Khutbah Jum’at: Takdir dan Ikhtiar Melawan Korona

546
KH Syamsul Yakin

KH. DR. Syamsul Yakin, MA
Dosen Pasca Sarjana Fidik UIN Jakarta
Wakil Ketua Umum MUI Kota Depok

Segala akal, daya, cipta, karya, karsa, termasuk doa dalam melawan korona adalah ikhtiar. Ikhtiar dalam hal ini juga berarti usaha dimana kita dapat memilih pendekatan, strategi, metode, dan taktik apa yang paling tepat dan cepat melawan korona.

Ikhtiar merefleksikan hamba Allah yang berhati optimis, berpikir ritmis, dan berbuat sistemis. Nyatanya memang, di mata Allah SWT, kapasitas manusia melampaui korona. Jadi pantang kita berputus asa.

Misalnya dalam menghadapi korona pemerintah memilih pendekatan struktural, strategi eksperimentasi lapangan, metode himbaun dan pengarahan, dengan taktik tetap tinggal di rumah selagi korona belum reda.

Pun Majelis Ulama Indonesia (MUI), ormas Islam seperti NU dan Mihammadiyah dapat memakai pendekatan kultural, strategi kebatinan, metode bil-hal, dengan taktik berzikir dan berdoa. Ikhtiar secara kultural ini harus senantiasa bersanding dengan ikhtiar secara struktural.

Namun setiap kali kita bicara ikhtiar kita harus berani bicara takdir. Artinya segala ikhtiar yang kita lakukan ada yang menentukan, yakni Allah SWT. Mengandalkan ikhtiar tanpa mau menyerahkan hasilnya kepada Allah itu berdampak buruk secara teologis dan psikologis.

Secara teologis, artinya Allah SWT Yang Maha Tahu tentang kesudahan segala sesuatu, dan hal ini tidak bisa diingkari. Secara psikologis, artinya seseorang akan berputus asa selamanya.

Ikhtiar mengurangi mobilitas baik karena kesadaran sendiri atau karena dipaksa pemerintah dapat dikatakan sebagai upaya melompat dari takdir ke takdir. Orang yang berpindah dari kerumunaan massa menuju rumah dan tetap tinggal di sana sejatinya sedang melompat dari takdir resiko terpapar korona kepada takdir terbebas dari korona.

Upaya yang dilakukan pemerintah dan ulama saat ini adalah mengajak masyarakat untuk memilih (ikhtiar) takdir terbebas dari korona yang trand-nya kian menanjak tajam.

Tentu tidak sama takdir Allah bagi orang yang tidak memedulikan himbauan pemerintah dengan orang yang berdoa, melakukan social distancing, cuci tangan dan menggunakan masker. Tidak etis kalau Allah memberi takdir yang sama.

Oleh karena itu mari kita pilih takdir kita.

Wallahu ‘Alam

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here