Memakai Rompi Warna Orange, Pelanggar PSBB Disuruh Nyapu Jalan Margonda

1144
Salah seorang pelanggar PSBB saat menjalani sanksi menyapu Jalan Margonda

Pancoran Mas | jurnaldepok.id
Sejumlah pelanggar penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Depok diberi sanksi untuk menyapu jalanan seperti di Jalan Margonda, Kecamatan Pancoran Mas.

Sebelum menyapu jalanan, pelanggar PSBB dipakaikan rompi warna orange yang dibelakangnya bertuliskan pelanggar PSSB. Dengan menggunakan jaket berwana orange sambil memegang sapu lidi, pelanggar PSBB menyapu pinggir jalan hingga belasan meter.

Tidak hanya itu saja, pelanggar PSBB juga berikirar atau berjanji untuk tidak mengulangi pelanggaran masa PSBB.

“Pelanggar PSBB kami beri sanski nyapu dijalanan, pelanggar tersebut tidak memakai masker,”kata Budi, salah satu petugas di pos Check Poin Margonda-Siliwangi, kemarin.

Tidak hanya itu saja, petugas juga menutup paksa salah satu coffe shop yang masih buka pada pelaksanaan PSBB Kota Depok.

Sementara itu salah satu pelanggar PSBB Syaiful mengatakan pihaknya lupa tidak mengenakan masker saat berkendara mobil bak terbuka.

“Saya buru buru disuruh bos anter barang, makanya lupa engak pakai masker,”katanya.

Kepala Satpol PP Kota Depok, Lienda Ratnanurdianny menuturkan bahwa sanksi tersebut merupakan sanksi adminitrasi PSBB tahap ke tiga sesuai peraturan Walikota Depok Nomor 33 tahun 2020 dan Peraturan Gubernur Jawa Barat.

“Sanksi adminitrasinya mulai teguran, lisan tertulis hingga pencabutan izin bagi para pelaku usaha yang melanggar PSBB di Kota Depok. Kekurangan PSBB I dan II, orang masih beraktivitas di luar rumah dengan kegiatan yang tidak urgent. RW hingga RT harus di perketat. Dicegah di hulunya,”kata Lienda.

Lienda menuturkan, pihaknya tetap akan lebih dulu memberi peringatan pada pelanggar. Bagi yang masih melanggar diperingatkan. Kalau tidak diindahkan mereka harus membuat surat pernyataan tidak mengulangi kesalahannya.

“Misalnya buka toko. Nah kalau masih nekat, akan didenda administratif sesuai Pergub seperti tidak pakai masker denda Rp 100 ribu-250 ribu, buka toko denda Rp 5 juta-10 juta,” paparnya.

Selama dua pekan PSBB tahap II, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Depok mencatat ada 2.816 pelanggaran yang terjadi di tempat usaha.

“Ada 2.816, itu PSBB II dan bisa lebih karena ada tanggal yang belum dimasukan,” jelasnya.

Lienda menegaskan, peraturan tempat usaha dilarang beroperasi selama masa PSBB telah ditetapkan sejak jauh hari, terkecuali tempat usaha yang menjual makanan, layanan kesehatan, dan beberapa lainnya.

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Depok Mohammad Idris menyampaikan di masa PSBB 3, berbagai langkah yang dilakukan Pemkot Depok, diantaranya pendampingan secara pro-aktif terhadap kampung siaga sebagai basis wilayah pencegahan
dan penanganan.

“Kami akan menugaskan para Kepala OPD untuk turun langsung di seluruh kecamatan sebagai Tim Pengawas Kecamatan, dan para struktural lainnya sebagai Tim Pengawas Kelurahan,”katanya.

Tugasnya, bersama-sama Camat dan Lurah melakukan pendampingan Kampung Siaga, pemantauan kasus, penyisiran isolasi mandiri, pengawasan logistik dan JPS, dan tugas-tugas teknis lainnya.

Selanjutnya, katanya lagi, melakukan screening melalui rapid test secara massive di pasar-pasar, stasiun, check point wilayah Kelurahan Tertinggi Zona Merah, tempat ibadah dan kerumunan, dengan target 5.000 orang.

“Kami sudah menyediakan layanan isolasi di Rumah Sakit, khususnya bagi kasus konfirmasi positif yang melakukan isolasi mandiri di rumah, silakan berkoordinasi dengan Tim Pemantau dan Puskesmas setempat untuk segera digunakan,” tuturnya. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here