Khutbah Jum’at: Ibadah Hati Melawan Korona

581
KH Syamsul Yakin

KH. DR. Syamsul Yakin, MA
Dosen Pasca Sarjana Fidik UIN Jakarta
Wakil Ketua Umum MUI Kota Depok

Kejadian Luar Biasa (KLB) yang ditimbulkan wabah korona menghentak dunia. Sungguh tak ada yang memprediksi sebelumnya. Berbagai negara dengan berbagai cara mengerahkan tenaga, teknologi dan dana untuk menghadapinya. Tak terkecuali Indonesia, nation-state yang sangat kita cinta.

Saat ini yang terbaik adalah tinggal di rumah. Berkumpul bersama keluarga kendati dalam keadaan sedikit prihatin dan harap-harap cemas. Langkah ini dipercaya efektif memutus mata rantai penyebaran korona yang masif dan pandemik. Suasana kebatinan kita saat ini sama: berharap korona segera sirna.

Sejak diumumkan pemerintah pada 2 Maret 2020, korona direspons umat Islam dengan melakukan ibadah badan dan lisan. Seperti shalat dan berdoa, Kini saatnya kita perkuat dengan ibadah hati seperti sabar, ikhlas, syukur, tawakal, dan bersangka baik. Seperti apakah ibadah hati itu?

Sejak Wuhan terjangkiti korona sekitar Nopember tahun silam kita berduka dan berempati. Namun ketika untuk pertama kalinya dua warga negara kita positif korona kita terhentak luar biasa dan serta-merta mengamankan diri. Saat ini ketika ruang gerak kita dibatasi, kita harus bersabar. Inilah ibadah hati.

Akibat langsung maupun tidak langsung yang ditimbulkan korona harus dipahami semurni-murninya bahwa situasi ini masih dalam kendali Allah SWT. Maka berjubelnya kita di rumah saat ini di tengah persediaan makanan yang harus terus ada sementara ruang gerak usaha dibatasi memerlukan satu lagi ibadah hati, yakni ikhlas.

Kendati kita tidak shalat Jumat, taklim, dan silaturahim, tapi kita syukuri saat ini kita jadi bisa lebih dekat dengan keluarga. Ibadah dan belajar bersama. Termasuk merasakan kohesi emosi yang kian kuat sehingga diharapkan menjadi modal kuat untuk membangun keluarga yang lebih baik usai korona.

Lebih jauh kalau disyukuri sebenarnya manusia kini sedang memberi jeda bagi dirinya yang kerap mencintai dunia. Memberi jeda buat laut yang setiap hari dieksplorasi tiada henti. Memberi jeda buat sungai yang setiap hari dikotori. Memberi jeda buat ozon untuk menutupi dirinya yang bolong. Yakinlah.

Saat ini kita sedang memproklamirkan diri ihwal kelemahan kita menghadapi korona yang tidak kentara tapi nyata. Buktinya kita tidak tahu korona ada di mana, kendati sering kita bilang ada di mana-mana. Maka segala macam usaha harus kita serahkan hasilnya kepada Allah SWT. Inilah ibadah hati yang bernama tawakal.

Terakhir, mari terus berprasangka baik kepada Sang Sutradara Tunggal Alam Mayapada ini bahwa tak lama lagi korona akan sirna. Ingatlah, korona ada karena ada Sang Maha Ada, yakni Allah SWT. Korona itu creatio ex nihilo bukan ada karena dirinya sendiri. Karena itu, apa susahnya bagi Allah SWT untuk membuatnya kembali tidak ada.

Wallahu ‘Alam

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here