Khutbah Jum’at: Doa untuk Negeri

154
KH Syamsul Yakin

KH. DR. Syamsul Yakin, MA
Dosen Pasca Sarjana Fidik UIN Jakarta
Wakil Ketua Umum MUI Kota Depok

”Tuhanku! Jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan beri rezekilah penduduknya yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dengan buah-buahan”
QS. al-Baqarah/2: 126)

Doa di atas adalah doa Nabi Ibrahim untuk negerinya, yakni Arab. Nabi Ibrahim berharap, seperti diungkap Wahbah Zuhaili dalam Tafsir Munir, negerinya aman dan tenteram, tidak dikuasai para tiran. Selain itu, Nabi Ibrahim memohon agar dilindungi juga dari malapetaka, seperti gempa bumi dan tsunami. Termasuk, Nabi Ibrahim minta agar negerinya diberi rezeki dan buah-buahan yang terlezat dan beraneka, baik rasa maupun warnanya.

Kata al-Maraghi dalam Tafsir al-Maraghi, ada kalanya buah-buahan tersebut di tanam sendiri di tempat yang dekat. Pun didatangkan dari tempat yang jauh. Memang benar, keduanya itu telah dikabulkan Allah seperti yang bisa kita saksikan saat ini. Semua kebaikan itu berkat doa Nabi Ibrahim yang dikabulkan Allah. Mekah dan Madinah tidak bergejolak seperti kota-kota Timur Tengah lainnya. Lebih terasa lagi, saat musim haji di mana setiap jamaah haji merasa aman dan tercukupi rezeki.

Sekali lagi, tulis Sayyid Quthb dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Doa Nabi Ibrahim ini menegaskan sifat aman bagi Baitullah. Menariknya, doa Nabi Ibrahim itu hanya orang beriman yang beroleh rasa aman dan rezeki. Karena, lanjut Sayyid Quthb, tempat kembali orang yang tidak beriman adalah neraka dengan azab yang pedih. Di dunia ini mungkin hanya Mekah dan Madinah yang hanya boleh dimasuki orang beriman.

Pertanyaannya adalah mengapa di negeri kita sendiri yang mayoritas orang beriman kepada Allah SWT tapi tidak aman dan tidak terjamin rezekinya? Hamka dalam Tafsir al-Azhar, menjelaskan bahwa di dunia manusia mendapat bagian yang sama di antara mukmin dan kafir. Malah kadang-kadang rezeki yang diberikan kepada kaum kafir lebih banyak daripada yang Allah berikan kepada orang beriman itu sendiri. Mengapa demikian?

Ulama yang menulis buku tafsirnya di jeruji besi ini menjelaskan soal kebendaan belum boleh jadi ukuran. Kata Hamka, nanti di akhirat baru akan diperhitungkan di antara iman dan kufur. Orang kufur, betapapun kaya-raya dengan harta dan buah-buahan di dunia ini, tidak akan mendapatkan apapun nanti setelah datang kematian. Kaum kufur tetap akan miskin jiwa, gersang, dan kelak mereka menempati neraka. Namun bagi kaum beriman surga yang akan didapatinya.

Mengapa hanya orang beriman yang bakal beroleh rasa aman? Karena Allah sebagai al-Mukmin (Pemberi Rasa Aman) hanya memberi rasa aman kepada orang beriman. Secara bahasa ada korelasi antara iman, al-Mukmin, dan aman. Menurut Quraish Shihab dalam Menyingkap Tabir Ilahi, banyak sekali ayat al-Qur’an yang menginformasikan dihilangkannya rasa takut dari hati orang beriman. Bahkan bagi orang beriman dan beramal shaleh, Allah menukar rasa takut dengan rasa aman.

Para ulama, menurut Wahbah Zuhaili, mengeksplorasi minimal empat arti tempat yang aman. Pertama, keamanan dari azab Allah. Artinya, orang yang memasuki atau mendatangi Ka’bah sambil mengagungkannya dan mengharap pahala akan selamat dari azab. Kedua, aman dari pembalasan dendam orang lain. Hal ini sudah dipraktikkan bangsa Arab, mereka tidak menuntut dendam dari orang kafir yang datang dan berlindung di Ka’bah.

Ketiga, keamanan dari dijatuhkannya hukuman hudud baginya. Jadi, orang kafir tidak boleh dibunuh di sana. Pembunuh tidak boleh dijatuhi hukuman qishash. Pezina dan pencuri tidak boleh dikenai hukuman hudud. Menurut Wahbah Zuhaili, ini adalah pendapat Abu Hanifah dan yang lain. Keempat, negeri yang aman adalah negeri yang terjamin dari peperangan. Kini kita menyaksikan bahwa di Arab Saudi tidak terjadi peperangan seperti di negara Timur Tengah lainnya.

Saatnya kita bedoa agar negeri kita menjadi negeri yang aman atau ”baladan aaminan” seperti doa Nabi Ibrahim di atas. Yakni, negeri yang disebut Syaikh Nawawi Banten dalam Tafsir Munir, sebagai negeri yang makmur. Ulama Jawa ini berpendapat kekayaan dunia itu apabila didedikasikan untuk ibadah, maka hal tersebut termasuk rukun agama yang paling besar. Apabila negeri kita aman, maka masyarakat akan makmur dan kian tekun beribadah kepada Allah SWT.

Dalam surat al-Nahl Allah menggambarkan semua negeri yang awalnya aman lagi tenteram, berlimpah rezeki, dan kemakmuran. Mari kita jaga semua itu dengan berdoa, bekerja sama, dan sama-sama bekerja, dan berbaik sangka di antara kita. Sebuah negeri akan sengsara apabila pemimpin dan rakyatnya mengingkari nikmat yang Allah beri. Seperti mempertajam konflik baik vertikal maupun horisonal, tidak sudi berbagi, dan ingin hidup kaya sendiri. Tentu, kita tidak ingin semua ini terjadi.

Inilah firman Allah itu, ”Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah. Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat” (QS al-Nahl/16: 113). Semoga negeri yang Allah maksud bukan negeri kita, Indonesia.

Kita merasa khawatir negeri kita akan binasa bila kita terus-menerus mengingkari nikmat Allah. Sebuah negeri akan binasa bila pemimpinnya zalim. Mayoritas rakyatnya hidup memperihatinkan, bodoh, lapar, miskin dan dimiskinkan. Sedangkan sejumlah kecil rakyat kaya dan hidup mewah. Ada jurang yang dalam di antara keduanya. Padahal mereka berada di negeri yang sama dengan pemerintah yang sama dan sumber daya alam yang harusnya bisa sama-sama dinikmati bersama-sama.

Allah memperingatkan kita: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. ” (QS al Israa’/7: 16). Sekali lagi, semoga negeri yang disebut Allah dalam ayat di atas bukan Indonesia tercinta.

Mendoakan Indonesia agar menjadi negeri yang gemah ripah repeh rapih, toto-tenterem kerto raharajo adalah tanda cinta. Sejumput Doa untuk mencintai negeri tercinta, dalam sejarah telah diberikan teladannya oleh Rasulullah SAW. Inilah doanya: “Ya Allah, jadikan kami mencintai Madinah seperti cinta kami kepada Mekah, atau melebihi cinta kami pada Mekah” (HR al-Bukhari). Mari kita mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), negeri tempat kita lahir. Negeri yang dari perutnya kita makan dan kita minum.

Harapan kita, dengan mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), kita beroleh berkah tinggal dan meninggal di negeri ini. Tentu syaratnya kita terus-menerus beriman dan bertakwa tanpa pernah berdusta. Allah beri kita kabar gembira: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS al-A’raf/7: 96). Tidak kufur nikmat dan berlaku dusta adalah kunci untuk suksesnya sebuah bangsa.

Dengan berdoa kita menaruh asa kepada kepada Allah SWT bahwa ungkapan yang akrab di telinga kita ”baldatun thayyibatun” adalah Indonesia. Kendati kita pernah berbuat dosa, tapi kita yakini bahwa Allah SWT Maha Pengampun, seperti frasa: ”wa rabbun ghafuur”. Allah SWT tegaskan: “…(Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun” (QS Saba’/34:15). Tak perlu menunggu, mari kita bersatu dalam doa, memohon kepada Allah SWT agar kita bahagia dan bisa membahagiakan, hidup tenteram dan menenteramkan.

Semoga dengan berdoa bersama kita saling cinta, hilang rasa curiga, dan tidak ada lagi dusta di antara semua komponen bangsa. Saling silang pendapat dan idea hanyalah untuk memperkaya khazanah ilmu saja. Bukan untuk berpecah dan membelah-belah diri, layaknya amuba. Nabi SAW mengajarkan kita untuk menebar rasa saling cinta. Inilah pesan profetik Nabi SAW itu. Ka’ab bin ‘Iyadh bertanya, “Ya Rasulullah, apabila seorang mencintai kaumnya, apakah itu tergolong fanatisme?” Nabi SAW menjawab, “Tidak. Fanatisme adalah bila seorang mendukung kaumnya atas suatu kezaliman.” (HR. Ahmad).

Semoga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi seperti yang terurai indah dalam al-Qur’an: “Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan dengan aman” (QS[Saba’/34 : 18). Inilah surga sebuah bangsa, surga sebelum surga yang sesungguhnya.

Kita juga meminta kepada Allah SWT agar pemimpin dan rakyat di negeri ini bukan mereka yang berkarakter seperti ruwaibidhah. Seperti informasi Nabi SAW berikut ini: “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan publik” (HR. Ibnu Majah).

Terakhir, mari bersama kita aminkan sebuah doa yang terurai dengan puitis dalam al-Qur’an berikut ini: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah dan Indonesia juga), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.” (QS Ibrahim/14 :35). Amin!!!***

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here