Khutbah Jumat: Rindu Shalat Jumat di Masjid

131
KH Syamsul Yakin

Ole: KH Syamsul Yakin
Wakil Ketua Umum MUI Kota Depok

Tak bisa disangkal kita rindu shalat Jumat di masjid setelah lebih dari sepuluh kali menggantinya dengan shalat Zuhur di rumah. Namun di era pandemik Covid-19 ini, rindu semata tak cukup jadi alasan. Rindu harus berdasarkan akal dan perhitungan rasional, bahkan statistik dan permodelan matematika berdasar kenyataan obyektif.

Saat ini kita memasuki masa new normal atau tatanan hidup yang baru di tengah pandemik Covid-19. Pada sebagian wilayah seperti Jawa Barat new normal diistilahkan dengan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Indikator diterapkannya AKB di Depok harus berdasar pada kian kecilnya angka reproduksi efektif (Rt).
Menurut ahli statistik angka Rt dihasilkan dengan menggunakan permodelan matematika. Rt kota Depok berfungsi untuk memantau laju penyebaran Covid-19 hingga tingkat kelurahan. Angka Rt di Depok dihitung oleh Gugus Tugas dan pakar epidemologi.

Sebelum Rt yang dijadikan ukuran mengidentifikasi infeksi virus, dikenal juga RO (R-naught). RO adalah angka reproduksi awal. Di Depok RO dihitung mulai hari ke-17 pandemik yakni pada 19 Maret 2020 ketika jumlah kasus sudah kebih dari 10.

Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang tertahap-tahap di Depok terbukti memperkecil Rt. Ditambah dengan perilaku masyarakat yang menjaga jarak diri dan sosial, memakai masker, dan cuci tangan. Termasuk aktifnya pemkot Depok melakukan rapid test, swab tenggorokan, dan Polymerase Chain Reaction (PCR).

Rt di Depok pada hari ke-88 musibah pandemik Covid-19 ada pada angka 1,39. Angka ini bisa dibaca bahwa seorang pasien masih dapat menularkan kepada yang lain sebanyak 1 orang lebih, jadi masih sangat berbahaya. Namun, memasuki hari ke-91 tepatnya pada 28 Mei 2020 Rt di Depok turun jadi 0,89. Angka ini bila dipertahankan akan mengarah pada 0 penularan.

Turunnya Rt ini adalah buah pengertian, kesadaran, dan dukungan masyarakat terhadap program percepatan penanganan Covid-19 yang dinakhodai pemerintah kota Depok bersama ulama dan ormas Islam, serta pemuka agama-agama. Angka Rt ini harus dipertahankan paling tidak hingga Kamis 04 Juni 2020 berbarengan dengan berakhirnya PSBB.

Namun menurut para ahli angka Rt 0,89 itu adalah angka yang masuk kategori area abu-abu (grey area). Sedangkan persyaratan pelonggaran PSBB adalah apabila angka Rt beranjak menjadi lebih kecil dari 1 selama 5 hingga 14 hari. Semoga sebelum berakhirnya PSBB angka Rt Depok ada pada angka 0,6 yang artinya seorang pasien hanya menulari 0,6 orang lainnya.

Selanjutnya penerapan AKB di Depok mensyaratkan peniadaan PSBB. Peniadaan PSBB dilakukan berdasarkan perhitungan statistik dan permodelan matematika hingga bertemu angka Rt berturut-turut selama 5 hingga 14 hari di bawah 1. Saat ini adalah masa-masa di mana kita menjaga momentum melandainya Covid-19 agar jadi turun, sebab Rt 0,89 masih fluktuatif.
Kerinduan umat Islam untuk shalat Jumat di masjid akan luruh pada saat penerapan AKB. AKB itu sendiri lebih diartikan sebagai masa transisi dari masa pandemik Covid-19 kepada keadaan normal seperti sediakala. Maka shalat Jumat pada masa AKB memerlukan panduan baik protokol kesehatan maupun ibadah.

Protokol kesehatan shalat Jumat di masjid pada masa AKB dapat dirumuskan oleh tim ahli dokter yang tergabung dalam Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 kota Depok yang dipimpin oleh Walikota Depok. Sedangkan panduan ibadah bisa dibuat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok. Semua ini dilakukan agar tidak ada euphoria terbebas dari Corona.

Shalat Jumat pada masa AKB di masjid dapat dilakukan dengan tersedianya alat pengukur suhu dan sabun cuci tangan. Sebaiknya masjid telah disterilisasi. Untuk jamaah yang sakit, sepuh, dan anak-anak agar tetap shalat di rumah. Shalat Jumat dilakukan lebih singkat. Kalau jamaahnya membludak boleh secara bergelombang. Agar tetap jaga jarak.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here