sukmajaya | jurnaldepok.id
Sekitar 2.000 pelanggan Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengajukan komplain terkait rekening listrik yang dinilai mengalami kenaikan meroket.

Manajer PLN UP3 Depok Kota, Putu Eka Astawa kepada wartawan mengatakan, PLN Depok mencatat ada sekitar lebih dari 2.000 pelanggan yang telah mengajukan komplain terkait lonjakan tagihan listrik pada periode Juni 2020.

“Komplain atau aduan tersebut terjadi sejak 5 Juni 2020 sampai dengan saat ini. Saya bicara UP3 Depok kota ya. Artinya tidak hanya khusus di sini, tapi kalau diketahui di sini saja rata-rata setiap hari kami kedatangan antara 400-500 orang per hari,” ujarnya, kemarin.

Puncak aduan terjadi pada Senin 8 Juni 2020 dan Selasa 9 Juni 2020.

“Nah kemarin agak turun sedikit hanya sekitar 300-an orang yang komplain, dan hari ini mungkin bisa antara 300 orang juga,”katanya.

Jika dihitung secara keseluruhan sampai dengan saat ini, sambungnya, ada lebih dari 2.000 pelanggan yang telah mengajukan keluhan.

“Angka itu sudah digabung khusus PLN Depok kota ya. Kan di sini (Depok) ada empat unit PLN lain. Dari 2.000 pelanggan tersebut, sekira 70 persen memilih datang langsung ke posko aduan,” jelasnya.

Dikatakannya, keluhan yang disampaikan bervariasi namun umumnya merasa keberatan dengan tingginya tagihan pada periode Juni.

“Bervariasi ada yang kenaikannya sampai 20 persen, 50 persen dan dominan memang di sana kenaikan 20 hingga 50 persen,” ucapnya.

Dia menegaskan, pihaknya tidak hanya menerima layanan secara langsung namun juga bisa melalui online atau sambungan telepon.

“Masing-masing petugas kami itu menangani terkait dengan datang langsung ada juga yang melakukan telepon. Intinya upaya preventif dan memberikan penjelasan melalui telepon,” tuturnya.

Eka mengaku keluhan yang dilontarkan pelanggan pun bervariasi, ia pun tak menampik ada yang mengaku rumahnya kosong namun tagihan dirasa membengkak.

“Ini harus kita cek satu-satu semua kondisi pelanggan itu beda-beda. Banyak sekali situasinya, pelanggan datang dengan cerita yang bervariasi,”katanya.

Tagihan bulan Mei dan bulan April itu adalah rata-rata tagihan tiga bulan sebelumnya.

“Tagihan tiga bulan sebelumnya artinya kan memang pemakaian ril di Januari, Februari, Maret dan tercatat. Tapi kondisi di sana kan kita tidak tahu setiap pelanggan. Kalau misalnya pemaikaian kecil apakah karena kosong,” ungkapnya.

Kemudian bulan periode Mei ini, lanjutnya, mungkin ditinggal atau mungkin rumhanya kosong.

“Nah yang diambil acuannya kan pencatatan tiga bulan sebelumnya. Bisa jadi kami haus cari tahu,” jelasnya.

Eka menegaskan, pada prinsipnya PLN membuka penjelasan yang seluas-luasnya kepada pelanggan. Adapun caranya adalah, pertama memberikan data angka catatan meter yang dilakukan petugas pada akhir Mei.

“Kami sampaikan bahwa ini adalah angka meter yang menjadi acuan sampai bulan Juni. Kemudian pelanggan juga memperlihatkan contoh atau struk tagihan mereka di akhir atau di Mei. Itu yang menjadi acuan. Pasti pelanggan bingung kenapa bulan Mei pemakaiannya meningkat signifikan, karena pemakaian di bulan Mei dan April itu adalah rata-rata pemakaian sebelumnya tidak mencerminkan ril pemakaian di bulan tersebut, akhirnya terakumulasi,” katanya.

Putu mengklaim, dari 2.000 pelanggan yang telah mengajukan komplain, sekira 70 hingga 80 persen di antaranya telah memahami persoalan dan bersedia melunasi tagihan rekening listrik. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here