Mobil Dinas Langgar Penerapan PSBB di Depok

662
Petugas gabungan saat mengatur lalu lintas dalam penerapan PSBB

Margonda | jurnaldepok.id
Sasaran pengecekan kendaraan yang melintas di cek poin dilakukan menyeluruh. Kendaraan satu per satu dihentikan untuk diperiksa apakah sesuai ketentuan atau tidak. Pengendara yang tidak taat aturan pun ditegur dan diberi pemahaman.

Teguran diberikan tanpa terkecuali. Kendaraan dinas pun tak luput dari teguran jika melanggar.
Seperti yang terlihat di cek poin bawah kolong flyover Universitas Indonesia dari arah Jakarta menuju Jalan Margonda, Depok.

Kendaraan jenis minibus berplat merah dengan nomor polisi B 1741 WO terpaksa dihentikan karena tidak sesuai aturan. Dalam mobil terdapat penumpang duduk di samping supir

“Sopir tadi bilang yang duduk disampingnya bosnya,” kata petugas TNI dari Koramil Beji, Kodim 0508 Depok, Pelda Mansyur, kemarin.

Setelah diberi penjelasan, penumpang pun turun dan duduk di belakang. Dikatakannya bahwa aturan harus ditegakkan tanpa melihat siapapun.

“Saya bilang mohon maaf, kita jalankan perintah tolong pindah kebelakang, kan enggak capek Pak. Akhirnya dia minta maaf,” ucapnya.

Pemantauan di cek poin ini terus dilakukan selama 14 hari sejak PSBB Depok disahkan pada 15 April 2020.

Petugas gabungan dari Polri, TNI dan pemerintah kota akan ditempatkan di tiap titik cek poin.

“Kodim dalam hal PSBB ini sudah terintegrasi jadi satu bagian dalam setiap titik pantau. Semua kegiatan PSBB, Kodim tergabung jadi satu,” kata Dandim 0508/Depok Kolonel Inf Agus Isrok Mikroj.

Kapolrestro Depok, Kombes Pol Azis Andriansyah, saat memantau pelaksanaan PSSB di Jalan Margonda mengatakan, dalam Peraturan Walikota No 22 Tahun 2020 hal itu tidak diperbolehkan.

“Masih banyak tantangan, ya sosialisasi imbauan dan menyampaikan pada masyarakat bahwa Kota Depok sejak 15 April sudah ditetapkan PSBB. Untuk roda dua diharapkan tidak boncengan. Petugas masih memberikan edukasi dan pemahaman,” tandasnya.

Namun jika tetap tidak diindahkan untuk hari selanjutnya, maka akan dilakukan tindakan berupa larangan untuk masuk wilayah Depok.

“Memang masih ada yang boncengan, tapi mereka itu anggota keluarga langsung. Tetap kami imbau agar tidak berboncengan. Sekarang masih kami lakukan pemakluman, selama masih keluarga,”katanya.

Namun Jika bukan keluarga akan diturunkan.

“Jika mau ke Depok harus menjalankan protokol PSBB. Kalau tidak mau ya harus balik kanan, karena di Depok harus menjalankan PSBB,” ucapnya.

Aturan serupa juga berlaku bagi kendaraan roda empat. Jika kapasitas melebihi aturan maka akan diturunkan. Jika menolak maka kendaraan tersebut terpaksa dilarang masuk ke Depok.

“Begitu juga dengan roda empat yang seatnya lebih dari tujuh maka batas maksimal penumpang hanya empat orang saja, yaitu satu driver di depan, dua orang di tengah dan satu orang di belakang,” ungkapnya.

Diakui Azis, pada hari pertama PSBB masih banyak pengendara mobil yang duduk berdampingan.

“Lalu penumpang diminta turun dan duduk di bangku belakang,” pungkasnya. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here