Terkait Shalat Berjamaah, Fatwa MUI Bersifat Fleksibel

209
KH Syamsul Yakin

Pancoran Mas | jurnaldepok.id
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok, KH Syamsul Yakin menilai bahwa Fatwa MUI tentang penyelenggaraan ibadah dalam situasi terjadi wabah Covid-19 bersifat fleksibel.

“Kalau dibaca isinya, fatwa MUI itu fleksibel tergantung tingkat kerawanan Covid-19. Karena itu kita sendiri yang tahu, apakah di daerah kita tinggal tidak perlu lagi Shalat Jumat, pengajian dan kegiatan ibadah lainnya. Tentu dalam hal ini kita bisa berkonsultasi dengan petugas medis, jadi semua harus terukur berdasar informasi yang akurat. Semoga pemerintah kita bisa segera mengatasi wabah ini,” ujar Syamsul kepada Jurnal Depok, Rabu (18/3).

Ia menambahkan, secara teoritis, fatwa MUI itu memberlakukan konsep shutdown bukan hanya lockdown.

“Secara literal, seperti kita pahami bersama, shutdown itu bila diibaratkan sebuah pintu adalah pintu yang ditutup tapi tidak dikunci, sehingga sesuai kondisi terkini, kita masih bisa masuk dengan berbagai pertimbangan baik medis maupun psikologis,” paparnya.

Hal ini, kata dia, berlaku bagi daerah yang tidak terpapar Covid-19 secara mengkhawatirkan.

“Sementara bagi daerah lain, yakni yang keadaan paparan Covid-19 sangat mengkhawatirkan, maka fatwa MUI bisa didekati dengan konsep lockdown, dimana diibaratkan pintu itu ditutup dan dikunci,” jelasnya.

Artinya, sambungnya, siapapun tidak boleh masuk dengan alasan apapun, kecuali ia mau menerima resiko.

“Nah, di daerah anda fatwa MUI itu bisa dimaknai secara shutdown atau lockdown, tentu anda sendiri yang lebih tahu,” pungkasnya. n Rahmat Tarmuji

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here