Tiga Dinas Kompak ‘Larang’ Siswa Rayakan Hari Valentine

87
ilustrasi

Margonda | jurnaldepok.id
Siswa di Kota Depok dilarang untuk merayakan Hari Valentine atau hari kasih sayang yang diperingati setiap tanggal 14 Februari. Setidaknya ada tiga dinas yang mengeluarkan surat ‘larangan’ itu yakni Dinas Pendidikan, DPAPMK dan Disporyata.

Larangan ini disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, Mohammad Thamrin, melalui Surat Edaran Dinas Pendidikan Kota Depok dengan nomor 421/937/11/Peb.SMP/2020.

Ada beberapa alasan sehingga pihaknya melarang kalangan pelajar di Kota Depok merayakan Valentine.

“Hari Valentine adalah hal yang bertentangan dengan norma agama, sosial dan budaya Indonesia. Itu bukan budaya kita,” ujarnya, kemarin.

Khusus di Kota Depok, kata Thamrin, Hari Valentine juga tidak sesuai dengan visi misi kota yang unggul, nyaman dan religius.

“Kami meminta agar setiap siswa di Kota Depok tidak turut merayakan Hari Valentine, baik di dalam maupun luar sekolah. Larangan ini juga sudah kami sampaikan kepada para kepala sekolah,” paparnya.

Thamrin menjelaskan, selama ini sikap pihak sekolah terhadap pelajar dalam hal kasih sayang, saling tolong menolong, saling hormat menghormati sudah ditanamkan melalui program pembiasaan penguatan pendidikan karakter di seluruh sekolah setiap harinya.

“Contohnya penyambutan siswa di pagi hari di lingkungan sekolah. Dari pada merayakan Hari Valentine lebih baik anak didik dikuatkan dengan karakter, kepribadian dan pengenalan budaya bangsa sendiri,” terangnya.

Anggota Komisi D DPRD Depok, Rezky M Noor menyambut baik adanya surat edaran Dinas Pendidikan yang mengimbau para siswa di Kota Depok tidak memperingati Hari Valentine yang jatuh pada, Jumat (14/2).

“Kami imbau kepada adik-adik siswa jangan merayakan hari kasih sayang yang berlebihan karena tidak sesuai dengan norma yang berlaku di Indonesia. Siswa jangan sampai terganggu kegiatan belajarnya dan mereka harus bisa memilih dan memilah budaya asing yang masuk ke Indonesia, mana yang baik dan mana yang tidak baik,” tandasnya.

Dia menambahkan, guru maupun orang tua harus terus mengedukasi kepada siswa mengenai Valentine Day. Pasalnya, perayaan tersebut bukan budaya yang lahir di Indonesia dan Kota Depok yang religius.

Ia menerangkan, tidak ada yang salah terkait kasih sayang, akan tetapi hari kasih sayang harus betul-betul lahir dan tumbuh dari niat yang suci dan mengikuti norma agama.

“Saya berharap juga komite sekolah dan orang tua menegaskan di rumah, anak-anak tidak usah merayakan hari kasih sayang,” katanya.

Sementara itu Wakil Wali Kota Depok, Pradi Supriatna juga mengimbau warganya terutama para remaja agar tak berlebihan dalam merayakan Valentine’s Day dikarenakan perayaan tersebut bukanlah budaya Indonesia.

Menurutnya, ungkapan perasaan kasih sayang tidak harus diungkapkan dalam waktu-waktu tertentu.

“Yang namanya kasih sayang kan setiap hari. Kasih sayang sama orang tua, keluarga, sama kakak, sama ibu, sama ayah, sama teman, sama rekan. Boleh-boleh saja, tetapi kembali lagi yang tadi, apakah memang yang demikian budaya kita atau bukan,” pungkasnya. n Aji Hendro

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here