Khutbah Jum’at: Virus Korona Adalah Makhluk

919
KH Syamsul Yakin

KH. DR. Syamsul Yakin, MA
Dosen Pasca Sarjana Fidik UIN Jakarta
Wakil Ketua Umum MUI Kota Depok

Semua virus termasuk korona adalah makhluk Allah SWT. Ia tidak lebih mulia dan digdaya ketimbang manusia. Sebagai orang beriman, manakala sakit kita diminta berdoa, baik dengan cara memuji ataupun meminta.

Dalam sejarah, Nabi Ayub saat sakit ia berdoa dengan memuji Allah SWT, Inilah doanya: ”Aku betul-betul mengalami penderitaan, dan Engkau adalah yang paling pengasih”
(QS. al-Anbiya/21: 83).

Surat al-Anbiya ini sangat menarik dan menawan hati orang membacanya. Dalam Tafsir Munir, Wahbah Zuhaili, memberi informasi bahwa setelah Allah menuturkan kisah lima nabi, yakni Nabi Ibrahim, Nabi Luth, Nabi Nuh, Nabi Daud, dan Nabi Sulaiman serta berbagai cobaan yang menimpa mereka dalam berdakwah kepada Allah SWT, Allah SWT juga menuturkan kisah Nabi Ayyub dan cobaan yang menimpa dirinya dan keluarganya. Mereka (para nabi) semua benar-benar tabah dan sabar menghadapi cobaan, dan bersyukur kepada Allah SWT setelah hilangnya cobaan tersebut, termasuk kemenangan mereka atas kaum yang durhaka kepada Allah SWT.

Ayat di atas adalah doa Nabi Ayyub. Nabi Ayyub adalah salah seorang dari para nabi yang terkenal kesabarannya. Karena hal itu, ia menjadi bahan pembicaraan semua orang. Termasuk kita, generasi saat ini, yang ingin belajar bersabar dengan terus berobat dan berdoa kepada Allah Sang Penyembuh manakala kita dirundung sakit. Kita meyakini bahwa penyakit itu sejatinya adalah makhluk yang tidak lebih mulia dari kita. Saatnya, kita belajar kepada Nabi Ayyub untuk mengalahkan dominasi makhluk tersebut. Sebab, dialah sang nabi yang mengalami penderitaan namun tetap meyakini Allah adalah yang paling pengasih. Terbukti, dengan keyakinan itu, Nabi Ayyub sembuh.

Bagi Nabi Ayyub, sakitnya jadi dakwah. Manusia belajar darinya, ikut memanjatkan doa, ”Aku betul-betul mengalami penderitaan, dan Engkau adalah yang paling pengasih” (QS. al-Anbiya/21: 83).

Apakah al-Dhurru dalam ayat di atas? Menurut Wahbah Zuahili, ia satu akar kata dengan kemudharatan. Artinya kepayahan berupa sakit dan kurusnya badan. Adapun derivasi (bentuk lain) kata ini, yakni al-Dhurar, adalah hal yang tidak baik dalam bentuk apapun. Namun, kata Wahbah Zuhaili, al-Dhurru, khusus untuk penyakit dan kekurusan yang menimpa badan. Berbeda dengan al-Dhurar, ia lebih bersifat umum untuk setiap bentuk kemudharatan dan kepayahan. Namun, bisa kita pahami, karena kedua kata tersebut satu akar kata, yakni al-Dhurru dan al-Dhurar, maka penyakit (al-Dhurru) dapat merambah kepada berbagai bentuk al-Dhurar yang menyengsarakan. Namun bagi orang beriman, tabah, sabar, dan senantiasa memuji Allah adalah kunci kesembuhan.

Inilah yang telah diperagakan Nabi Ayyub agar kita mengikutinya ketika kita sakit. Beliau mengucapkan, wa anta arhamurrahimin. Di sini, kata Wahbah Zuahili, Nabi Ayyub menyebut nama Tuhannya dengan Zat Yang Maha Belas Kasih. Sebelumnya, ia dengan sungguh-sungguh menyebut keadaan dirinya dengan kata-kata yang menggugah rasa belas kasihan. Inilah salah satu etika komunikasi doa yang ditampilkan Nabi Ayyub. Ia hanya mengutarakan keadaan dirinya yang sakit, tanpa menyebutkan permintaannya. Nabi Ayyub mengajarkan kesantunan dan kelembutan saat meminta. Mengapa demikian? Karena ketika kita berdoa sejatinya kita sedang beribadah. Bahkan ”doa adalah inti ibadah”. Ibadah adalah bentuk penghambaan tertinggi makhluk kepada Sang Khalik yang dapat mengundang Rahman dan Rahim-Nya. Karena itu, Nabi Ayyub mengatakan wa anta arhamurrahimin. Dengan itu, Nabi Ayyub Allah sembuhkan.

Syaikh Thabarsi dalam Majma’ al-Bayan, menyebut model komunikasi doa yang dipanjatkan Nabi Ayyub sebagai, ”sebuah metafora lembut bagi para pencari hajat”.

Benarkah doa adalah inti ibadah? Kita tentu harus menjawab, ”benar!”. Inilah dahsyatnya doa sebagaimana Nabi SAW katakan, tak ada yang dapat menolak qadha (ketentan Allah) selain doa, dan tidak ada yang dapat menambah umur selain kebaikan” (HR. Tirmidzi). Lalu, ”Tak ada yang lebih mulia bagi Allah melebihi doa” (HR. Tirmidzi). Begitu juga, ”Siapa tidak meminta (berdoa) kepada Allah. Dia murka kepadanya” (HR al-Tirmidzi). Termasuk, ”Siapa yang dibukakan satu pintu doa, dibukalah untuknya pintu-pintu pengabulan (lainnya)” (HR. Ibnu Abi Syaibah). Nabi SAW pertegas lagi, ”Jangan lemah dalam berdoa. Tak ada orang yang binasa karena doa” (HR. Ibnu Hibban).

Kita jadi ingin bertanya, siapakah sebenarnya Nabi Ayyub itu? Dalam tafsir The Holy Qur’an, Abdullah Yusuf Ali menyebut Nabi Ayyub sebagai orang yang kaya akan iman yang teguh kepada Allah. Ia tinggal di suatu tempat di timur laut pedalaman jazirah Arab. Ia mengalami berbagai macam penderitaan: ternak pengikutnya dibantai dengan pedang dan keluarganya binasa di bawah rerutuhan atap rumahnya. Tetapi ia masih tetap kuat beriman kepada Allah. Sebagai malapetaka selanjutnya, seluruh tubuhnya tertutup oleh penyakit yang menjijikkan, dari kepala sampai kaki. Teman-temannya yang tidak jujur datang dan menghubungkan penderitannya itu dengan dosa. ”Para penghibur Nabi Ayyub” itu sama sekali bukan penghibur. Selanjutnya ia kehilangan keseimbangan pikirannya. Namun Allah mengingatkannya kembali akan segala rahmat-Nya, dan dia pun mulai kembali berendah hati dan berserah diri.

Inilah ayat dalam al-Qur’an yang dianggap menunjukkan hal itu, ”Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kapayahan dan siksaan” (QS. Shaad/38: 41).

Dia kembali, lanjut Abdullah Yusuf Ali, ke dalam hidup yang makmur, dengan kekayaan yang berlipat ganda dari sebelumnya. Saudara-saudaranya dan juga teman-temannya kembali datang kepadanya. Nabi Ayyub mempunyai keluarga baru dengan tujuh putra dan tiga putri. Nabi Ayyub hidup senang hingga usia lanjut. Bahkan dapat menyaksikan keempat generasi keturunannya. Nabi Ayyub adalah teladan tentang rendah hati, sabar dan iman yang teguh kepada Allah. Ada informasi, seperti disampaikan Muhsin Labib dalam karyanya Kamus Doa, bahwa putra-putra Nabi Ayyub yang meninggal dunia pada saat ujian terjadi, Allah menghidupkan mereka kembali. Inilah buah sabar, buah iman. Ini bukan mitos atau legenda tapi ini nyata dan hanya bisa dimengerti oleh orang yang teguh imannya kepada Allah SWT.

Dalam pangkal ayat 40 surat al-Anbiya di atas, Allah berfirman, ”Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru kepada Tuhannya”. Menurut Syaikh al-Syanqithi dalam karyanya Tafsir Adhwa’ al-Bayan, ayat ini menunjukkan bahwa Allah memerintahkan Nabi Muhmmad SAW agar mengingat Nabi Ayyub ketika ia berdoa kepada Tuhannya. Jadi, dapat dipahami berdoa dengan doa Nabi Ayyub juga adalah sunah karena Nabi Muhammad SAW melakukannya. Di samping itu, kata Syaikh al-Syanqithi, Allah juga memerintahkan kepada Nabi SAW agar mengingat bahwa Tuhan Nabi Ayyub telah memperkenankan seruannya, melenyapkan penyakit yang ada padanya, mengembalikan keluarganya kepadanya, dan melipatgandakan bilagan mereka sebagai suatu rahmat dari Allah SWT.

Allah berfirman, ”Dan kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS. Shad /38: 43). Tentu, ini harus juga diteladani oleh kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW.

Sanggupkah kita ketika sakit segera menyeru Allah seperti Nabi Ayyub? Sebab, seperti dikatakana Syaikh al-Syanqithi, penyakit yang menimpa Nabi Ayyub itu membuatnya menyeru kepada Allah. Ketika Allah hendak menghilangkan penyakit itu dari Nabi Ayyub, Allah memerintahkannya agar menghantam kakinya, dan Nabi Ayyub melakukannya. Ketika itulah terpancar mata air untuknya, kemudian ia mandi dari air mata air tersebut sehingga hilanglah semua penyakit yang ada di bagian luar tubuhnya. Kemudian dia minum dari air mata air tersebut sehingga hilanglah semua penyakit yang ada di dalam tubuhnya. Inilah petunjuk Allah kepada Nabi Ayyub itu, ”(Allah berfirman), ’Hantamkanlah kakimu! Inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum” (QS. Shad/38: 42).

Serangkaian kisah Nabi Ayyub di atas, diceritakan pula oleh Nabi SAW dalam sebuah hadits yang bersumber dari Anas Ibnu Malik. Nabi SAW bersabda, ”Nabi Ayyub mendapat ujian selama delapan belas tahun. Semua orang, baik yang dekat maupun yang jauh, menjauhinya, kecuali dua orang saudaranya yang sangat istimewa baginya. Mereka selalu datang untuk membesuk. Salah satunya berkata kepada yang lain, ’Allah mengetahui bahwa Ayyub telah melakukan dosa yang tidak pernah dilakukan oleh siapapun di dunia’. ’Apa itu?’, tanya temannya. Ia menjawab, ’Sudah delapan belas tahun Allah tidak memberikan rahmat kepadanya’.

Ketika keduanya datang ke tempat Nabi Ayyub di waktu petang, orang itu tidak sabar untuk mengutarakan pertanyaannya tentang dosa yang dilakukan Nabi Ayyub. Nabi Ayyub berkata, ”Aku tidak mengerti apa yang kalian katakan. Hanya saja, Allah mengetahui, aku bertemu dua orang yang berdebat dengan menyebut nama Allah. Maka, aku kembali ke rumahku dan membayarkan kafarah untuk sumpah mereka karena aku tidak ingin mereka menyebut nama Allah selain untuk kebenaran’.

Jika Nabi Ayyub keluar rumah untuk keperluan tertentu, ia dituntun oleh isterinya sampai pulang. Namun, pada suatu hari isterinya datang terlambat. Kemudian Allah mewahyukan kepada Nabi Ayyub yang sedang berada di tempatnya, ’Hantamkanlah kakimu! Inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum’. Sang isteri kemudian datang kepada Nabi Ayyub, dan ketika itu Allah telah melenyapkan penyakitnya. Ia menjadi orang yang sangat tampan hingga isterinya tidak mengenalinya. Saat itulah isterinya berkata, ’Semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu. Apakah engkau melihat nabi Alah yang sedang mendapat ujian? Demi Allah, engkau sangat mirip dengannya saat ia sehat’. Nabi Ayyub menjawab, ’Akulah orang yang kamu cari’.

Nabi Ayyub memiliki dua tumpukan, yakni tumpukan terigu dan tumpukan gandum. Kemudian Allah mengirim dua awan. Ketika salah satu awan berada di atas tumpukan terigu, seketika terigu itu berubah menjadi tumpukan emas. Lalu, ketika awan satunya berada di atas tumpukan gandum, seketika gandum itu menjadi tumpukan perak’ (HR. al-Hakim dan Ibnu Hibban).

Terakhir, jika kini kita sakit, mari kita berdoa dengan doa Nabi Ayyub di atas, ”Aku betul-betul mengalami penderitaan, dan Engkau adalah yang paling pengasih”
(QS. al-Anbiya/21: 83). Amin!***

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here