Status ODP di Depok Dalam Kondisi Sehat

70
ilustrasi

Margonda | jurnaldepok.id
Status Orang Dalam Pengawasan (ODP) yang diberlakukan terhadap puluhan orang di Kota Depok, terkait virus corona, kondisinya dinyakan sehat dan ada beberapa yang masih menunggu hasil laboratorium.

Walikota Depok, Mohammad Idris kepada wartawan, Jumat (6/3) mengatakan beberapa di antaranya yang dinyatakan negatif itu adalah dua pekerja yang sempat berada di rumah pasien suspect corona.

“Pertama ODP yaitu pembantu rumah tangga atau tukang kebun. Setelah ODP dinyatakan sehat dan sudah pulang kerumahnya, dan yang menyatakan sehat tentunya pihak yang kompeten kami rasa yaitu dari pihak RSPI Sulianti Saroso, Jakarta, dan saat ini kedua pekerja di rumah pasien suspect corona sudah diperbolehkan pulang,” paparnya.

Lebiha jauh Idris mengatakan, selain dua orang yang tadi ia sebutkan, pihak terkait juga masih melakukan pengawasan terhadap 76 orang.

“Sebagian besar adalah petugas atau karyawan di salah satu rumah sakit di Kota Depok, yang telah dipantau sejak, Selasa (3/3) lalu, yang awalnya dilakukan pemeriksaan terhadap 16 orang, kemudian pada, Rabu (4/3) dilakukan SWAB (pemeriksaan lendir/ludah/dahak) terhadap 43 orang, dan Kamis (5/3) dilakukan SWAB kepada 17 orang, jadi totalnya ada 76 orang dan hasilnya belum ada, semua masih dalam pantauan puskesmas sesuai wilayah masing-masing,” terangnya.

Idris juga mengaku, bahwa ada lagi satu warganya yang juga sempat dirujuk ke RSPI Sulianti Saroso, Jakarta Utara. Pria tersebut dirujuk setelah mengeluhkan sejumlah gejala usai pulang dari China.

“Sebenarnya kemarin tidak dianggap pemantauan tapi sudah pasien, gejalanya seperti itu, ternyata dari hasil lab yang bersangkutan terinveksi salah satu penyakit saluran pernafasan, akhirnya diperbolehkan pulang tapi dalam pantauan puskesmas, karena obatnya harus rutin kalau penyakit tersebut. Ini tentang beberapa orang yang menjadi tanggung jawab kami,”katanya.

Selain akan terus melakukan pengawasan terhadap sejumlah orang tadi, pemerintah Kota Depok, juga telah menyiapkan crisis center dengan nomor layanan di 112 dan 119.
Idris menambahkan, Pemkot Depok, juga menyediakan City Operation Room atau ruang pusat pengendali Kota Depok, untuk sementara berfungsi ganda sebagai crisis center penanggulangan wabah virus corona Covid-19.

“Ruangan ada di lantai lima gedung Pemerintah Kota Depok, itu dinilai ideal karena dilengkapi dengan sejumlah fasilitas penunjang berbasis digital, di ruangan itu ada delapan layar monitor yang terkoneksi langsung dengan sejumlah kamera pengawas (CCTV) di sejumlah titik di Kota Depok, lengkap dengan petugas call center yang bertugas selama 24 jam, bahkan dokter jaga juga ada di 119, itu semua layanannya 24 jam, termasuk aduan 112,” katanya.

Crisis center itu berfungsi juga untuk pendataan, terutama terkait Covid-19. Jika ada laporan warga yang diduga tertular virus corona, petugas akan menelusuri lokasinya melalui perangkat itu, kemudian dikoordinasikan dengan aparat terkait semisal Dinas Kesehatan.

Pusat pengendali itu sudah dioperasikan dalam beberapa hari terakhir dengan mempersempit ruang pengawasan berdasarkan wilayah persebaran, misal, di area salah satu rumah sakit swasta dan rumah pasien yang positif terinfeksi corona.

Idris mengatakan, semua itu dilakukan untuk mengeliminasi semua orang yang masuk dalam pengawasan, yang terindikasi atau diduga terpapar virus corona. “Kalau yang bersangkutan naik statusnya menjadi PDP (pasien dalam pengawasan), maka akan dikirim ke RSPI, RSPAD, dan RSUP.” katanya.

Pemerintah Kota Depok juga telah berkoordinasi dengan sejumlah rumah sakit di kota itu untuk dapat memberikan penanganan pertama terhadap pasien terindikasi terinfeksi corona. Ada 24 rumah sakit yang disiagakan, termasuk RSUD, RS Brimob, dan RS UI. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here