Penipu Nenek Arapah Dituntut Dua Tahun Penjara

66
Suasana sidang kasus penipuan terhadap Nenek Arapah

Kota Kembang | jurnaldepok.id
Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kota Depok menuntut terdakwa Abdul Kodir kasus penipuan terhadap nenek Arpah yang buta huruf dengan hukuman dua tahun penjara.

Dalam persidangan tersebut, salah satu Jaksa Penuntut Umum (JPU), Hengki Charles Pangaribuan menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama dua tahun. Ia menyebut terdakwa terbukti bersalah melakukan penipuan terhadap Arpah.

“Perbuatan ini sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 378 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), Jadi menurut kami, perbuatan terdakwa sudah secara sah dan meyakinkan terbukti bersalah sebagaimana dalam dakwaan pertama kami selaku penuntut umum,” katanya, Selasa (24/3).

Charles menjelaskan, dalam surat dakwaan nomor Reg. Perkara : PDM-07/DEPOK/01/2020, JPU menjerat terdakwa AKJ dengan dakwaan alternatif, yakni perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 378 KUHP atau melanggar Pasal 374 KUHP.

Sidang rencananya akan kembali digelar pekan depan dengan mendengarkan nota pembelaan dari penasehat hukum terdakwa.

Diberitakan sebelumnya, Arpah mengaku sakit hati dengan kelakuan terdakwa yang tak lain adalah tetangganya sendiri.

“Selami ini saya sudah disakiti sama Kodir (terdakwa) yang mengambil bukan hak-nya, sampai sekarang saya menjadi sering sakit, yang terasa itu dibagian paru-paru,” katanya.

Arpah membantah keras jika dirinya sempat diajak berdamai oleh terdakwa.

“Damai apaan, kalau mau damai dari dulu saja sebelum di pengadilan. Ini kan sudah ada perjanjian antara Kodir dengan anak saya tahun 2016, kalau sekarang saya tidak mau diajak berdamai sebelum sertifikat saya kembali, Saya belum tentu maafin dia juga, saya mau dia dihukum seberat-beratnya. Saya sudah banyak mengeluarkan tenaga, mundar-mandir (kesana-kemari)” tuturnya dengan raut wajah penuh kekesalan.

Sejak awal dirinya tidak pernah merasa menjual tanah ataupun rumah yang ia tempati.

“Saya tidak merasa menjual tanah 103 meter, apalagi dengan harga Rp 120 juta, itu kan semua rekayasa Kodir dan saya tidak tahu di notaris Cibinong itu isinya apa.”katanya.

Yang ia tahu, saat itu pihak notaris memintanya untuk membubuhkan cap jempol dan pulangnya Arpah dikasih uang Rp 300 ribu. Nenek buta huruf ini awalnya tidak menyangka jika itu hanyalah akal-akalan terdakwa. Peristiwa itu terjadi sekira tahun 2015 silam.

“Saya diajak kesana untuk cap jempol, saya kira itu penjualan untuk tanah 196 meter, enggak tahu ternyata itu buat tanah yang 103 meter. Saat itu saya hanya di kasih uang Rp 300 ribu,” katanya.

Arpah kini hanya bisa berharap ada keadilan atas kasus yang telah membelenggunya selama lebih dari empat tahun itu.

“Harapan saya sertifikat kembali atas nama saya (Arpah). Saya minta ganti rugi dan Kodir dihukum seberat-beratnya,” tuturnya.

Lebih lanjut Arpah mengaku, dirinya kini tak lagi percaya dengan janji-janji manis terdakwa.

“Kodir hanya janji-janji doang dan manis dibibir saja. Saya dibilang tukang bohong dan orang dzolim, padahal Kodir yang tukang bohong dan zolim kepada saya. Janji mau memberikan sertifikat tapi sampai sekarang sertifikat saya belum kembali, Saya sudah tidak percaya sama Kodir, apalagi dia berani sumpah palsu bilang demi Allah, dia tukang bohong, kalau mau mengembalikan dari dulu harusnya sertifikat dikembalikan kepada saya. Tapi nyatanya sampai sekarang sertifikat saya belum kembali” ucapnya.

Untuk diketahui, terdakwa (Kodir) tak lain adalah tetangga Arpah. Kasus ini bermula ketika Arpah diajak ke salah satu notaris di kawasan Cibinong, Bogor, beberapa tahun lalu. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here