Tuai Kontroversi Terkait Fatwa, MUI Tak Larang Shalat Jumat Berjamaah

404
KH Encep Hidayat

Margonda | jurnaldepok.id
Dikeluarkannya Fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) terkait penyelenggaraan ibadah dalam situasi terjadi wabah Covid-19 membuat kontroversi di masyarakat. Banyak dari mereka yang beranggapan Shalat Jumat secara berjamaah pun dilarang.

Menanggapi hal itu, Ketua Komisi Fatwa MUI Kota Depok, KH Encep Hidayat berharap jangan sampai masyarakat salah presepsi terhadap fatwa tersebut.

“Jika ada suatu yang mengancam keselamatan jiwa dan tidak terkendali, maka jelas Shalat Jumat maupun Shalat Rawatib lainnya menjadi tidak dilaksanakan. Karena di dalam Islam itu menjaga keselamatan jiwa juga harus diutamakan. Shalat Jumat itu wajib, namun dalam kondisi tertentu seperti orang yang dalam keadaan sakit maupun safar kan tidak wajib Sahalat Jumat,” ujar Encep kepada Jurnal Depok, Selasa (17/3).

Sehingga, sambungnya, jika wabah sudah merajalela dan tak terkendali serta mengancam keselamatan jiwa, maka dalam kondisi tersebut seseorang bisa mengganti Sahalat Jumat dengan Shalat Zuhur di rumahnya masing-masing termasuk shalat berjamaah seperti tarawih dan lain-lain.

“Itu secara umum. Namun secara khusus jika seseorang sudah terpapar virus corona atau penyakit yang membahayakan orang lain, maka orang tersebut wajib mengisolasi dirinya dan tidak boleh berbaur dengan orang lain termasuk Shalat Jumat dan sahalat berjamaah. Karena ini akan membahayakan orang lain dan hukumnya menjadi dosa,” paparnya.

Ketika dilihat kondisinya masih terkendali dan tidak membahayakan, maka pelaksanakan ibadah dan kegiatan keagamaan lainnya masih bisa dilakukan seperti biasa.

Namun begitu, kata dia, yang menentukan bahaya atau tidak bahaya harus disampaikan oleh orang yang memiliki kapasitas dibidangnya.

“Kalau kami melihat saat ini di Depok terlebih di kawasan Bojongsari misalnya, belum (naudzubillah) sampai kepada tingkat yang sangat membahayakan. Dari itu menurut kami pengajian maupun Shalat Jumat masih bisa dilakukan secara berjamaah,” tegasnya.

Hanya saja, lanjutnya, masyarakat harus tetap mengikuti protocol atau aturan yang ditetapkan oleh para ahli semisal bersalaman, berpelukan, cium tangan, pakai masker, cuci tangan harus dilakukan dengan benar.

“Juga bisa membawa sajadah dari rumah, artinya Shalat Jumat dan sahalat jamaah lainnya masih bisa dilakukan di Depok tapi dengan secara ketat mengikuti protocol dibidang kesehatan,” ungkapnya.

Encep juga mengimbau kepada ummat Islam khususnya agar terus berdoa kepada Allah, banyak beristigfar dan memohon lindungan kepada Allah.

“Karena ini penyakit diciptakan oleh Allah SWT, kita kembalikan kepada yang menciptakannya dan bertawaqal kepadanya serta berserah diri kepada Allah tanpa mengurangi protocol yang harus dilaksanakan oleh kita semua. Jadi ada dua pendekatan, di satu sisi kita bertawaqal kepada Allah dan pendekatan manusiawi juga harus dilakukan dengan baik,” terangnya.

Dikatakannya, fatwa MUI bukan untuk menakut-nakuti tapi sebagai ikhtiar harus tetap berhati-hati, tidak boleh panik yang berlebihan namun juga tidak boleh lengah.

Dari pantauan Jurnal Depok, masjid-masjid yang ada di wilayah Depok telah melakukan bersih-bersih dan menyemprotkan cairan disinfektan ke bagian masjid seperti lantai, dinding maupun karpet. n Rahmat Tarmuji

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here