Khutbah Jum’at: Tujuh Ribu Kebaikan Wudhu

116
KH Syamsul Yakin

KH. DR. Syamsul Yakin, MA

Dosen Pasca Sarjana Fidik UIN Jakarta
Wakil Ketua Umum MUI Kota Depok

NABI SAW bersabda, “Barangsiapa berwudhu hingga jadi suci, maka akan dibalas dengan sepuluh kebaikan”.

Syaikh Al-Hafani menuturkan bahwa barangsiapa yang berwudhu yang membuatnya jadi suci, maka ia akan dibalas dengan sepuluh wudhu. Satu wudhu itu sendiri memiliki 700 kebaikan.

Perlu diketahui, batas minimal pelipatgandaan adalah 700 kali. Hal itu lebih banyak yang difirmankan AllahSWT dalam surat Al-an’am ayat 160, “Barangsiapa yang berbuat kebaikan maka ia mendapat pahala sepuluh kali yang serupa”.

Ada yang berpendapat, wudhu itu adalah satu kebaikan, lantas dilipatgandakan jadi sepuluh kali. Lalu setiap sepuluh kebaikan dilipatgandakan dengan 700 kali (jadi ada 7.000 kebaikan wudhu).

Jadi, sudah sepantasnya bagi siapa saja untuk membiasakan diri (menjaga wudhu). Apalagi pahalanya sangat besar” (Nashaihul Ibad karya Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi hal 77).

Prof. Mahmud Syaltout dan Prof. M. Ali al-Sais dalam Muqaranah al-Madzahib fi al-Fiqh, memperkuat pandangan para ulama sebelumnya, bahwa para ahli hukum dalam yurisprudensi Islam telah sepakat mengenai membasuh muka, membasuh kedua tangan, dan kedua kaki dan mengusap kepala sebagai pekerjaan yang fardhu hukumnya dalam wudhu.

Bahkan menurut mereka, semua pekerjaan dalam wudhu tersebut harus dikerjakan secara tertib dan tidak boleh terputus atau ditangguhkan untuk sementara waktu. Seperti juga para ulama klasik dan kontemporer lainnnya, mereka mendasarkan pendapat itu pada apa yang dikatakan al-Qur’an surat al-Maidah/5: 6, yakni: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu, dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki …”).

Muhammad Ali al-Shabuni dalam Tafsir al-Ayat al-Ahkam min al-Qur’an, menulis bahwa kata “mashu” dalam ayat tentang wudhu itu, mengandung pengertian mengusap anggota-anggota yang wajib dibasuh. Di sini ada isyarat yang lembut sekali yang menunjukkan harus adanya tertib wudhu, yaitu pertama-tama membasuh muka, kemudian kedua tangan sampai siku, lalu mengusap kepala, kemudian baru membasuh kedua kaki. Inilah tertib wudhu, kendati oleh sebagian pendapat dikatakan bukan wajib, tetapi bagaimanapun tertib itu diperlukan dan dianjurkan. Tentu, bagi mereka yang hendak mengikuti petunjuk Nabi saw secara lebih sempurna dan lebih utama. Bagi Mahmud Syaltout dan M. Ali al-Sais mereka yang melakukan ini termasuk kelompok yang tercerahkan dengan akalnya.

Hanya saja penting dikemukakan di awal pembicaraan ini bahwa, dalam hadits-hasits Nabi saw bertebaran sunah yang sangat dianjurkan untuk tetap berwudhu, walaupun tidak hendak mendirikan salat, seperti yang dinyatakan dalam surat al-Maidah/5 ayat 6 di atas. Berdasarkan sunah Rasulullah saw ini, mulai generasi sahabat hingga orang-orang saleh senantiasa menjaga wudhu dalam segala aktifitasnya. Baik ketika dalam perjalanan, membaca al-Qur’an, menuntut ilmu, bekerja, ketika hendak tidur, dan kegiatan lain termasuk bersenggama dan setelah bersetubuh. Berwudhu dalam ajaran Islam, dengan demikian, termasuk ibadah yang telah mendarah dan mendaging dalam kurun yang sangat panjang..

Misalnya, bersumber dari Barra’ bin Azib, ia mengatakan bahwa Nabi saw bersabda kepadanya, “Apabila engkau hendak tidur, berwudhulah lebih dahulu seperti wudhu hendak salat. Sesudah itu berbaring ke kanan dan bacalah: ‘Ya Allah, kuserahkan diriku kepada Engkau, kuserahkan segala urusanku kepada Engkau, aku berlindung diri kepada Engkau dengan perngharapan (beroleh kebaikan) dan takut (mendapat siksa). Tidak ada tempat berlindung dan tempat mencari keselamatan, hanya kepada Engkau. Ya Allah, aku percaya denga kitab yang Engkau turunkan dan kepada Nabi yang Engkau utus’. Kalau kamu mati malam itu, maka kamu mati dalam Islam. Dan jadikanlah doa itu sebagai akhir pembicaraanmu”. (HR. Bukhari).

Pernyataan Nabi saw dalam hadits itu jelas memberikan pengertian kepada kita bahwa berwudhu bukan hanya digunakan untuk menghadap Allah dalam salat, tapi juga ketika akan tidur. Karena secara primordial, sejatinya kita itu berada dalam kesucian, dan bahkan dengan tegas kita menyatakan di alam azali bahwa kita mengakui bahwa Allah adalahTuhan kita. “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi’. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah ini (keesaan Allah)”. (QS al-A’raaf/7: 172). Jadi jelas, asal kita ini suci, dan Rasulullah saw menghendaki kalau kita mati dalam tidur, maka kita mati dalam keadaan suci (punya wudhu).

Tetapi hadits ini tidak menghendaki agar kaum muslim berdoa untuk dimatikan dalam keadaan tidur. Karena secara medis, justru malah Nabi saw mengajarkan pada saat tidur agar berbaring ke kanan. Tujuannya agar sistem kerja organ-organ yang ada di dalam perut bekerja secara optimal dan tidak terhimpit oleh hati. Termasuk juga untuk kebaikan jantung yang bekerja secara permanen, yakni memompa darah. Bayangkan, dengan keagungan Allah, jantung berdenyut 70 kali semenit atau setara dengan 100 ribu kali selama 24 jam. Kerja jantung tak pernah berhenti sejak manusia berusia 4 minggu di rahim ibu. Sejak saat itu, jantung terus-menerus memompa darah sebanyak 5 liter per menit atau setara dengan 1,5 juta gallon selama setahun. Inilah dimensi imanan dan transenden ajaran agama kita. Ranah privat seperti tidur saja, Rasulullah masih saja membimbing kita dengan penuh cinta.

Dalam hadits lain diriwayatkan, Usamah bin Zaid menceritakan, “pada suatu ketika Rasulullah saw berangkat dari Arafah untuk melakukan perjalanan. Ketika beliau sampai di sebuah jalan pada suatu bukit, beliau turun dan buang air kecil di situ. Kemudian beliau dengan sederhana saja. Saya bertanya kepada beliau, “Apakah kita akan salat, Ya Rasulullah?” Nabi saw menjawab, “Nanti, di tempat perhentian di muka”. Rasulullah menaiki kendaraannya kembali. Setelah sampai di Muzdalifah, beliau turun lagi, dan berwudhu dengan dengan sempurna. Kemudian orang qamat untuk salat Maghrib. Tiap-tiap orang menyuruh untanya berlutu (istirahat) di perhentian itu. (Tidak lama setelah itu) orang qamat pula untuk salat Isya dan langsung salat. Antara keduanya (maghrib dan Isya) Nabi tidak salat (sunah)” (HR. Bukhari).

Dalam hadits di atas, ada ungkapan “berwudhu dengan sederhana” dan “berwudhu dengan sempurna”, apa yang dimaksudkan Nabi saw dengan itu semua? Berdasarkan makna zahir hadits tersebut, ketika Nabi saw berwudhu secara sederhana, itu memberikan makna bahwa wudhu itu bukan untuk salat. Tetapi tidak boleh dipahami bahwa wudhu sederhana yang dilakukan Nabi tidak sah untuk melakukan salat, karena pada hakikatnya Nabi melengkapi semua anggota wudhu. Bedanya, wudhu secara sempurna dilakukan Nabi saw masing-masing tiga kali pada setiap anggota wudhu dan sekali saja pada wudhu sederhana. Dalam hadits tersebut sebenarnya yang ingin disampaikan adalah agar setiap muslim senantiasa dalam keadaan mempunyai wudhu, kendati tidak untuk melaksanakan salat. Dan tidak ada larangan, wudhu sederhana digunakan untuk mendirikan salat.

Bersumber dari Abu Hurairah, diriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda, “Jika salah seorang kamu bangun dari tidurnya, hendaklah ia membasuh tangannya sebelum dimasukkannya dalam bejana, karena seorang pun di antara kamu tidak tahu, di mana tangannya itu bermalam (maksudnya karena seorang tidur, maka tidak dipikirkan lagi di mana ia meletakkan tangannya)”. Bersumber dari ‘Amr bin Hazm, ia meriwayatkan, bahwa Nabi saw menetapkan: “Tidak menyentuh al-Qur’an kecuali orang yang suci”. Sebuah lagi hadits bersumber dari Umar ra, Rasulullah kepadanya berkata, “Berwudhulah, dan basuhlah alat kelaminmu, kemudian tidurlah”. Menurut Ibn Rusyd dalam Bidayah al-Mujtahid, hadits tersebut juga diriwayatkan dari Nabi saw melalui Aisyah, isteri Rasulullah. Mayoritas ahli fikih berpendapat bahwa perintah tersebut diartikan sebagai nadb (sunah).

Dalam hadits yang bersumber dari Aisyah, isteri Rasulullah, ia berkata bahwa Rasulullah saw jika sedang berjunub lalu bermaksud hendak makan atau tidur, beliau mengambil air wudhu seperti untuk salat” (HR. Bukhari-Muslim).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here