Digrogoti Rentenir, Warga Kecamatan Beji Kehilangan Rumah

1990
Ilustrasi

Beji | jurnaldepok.id
Anita Wulandari warga RW 14 Kelurahan Beji harus kehilanhan rumah karena terlilit hutang oleh pihak rentenir. Anita menuturkan, kejadian bermula ketika ibunya, Eni Kartini, meminjam uang kepada seorang wanita berinisial N, dengan pengajuan Rp 250 juta pada Februari 2013, lalu.

Uang sebesar itu, digunakan Eni untuk biaya pengobatan suami yang sedang sakit keras.

“Jadi awalnya ibu saya pinjam uang kepanda N untuk pengobatan ayah saya pada tahun 2013. Minjamnya Rp 250 juta, tapi disetujui Rp 130 juta dan ternyata yang diterima cuma sekira Rp 60 juta, karena Rp 70 juta dipotong bunga didepan,” ujarnya, kemarin.

Sebagai jaminan, sertifikat rumah pun digadaikan pada N. Kala itu, korban diminta untuk tanda tangan dikertas kosong dengan janji salinan dari isi surat akan diserahkan kemudian hari.

Seiring berjalannya waktu, Eni dan keluarga yang tak mampu melunasi hutang akhirnya menjual rumah pada seorang pedagang sayur, bernama Waluyo.

“Singkatnya kami jual rumah mau nebus sertifikat, kami pindah dan menutupi hutang serta mengobati ayah saya,”katanya.

Namun nahas, ketika akan menebus sertifikat, ternyata bunga hutang telah naik hingga mencapai Rp 385 juta dalam kurun waktu beberapa bulan di tahun 2013.

“Kami dua kali coba bayar tapi akhirnya enggak bisa. Dua kali itu enggak ada titik temunya,” jelasnya.

Anita menduga, N sengaja menaikan bunga dengan jumlah yang fantastis lantaran tahu rumah tersebut telah dijual pada orang lain (Waluyo).

“Jadi dia tahu, nah itu bunga dinaikin lagi,” tuturnya.

Akibat sakit yang diderita, ayah Anita akhirnya meninggal dunia, namun hutang terus membengkak. Ditengah kesedihannya itu, Anita dan keluarga pun kembali diterpa musibah.

“Ibu saya karena merasa Pak Waluyo sudah kasih Rp 610 juta, akhirnya kami keluar dari rumah. Itu itikad baik kita. Tapi ternyata setelah kami keluar, tiba-tiba N datang ke rumah, dia bilang pada Pak Waluyo kalau ini rumah dia (N),” ungkapnya.

Kaget, bercampur emosi lantaran merasa telah ditipu, Waluyo akhirnya melaporkan Eni, ibu dari Anita, ke polisi.

“Akhirnya 2015 September Pak Waluyo melaporkan ibu saya dan akhirnya ibu saya dipenjara satu tahun lebih,”katanya.

Eni sendiri saat ini telah meninggal dunia. Namun demikian, kasus itu masih terus berlanjut hinga akhirnya sejumlah pihak yang berseteru berproses di Pengadilan Negeri Depok.

Sebabnya, N bersikeras jika rumah itu adalah miliknya, namun disisi lain, Waluyo merasa telah membayar pada keluarga Anita.

“Intinya kami selama ini tidak pernah menjual rumah pada N. Kami hanya jual pada Pak Waluyo,” jelasnya.

Terkait hal itu, Anita dan Waluyo berharap ada keadilan atas kasus ini. Mereka khawatir rumah itu bakal jatuh ke tangan N. Kedua korban pun telah membuat surat terbuka untuk Presiden RI, Joko Widodo.

“Saya tidak pernah menjual rumah ini selain ke Pak Waluyo. Saya minta ke Pak Presiden untuk penegakkan hukum seadil-adilnya,” ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Waluyo yang menginginkan pengadilan memutuskan dengan sejujur-jujurnya dengan teliti.

“Karena saya rasa hakim kurang bisa memeriksa jual beli dari N. Saya mohon yang berwenang membantu, agar lebih jelas hak jual beli rumah saya,” kata Waluyo di dampingi kuasa hukumnya, Aulia Hidayat

Sementara itu, kuasa hukum Anita, Erizal berharap hakim bisa melihat kasus ini secara detial dan jeli. Sebab, dirinya menilai, Akta Jual Beli (AJB) sebagai bukti terdapat kecacatan hukum.

“Kami melihat di sini ada cacat administrasi yang harus dilihat hakim,” pungkasnya. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here