Tak Memiliki Izin, Puluhan Sales Obat Digiring ke Kantor Kelurahan

371
Sales obat saat dimintai keterangan di kantor kelurahan

Limo | jurnaldepok.id
Puluhan sales obat herbal digelandang ke Kantor Kelurahan Grogol oleh Babinkamtibmas dan Babinsa Kelurahan Grogo, lantaran telah melakukan aktivitas pemeriksaan kesehatan dan menjual obat langsung ke masyarakat tanpa mengantongi izin dari Dinas Kesehatan dan pihak terkait.

Kepala Kantor Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo, Danudi Amin mengatakan pihaknya menerima laporan dari warga terkait sepak terjang para sales yang melakukan pemeriksaan kesehatan dan menjual obat.

“Kami mendapat laporan bahwa ada aktivitas pemeriksaan kesehatan dan transaksi jual beli obat yang dilakukan oleh sejumlah sales dalam melaksanakan kegiatan itu, para sales ternyata tidak memiliki izin dari pihak terkait, mereka hanya meminta data dari ketua RT. Makanya kami panggil para sales obat itu untuk diperiksa kelengkapan surat tugas dan izin melakukan praktek pemeriksaan kesehatan, ternyata para sales itu tidak memiliki izin dari Dinas Kesehatan untuk melakukan kegiatan itu,” ujar Danu, Selasa (2/6).

Dia menambahkan, selain tak mengantongi izin dari pihak terkait, kegiatan para sales obat itu sudah meresahkan warga lantaran ada warga yang mengaku menderita sakit gatal-gatal setelah mengkonsumsi obat yang dibeli dari sales obat tersebut.

“Kami sudah cek ke Dinkes ternyata mereka tidak memiliki izin untuk melakukan kegiatan pemeriksaan kesehatan kepada warga, obat yang dijual juga diduga tidak terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM),” imbuhnya.

Selain tidak memiliki izin melaksanakan kegiatan pemeriksaan kesehatan masyarakat, aksi para sales obat herbal itu dikhawatirkan dapat membahayakan kesehatan warga terlebih setelah dilakukan pemeriksaan peralatan yang digunakan untuk test darah menurut petugas Puskesmas Limo tidak memenuhi standart operasional sebagaimana mestinya.

“Mereka menggunakan mikroskop untuk melakukan pengecekan darah dengan menggunakan satu jarum suntik untuk semua, hal ini menurut petugas Puskesmas sangat berbahaya,” tegas Danu.

Kepada Jurnal Depok, H Ruming salah satu warga mengaku terpaksa membeli 10 botol obat senilai Rp 3,5 juta lantaran menurut para sales penyakit yang dideritanya berat, sehingga harus mengkonsumsi beberapa jenis obat yang dijual oleh sales.

“Tadinya saya enggak minat, tapi kata dia penyakit saya berat dan harus beli 10 botol, tapi ternyata setelah saya minum obat itu malah badan saya gatal-gatal,” katanya.

Pernyataan senada dilontarkan oleh Hj Ijo yang terpaksa membeli enam botol obat seharga Rp 2,1 juta.

“Saya disuruh beli enam botol seharga Rp 2 juta lebih,” kata Hj Ijo.

Sementara Feri, Asisten Manajer PT Rajawali Grup Healt selaku distributor obat herbal bermerk Colfit mengaku belum mengantongi izin untuk melakukan kegiatan pemeriksaan dan penjualan obat di wilayah Kota Depok, dengan dalih pihaknya baru melaksanakan test market.

Namun dirinya membantah jika obat yang dipasarkan tidak terdaftar di Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

“Ya, kami belum ada izin karena kami masih melakukan test market, tapi kalau obat yang kami pasarkan terdaftar di BPOM, dan kami siap mengembalikan uang warga jika tidak jadi membeli obat kami, ” tukas Feri.

Hingga berita ini ditulis kemarin siang, puluhan sales masih diintrogasi di aula Kantor Kelurahan Grogol, sambil menunggu tindakan selanjutnya. n Asti Ediawan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here