Tagihan Listrik Melonjak, Kantor PLN Didatangi Pelanggan

1721
Terlihat kerumunan warga yang mendatangi Kantor PLN di wilayah Sukmajaya

Sukmajaya | jurnaldepok.id
Melonjaknya tagihan rekening listrik membuat warga yang penasaran kemudian mendatangi Kantor PLN di Jalan Sentosa Raya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok.

Dian Andara, salah satu konsumen PLN mengatakan tagihan rekening listriknya untuk bulan Juni 2020 melonjak 100 persen.

“Biasanya saya bayar Rp 700.000 tiap bulannya. Sekarang jadi Rp 1,4 juta. Saya jelas kaget dan harus komplain ini sih. Biar jelas kenapa naiknya besar sekali lonjakannya,” ujarnya, Senin (8/6).

Dia mengajak kepada warga atau konsumen PLN untuk mengadu ke Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN).

Warga Depok lainnya, Febriana mengalami hal serupa. Ia mengungkapkan, setiap bulan tagihan listrik di rumahnya hanya Rp 120 ribu. Namun pada bulan Juni ini melonjak menjadi Rp 441.000.

“Lonjakannya tinggi sekali. Saya sampai shock. Kenapa jadi tinggi sekali,”katanya.

Sementara itu konsumen PLN lainnya, Sarjono menambahkan, sejak kemarin malam, listrik di kediaman mereka, Perumahan BSI Sawangan, mati total. Persisnya sejak pukul 19.00.

Sarjono tak habis pikir dengan pemadaman yang terjadi di rumahnya.

“Seminggu dua kali (mati listrik). 1-2 jam, konsisten mati listriknya,”katanya.

Dia mengungkapkan bahwa pemadaman listrik ini sejatinya dialami semua warga di perumahannya. Dimulai sekitar pukul 19.00 hingga sekitar pukul 20.00.

“Tapi anehnya, listrik di rumah saya dan Pak Jerry masih mati. Saya sudah telepon PLN, katanya petugas segera datang, sampai sekarang gak datang. Dari semalam kami tunggu,” katanya.

Dia meminta PLN segera bertindak. Sebab, banyak kerugian yang dia harus tanggung.

“Saya ini kerja digital. Ngandelin internet. Sehari-hari di depan komputer, urus web klien,” ungkapnya.

Menanggapi ini, Manajer PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Depok, Putu Eka Astawa mengatakan hal tersebut dikarenakan tagihan sebelumnya karena dirata-ratakan maka menyebabkan pemakaian sebenarnya tidak nyata.

“Tapi, untuk lebih jelasnya nanti akan dipastikan dengan mencocokkan foto-foto stan dan history tagihan sebelumnya,” jelasnya.

Lebih lanjut diungkap Putu, kenaikan pemakaian akibat work from home (WFH) yang diakumulasi pada tagihan bulan Juni.

Ini disebabkan, kata dia, oleh tidak dicatatnya angka stan meter kwh pada bulan Maret dan April sehingga tagihan April (pemakaian Maret), Mei (pemakaian April) adalah rata-rata tagihan tiga bulan sebelumnya.

“Untuk memudahkan petugas melakukan analisa, maka dapat menghubungi 123/kantor PLN terdekat dan menyertakan struk pembayaran tagihan listrik bulan April, Mei dan foto/angka stan Kwh meter terkini,” jelasnya.

Selain itu, lanjut dia, pelanggan juga dapat menghitung sendiri berapa pemakaian listrik setiap bulannya dengan download aplikasi PLN Mobile. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here