FKA-LPM Desak Pemkot Bongkar Kios Tak Ber IMB di Limo

43
Inilah lima kios yang berdiri di lahan eks HGB yang diduga tak miliki IMB

Limo | jurnaldepok.id
Koordinator Forum Komunikasi – Asosiasi Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (FKA-LPM) Kecamatan Limo, Risani Pattisahusiwa mengaku kecewa dengan sikap pembiaran para aparatur pemerintahan terhadap maraknya bangunan liar di lahan eks HGB 7 disejajar Jalan Raya Limo.

Dikatakatan Risani, pembiaran terhadap peraturan Daerah (Perda) IMB di lahan garapan itu tak pelak menjadi sorotan sejumlah kalangan. Pasalnya dengan status lahan garapan sudah dapat dipastikan puluhan bangunan kios dikawasan itu tidak memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB) termasuk lima unit kios yang sedang dibangun di Jalan Raya Limo Rt 07/02, Kelurahan / Kecamatan Limo.

“Kalau melihat status tanah yang dipakai, tidak memungkinkan untuk diproses perijinanan, maka bangunan itu harus dibongkar dan bukan dibiarkan, ini yang membuat saya tak mengerti dengan pola penindakan pelanggaran Perda IMB di Kota Depok, Khususnya pelanggaran yang terjadi diwilayah kecamatan Limo,” ujar Risani kepada Jurnal Depok, kemarin.

Dikatakan Risani, pasca diberitakan pada pekan silam, dirinya sempat melihat salah satu pegawai dari Dinas Perijinan yang mendatangi lokasi pembangunan lima kios tersebut, namun dirinya sangat menyesalkan hingga saat ini belum ada tindakan tegas dari aparatur, bahkan lanjut dia sampai saat ini para pekerja masih bekerja melanjutkan pembangunan lima bangunan kios tersebut.

“Sudah jelas kedudukannya, harus bangunan itu tidak mendapat toleransi, tapi nyatanya sampai hari ini, (kemari red) saya lihat bangunan itu masih dilanjutkan pekerjaannya,” imbuhnya.

Menanggapi prihal bangunan lima kios yang berdiri diatas lahan garapan di Rt 07/02, Lurah Limo, AA Abdul Khoir menegaskan tidak akan memberikan rekomendasi perijinan lantaran status lahan yang tak mungkin untuk pembuatan izin.

“Sekali lagi saya tekankan bahwa kami tidak bisa memberikan rekomendasi perijinan karena status lahannya,” ujar AA, kepada Jurnal Depok, kemarin.

Pasca diberitakan pada beberapa pekan silam, AA mengatakan sempat menerima telepon dari seseorang yang mengaku dari Dinas Perijinan yang meminta nomor pemilik bangunan, namun kata dia dirinya tidak meladeni sang penelepon gelap lantaran tahu nomor HP pejabat yang dicatut.

“Ya pasca dibertakan, ada yang nelpon saya ngaku sebagai Pak Ajat Sudrajat tapi setelah saya cek ternyata penelpon itu cuma mencatut nama Pak Ajat,” tukas AA. n Asti Ediawan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here