Hadapi Corona, Masyarakat Diminta Tidak Panik

56
Aksi solidaritas yang digalang oleh DKR Depok

Margonda | jurnaldepok.id
Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Kota Depok, meminta pemerintah melindungi identitas pasien dan mantan pasien Corona dan keluarganya agar tidak dikucilkan oleh masyarakat, dan emnghimbau agar masyarakat tidak panik. Demikian disampaikan Ketua DKR Kota Depok, Roy Pangharapan dalam Aksi Damai dan Solidaritas DKR untuk pasien dan mantan pasien Corona di Kota Depok, Kamis (12/3).

“Kami meminta agar pemerintah menjaga kerahasiaan pasien dan keluarga, karena saat ini ada kasus pasien mengalami depresi setelah identitasnya dan keluarga dipublis dan diketahui masyarakat, serta kami juga meminta kepada masyarakat untuk tidak mengucilkan pasien, bahkamn menurut saya seharuskan masyarakat mendoakan supaya pasien cepat sembuh,” tegasnya.

Roy mempertanyakan program sosialisasi pemerintah kepada masyarakat, agar masyarakat menerima informasi yang benar dan tidak menciptakan ketakutan dan kepanikan.

“Harusnya pemerintah melakukan sosialisasi langsung, jangan tiap hari hanya konferensi pers melaporkan penambahan jumlah korban, tapi tidak ada pendekatan dan sosialisasi ke masyarakat. Itu hanya akan menambah ketakutan dan kepanikan masyarakat, karena ketakutan dan kepanikan masyarakat menurut saya akan menyebabkan kesalahan bersikap oleh masyarakat pada mantan pasien dan keluarga seperti yang terjadi di Depok,” ungkapnya.

Roy meminta, Pemerintah Kota Depok, perlu segera melakukan forum-forum sosialisasi ke masyarakat secara langsung, semisal kegiatan itu dilakukan di kantor walikota, atau di rumah sakit bahkan lebih baik lagi dilakukan dilingkungan RT dan RW.

“Ketua RT dan RW harus siaga di seluruh Kota Depok, siap menunggu dan memberikan sosialisasi dari pemerintah agar tidak hanya ketakutan karena penambahan jumlah pasien positif corona yang dibaca dan ditonton di media, dengan itu dilakukan maka akan tercipta situasi yang kondusip menurut saya, pungkanya.

Sebelumnya diberitakan, karena depresi identitas terpublikasi, imunitas 2 pasien corona virus terganggu. Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Achmad Yurianto yang juga juru bicara pemerintah untuk penanganan virus Corona dalam keterangan pers di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (5/3) mengatakan, keduanya belum diperbolehkan pulang dan masih harus menjalani perawatan di RSPI Sulianto Saroso.

Pasien kasus 1 dan 2 yang terinfeksi coronavirus mengalami depresi akibat identitasnya terpublikasi. Kondisi ini mempengaruhi imunitas tubuh dua warga Depok, Jawa Barat itu.

“Mereka sekarang agak depresi akibat pernah mengalami hukuman sosial yang besar akibat identitasnya terungkap. Sekarang mereka agak tertekan dengan itu dan saya katakan dari awal faktor psikologis akan berpengaruh pada status imunitas seseorang,” kata Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Coronavirus Achmad Yurianto di Istana Kepresidenan, Jakarta.

Dia menjelaskan, beban psikologis yang ditanggung keduanya membuat hasil pemeriksaan ibu dan anak itu masih dalam kondisi positif terinveksi virus bernama resmi Covid-19, meski sudah masuk hari ketujuh. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here