Paguyuban Kelurahan Bojongsari Maksimalkan Lubang Biopori Dan Nabung Air Hujan

13
Paguyuban Kelurahan Bojongsari foto bersama usai acara sosialisasi

Laporan: Rahmat Tarmuji
Paguyuban Kelurahan Bojongsari bersama Kelurahan Bojongsari, LPM, Karang Taruna serta Relawan Shaber Punglhi kini sedang gencar melakukan sosialisasi lubang biopori.

Ketua Paguyuban RT RW Kelurahan Bojongsari, Daud Sulaiman mengatakan musim hujan seperti sekarang ini merupakan saat yang tepat untuk membuat lubang biopori.

“Karena keberadaan lubang bisa menjadi tempat penampungan cadangan air saat hujan turun, sesuai dengan istilahnya menabung air saat musim penghujan memanen air saat kemarau,” ujar Daud kepada Jurnal Depok, kemarin.

Daud menambahkan, saat ini ada wilayah di Kelurahan Bojongsari yang ketika hujan turun sering terjadi banjir. Dirinya berharap mudah-mudahan dengan adanya lubang biopori bisa meminimalisir keadaan tersebut.

“Lubang biopori yang disosialisasikan adalah Bipar (Biopori Paralon) atau Biber (Biopori Ember). Fungsi Bipar dan Biber adalah sama, hanya saja yang membedakan adalah diameter lubangnya,” paparnya.

Adapun kehadiran lubang biopori di masyarakat, sambungnya, juga bisa difungsikan sebagai tempat penampungan sampah organik termasuk dedaunan kering. Hal ini sejalan dengan program Depok Zero Waste City

“Kami berharap sampah-sampah organik tidak ada yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir Cipayung apalagi dibakar. Sampah organik diproses untuk menghasilkan kompos dan cara sederhananya adalah dengan memasukkan sampah organik tadi ke lubang biopori,” ungkapnya.

Sehingga, kata dia, permasalahan sampah tertangani, tanah pun menjadi subur dan ini juga sinergi dengan pemanfaatan pupuk kompos.

“Ini potensi yang ada di masyarakat Bojongsari yaitu tanaman hias dan KRPL Posyandu yang ada di masing-masing lingkungan RW,” pungkasnya. n

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here